logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 08 Desember 2007 WACANA
Line

Mengukur Kinerja Guru

  • Oleh Ch Dwi Anugrah

TIDAK bisa dinafikan, gaya guru dengan mengajar yang membosankan sering terjadi saat ia berdiri di depan peserta didiknya. Hal itu disebabkan oleh karena guru tidak pernah mengevaluasi proses pembelajarannya yang sudah diimplementasikan. Dampaknya, peserta didik tidak dapat konsentrasi, kemudian merasa jenuh, sebal, bahkan membuat ulah dan bikin gaduh. Kalaupun tampak mendengarkan, itu disebabkan karena faktor lain, yaitu ketakutan. Akibatnya, proses pembelajaran pun tidak dapat optimal.

Karena itu, guru perlu mengevaluasi proses pembelajaranya di kelas. Salah satu kiatnya, guru perlu melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) yang merupakan jalan efektif untuk melakukan evaluasi dari kinerja yang telah dilakukan.

Penelitian Internal

Pada dasarnya PTK atau sering disebut dengan terminologi Classroom Action Research (CAR) adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas atau di satuan pendidikan tempat mengajar dengan aksentuasi pada penyempurnaan atau peningkatan praktik dan proses dalam pembelajaran.

Dalam PTK guru dapat melakukan penelitian internal terhadap proses pembelajaran di kelas atau juga secara kolaboratif dengan guru dan peneliti lain. Tindakan dan pengamatan dalam PTK yang dilakukan tersebut tidak boleh mengganggu atau menghambat aktivitas seorang guru, yaitu tidak boleh mengorbankan kegiatan dalam proses pembelajaran.

Tujuan mendasar dari PTK adalah untuk perbaikan dan peningkatan kualitas proses pembelajaran di kelas. PTK juga bertujuan untuk mendapatkan pengalaman keterampilan praktik dalam proses pembelajaran secara reflektif, dan bukan untuk mendapatkan ilmu baru.

Prosedur Penelitian

Dalam aplikasinya, PTK merupakan tindakan bermakna melalui prosedur penelitian yang mencakup beberapa langkah. Di antaranya, merumuskan masalah dan merencanakan tindakan (planning), melaksanakan tindakan (acting), pengamatan (observing), dan merefleksikan (reflecting) resultansi pengamatan.

Empat langkah utama yang saling berkaitan itu, dalam implementasi PTK sering disebut dengan satu siklus. Dalam tahap perencanaan, diperlukan komponen identifikasi masalah. Untuk itu, di dalam identifikasi masalah perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu pertama, masalah harus benar-benar terjadi dan dirasakan oleh guru pada saat melaksanakan tugas. Kedua, masalah perlu dipecahkan berkaitan langsung dengan tanggung jawab, kewenangan, dan tugas.

Ketiga, memiliki manfaat yang jelas. Implikasinya pemecahan masalah yang dilakukan akan dapat memberi manfaat eksplisit bagi peserta didik dan guru karena ada kemungkinan kalau masalah tidak segera diatasi akan mengganggu proses penguasaan kompetensi berikutnya dalam proses pembelajaran yang mempunyai sifat berkesinambungan.

Observasi dan Refleksi

Pada prinsipnya aktivitas observasi atau pengamatan dalam PTK dilakukan untuk mengetahui dan memperoleh gambaran lengkap secara objektif tentang elaborasi proses pembelajaran dan pengamatan dari tindakan yang dipilih terhadap kondisi kelas dalam bentuk data. Atau dapat dikatakan sebagai aktivitas merekam informasi dampak dari implementasi tindakan, baik dengan maupun tanpa alat bantu.

Data yang sudah terkompilasi melalui pengamatan itu meliputi data kuntitatif dan kualitatif sesuai dengan indikator-indikator yang telah ditetapkan. Kegiatan pengambilan data dapat dilakukan dengan cara observasi non-tes, wawancara non-tes, angket non-tes, jurnal (catatan harian peserta didik), dokumentasi, dan nilai ulangan (tes) atau penilaian hasil tugas dari guru lain yang sejenis.

Pascakegitan observasi, perlu dilakukan tindakan refleksi sebagai evaluasi guru dan tim pengamat lain dalam PTK. Refleksi dilakukan dengan cara berdiskusi mengenai berbagai masalah yang muncul di kelas, yang diperoleh dari analisis data sebagai ikon dari pengaruh tindakan yang telah dirancang.

Pada kegiatan refleksi itu juga ditelaah aspek-aspek mengapa, bagaimana, dan sejauh mana, tindakan yang dilakukan mampu memperbaiki masalah secara bermakna. Melalui refleksi, peneliti akan menentukan keputusan untuk melakukan siklus lanjutan ataukah berhenti karena masalahnya telah terpecahkan.

Pada akhirnya, dengan PTK guru bisa mengukur kinerjanya dan selalu menyadari keterbatasan dirinya, sehingga ia terus belajar mengelaborasikan potensi diri, kreativitas, dan komitmennya terhadap pengembangan profesinya. (68)

--- Ch Dwi Anugrah, pendamping Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA