logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 08 Desember 2007 SEMARANG
Line

Ki Suripto, Perajin Gamelan sejak 1939

TIDAK ada yang mengira jika di RT 5 RW 2 Desa Sumogawe Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang sejak tahun 1939 berdiri sebuah usaha yang cukup unik, yakni kerajinan gamelan yang digarap oleh Ki Suripto (80). Konsumennya tidak hanya di sekitar Jateng saja, melainkan hingga ke Sumatera dan Kalimantan.

Sudah puluhan hingga ratusan gamelan yang dibuatnya dan kini masih tetap dipertahankan oleh bapak tiga orang putra tersebut, sebagai bagian dari pelestarian budaya bangsa.

Ilmu membuat gamelan pun terhitung unik, belajar ketika ada rombongan tayuban asal Wonogiri singgah dan pentas di Sumogawe.

''Pembuatan gamelan ini saya mulai sejak tahun 1939. Waktu itu, disini ada kumpulan ketoprak yang sering pentas. Namun kumpulan tersebut tidak punya gamelan untuk mengiringi pertunjukan itu,'' terangnya.

Oleh karenanya, setiap kali mau mengadakan pertunjukan, mereka selalu pinjam gamelan. Karena terlalu sering meminjam, akhirnya yang memberi pinjaman juga bosan.

''Waktu itu hati saya merasa terketuk ketika disindir pemilik gamelan yang mengatakan masak kumpulan ketoprak tidak punya gamelan,'' ucapnya.

Dari situ, ia mulai mencoba belajar membuat gamelan. Ilmu tersebut berasal dari rombongan tayuban asal Wonogiri yang datang ke daerahnya. ''Saya belajar membuat gamelan dari mereka,'' ujar Ki Suripto

Dikatakannya, waktu itu satu set alat musik hasil buatannya, pernah laku seharga Rp 250 ribu.

''Itu harga dulu. Kalau sekarang, satu setnya seharga 7,5 juta. Kalau dua set Slendro dan Pelog harganya mencapai Rp 16 juta,'' terang kakek yang sudah mempunyai sembilan cucu empat cicit ini.

Ki Suripto juga mengatakan, usaha kerajinan membuat alat gamelan tersebut pernah terhenti sebanyak dua kali pada tahun 1947 hingga tahun 1950 ketika geger londo dan tahun 1965 ketika terjadi pemberontakan PKI.

Setahun setelah peristiwa itu, hingga sekarang, dirinya terus membuat kerajinan tersebut meskipun alat yang dipakainya masih sederhana seperti tatah kayu dan amplas kayu. Sedangkan kayu yang digunakan adalah kayu sengon abang, kayu besi, kayu nangka, dan kayu mangga.

''Kayu tersebut nebas pohon milik warga sekitar seharga Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu bahkan ada yang mencapai sejuta per pohonnya,'' terangnya.

Kayu tersebut kemudian ia ubah menjadi bonang, demung, saron, kenong, gambang, kempul, kendang dan yang lainnya.

''Kerajinan gamelan itu saya jual antara Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu per satuan,'' terangnya. (Leonardo Agung B-16)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA