| Sabtu, 08 Desember 2007 | NASIONAL |
Suryo Manusia Tercepat
NAKHON RATCHASIMA- Tangis haru kontingen Indonesia, kemarin, pecah di lintasan atletik Stadion Utama 80 Tahun Yang Mulia Raja Bhumibol Adulyadej, Nakhon Ratchasima, Thailand. Tangis kebahagiaan menyambut menetasnya "telur" medali emas Indonesia. Setelah lebih dari 40 medali emas terdistribusikan selama 12 hari pertandingan dan tak satu pun yang masuk ke kantong Indonesia, Jumat (7/12) kemarin sprinter asal Solo, Suryo Agung Wibowo, mempersembahkannya. Suryo menjadi manusia tercepat Asia Tenggara sekaligus menjadi peraih emas pertama tim Merah Putih setelah memastikan diri sebagai yang terbaik dalam nomor lari 100 m putra. Dia dengan amat meyakinkan mematahkan harapan tuan rumah, Wacharra Sondee, dan andalan Malaysia, Hadi Mohammad Noor Imran, serta rekan sepelatnasnya, John Herman Murray. Suryo membukukan waktu 10,25 detik. Sementara sprinter tuan rumah Wachara mencatat waktu 10,33 detik untuk meraih emas. Perunggu menjadi milik Hadi dengan waktu 10,54 detik. "Saya senang, sangat senang. Ini seperti meraih impian. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur," kata alumnus jurusan Ilmu Kepelatihan Olahraga FIK Universitas Negeri Semarang itu berkali-kali. Atlet kelahiran Solo, 8 Oktober 1983, yang dua tahun lalu di SEA Games Manila mempersembahkan medali perunggu tersebut tak kuasa menahan air matanya. Suaranya terbata-bata saat memberikan keterangan pers di lintasan atletik sesaat setelah dia dipastikan sebagai yang tercepat. "Ini untuk Indonesia, untuk istri tercinta saya Astati Anjarwani dan anak saya Salwa Az Zahra," ujarnya. Tanda-tanda keperkasaan Suryo sudah terlihat sejak dari awal. Di babak kualifikasi, dia menjadi yang tercepat dan sudah menyisihkan Sondee yang berada satu heat denganya. "Selisih catatan waktu antarpelari di SEA Games amat ketat. Jadi, siapa yang lebih siap, itulah yang akan menang. Hari ini saya memulai lomba dengan sangat optimistis. Saya berusaha keras, berlatih keras, dan terus berdoa agar berhasil. Alhamdulillah saya mencapainya," katanya. Tiket Dosen Begitu dipastikan merebut emas, Suryo Agung segera meminta bendera Merah Putih, membawa berlari mengitari stadion. Setelah itu, dia menuju ruang ruang ganti untuk pemeriksaan doping. Peluh masih membasahi wajahnya. Kepala dan punggungnya terus dipijat oleh Robert Balard, pelatihnya asal Australia. Balard menyatakan puas dengan pencapaian prestasi tersebut. Suryo Agung pun menyelamatkan muka Indonesia. Atlet yang berkeinginan menjadi dosen di Unnes itu juga memecahkan rekor SEA Games. Ayah Salwa itu mencatat waktu 10,25 detik atau lebih cepat 0,01 detik dari rekor sebelumnya atas nama atlet Thailand Reanchai Seaharwong (10,26) yang dibuat pada SEA Games 1999. Medali Suryo adalah pelipur lara kubu Indonesia yang selalu dibalut duka sejak perburuan medali dimulai 11 hari lalu. "Saya merasa yakin bisa meraih medali saat semifinal. Waktunya sudah 10,30 detik. Putaran final saya harus fight. Ini menjadi kenyataan. Semoga medali ini menjadi tiket saya untuk menjadi dosen di Unnes. Saya juga nazar mau pergi haji," terang Suryo kepada Suara Merdeka. Selain emas, kontingen Indonesia di lintasan atletik kemarin juga sukses meraih dua perak lewat Zulkarnaen Purba di nomor 200 m gawang putra serta Rini Budiarti di nomor lari 1.500 m putri. Purba pada nomor tersebut mencatat waktu 51,29 detik. Medali emas dan perunggu direbut pelari Thailand, Kuttiyawan Apisit dan Porkumt Teraporn. Sedangkan emas 1.500 m putri disambar pelari Vietnam Hang Troung Thunk dengan catatan waktu 4 menit 11,60 detik. Rini hanya mencatat waktu 4 menit 19,99 detik. Keberhasilan Suryo tak diikuti oleh Irene Truitje Joseph di nomor 100 m putri. Sprinter putri Indonesia ini hanya meraih perunggu. (*-40) | ||||