| Sabtu, 08 Desember 2007 | NASIONAL |
KRIMINALITASAnak Piatu Dianiaya Pembantu dan Baby SitterPenganiayaan anak di bawah umur terjadi di Semarang. Korban LA (4), tinggal di Jl Ngesrep Barat I No 57 Tinjomoyo Banyumanik. Pelaku adalah Junaedah (30) dan Ph (16). Pembantu dan baby sitter itu kini ditahan polisi. Bagaimana perbuatan itu terjadi, berikut laporannya. SEJAK ibunya, Lusyane, meninggal sekitar dua tahun lalu, bocah yang duduk di bangku TK di sebuah sekolah di Banyumanik itu tak mendapatkan kasih sayang lagi. Apalagi ayahnya, Maryanto, juga tidak pernah berada di rumah dan lebih sering tinggal di Jakarta. LA tinggal di rumah bersama seorang pembantu dan seorang baby sitter. Ironisnya lagi, kedua orang itu bukannya menjaga dan memberikan kasih sayang pada anak piatu itu, melainkan justru mencelakainya. Dosa apakah anak itu ? Sejak tiga bulan terakhir, LA sering dianiaya Junaedah (30) pembantu yang berasal dari Weleri, Kendal dan baby sitter Ph (16), berasal dari Purwodadi, Grobogan. Keduanya menganiaya korban hingga jari tangannya memar dan berdarah, karena dipukuli dengan sapu lidi. Tak hanya itu, wanita pembantu itu juga menampar pipi kanan dan kiri anak majikannya itu, lalu menjambak rambutnya, dan membenturkan kepalanya ke tiang hingga dua kali. Telinga kiri LA pun lebam akibat dipukuli dengan sepatu pembantu tersebut. Bukan itu saja, Junaedah juga memukul alat vital LA dengan tangan kosong hingga memar. Baby sitter juga ikut terbawa emosi dengan ulah wanita asal Kendal itu. Wanita yang telah bekerja dua tahun itu mencubit alat vital LA hingga luka. Penganiayaan tersebut sudah dilakukan kedua pembantu tersebut sejak Oktober lalu. Guru Curiga Akibat perbuatannya tersebut, mereka kini mendekam di tahanan Mapolresta Semarang Selatan. Kapolresta AKBP Drs Imran Yunus MH menyatakan, penganiayaan diketahui kali pertama oleh guru LA. "Sebenarnya gurunya sudah lama tahu, tapi setiap kali ditanya kenapa ada bekas luka-luka, dia tidak mau mengaku," kata Kapolresta didampingi Kasat Reskrim AKP Khundori SH. Selasa (4/12) lalu sang guru merasa curiga, karena LA mengaku merasa sakit ketika hendak buang air kecil. Sang guru kemudian menemani gadis itu ke kamar kecil. Betapa kagetnya mendapati air kencing muridnya bercampur darah. Ketika diperiksa, di sekitar alat vital LA ternyata terdapat luka-luka. "Setelah ditanyai oleh ibu guru itu, LA akhirnya mengakui telah dianiaya kedua pembantunya," tutur Kapolresta. Guru itu kemudian memfoto luka-luka yang ada di tubuh LA, sebelum akhirnya membawanya ke RS Banyumanik. Karena tidak juga bisa menghubungi ayah korban, pihak sekolah melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Semarang Selatan. Kini, kasus itu ditangani secara intensif Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA). Kepada wartawan, Ph mengaku mencubit alat vital LA karena jengkel gadis itu sering ngompol. Sedangkan Junaedah menyatakan memukuli karena anak majikannya tersebut nakal. "Saya tampar, karena dia susah sekali kalau disuruh minum susu," tuturnya. Kepada petugas, Junaedah mengakui memiliki hubungan "khusus" dengan Maryanto. Apakah hubungan tersebut yang menyebabkan dia tega menganiaya LA? Polisi kini masih menyelidiki alasan wanita itu tega menganiaya seorang balita. (Saptono JS-46) |