logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 06 Desember 2007 SALA
Line

Subo Suko Wonosraten

Bukan Ngendon, tapi Terlambat

SUKOHARJO - Dinas Pendidikan Sukoharjo membantah dana bantuan Rp 3,695 miliar dari Pemprov Jateng saat ini mandek - seperti dituduhkan Komisi E DPRD Jateng. Ditegaskan, dana untuk bidang pendidikan itu tidak ngendon. Namun, terlambat dicairkan, karena menunggu pengesahan APBD Perubahan 2007.

''Saat ini, dana sudah mulai dicairkan oleh Badan Pengelola Keuangan Daerah dan segera dikucurkan ke sekolah-sekolah penerima bantuan,'' kata Kepala Dinas Pendidikan Wahyudi, Rabu (5/12) kemarin.

Berdasarkan aturan, dana bantuan dari Pemerintah Pusat atau pemprov harus masuk ke kas daerah dulu, sebelum dicairkan dan digunakan oleh penerima bantuan. (H44-58)

Gaji Masrin Dipotong 50%

SOLO- Mantan Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Penanaman Modal (Disperindag PM) Masrin Hadi merasa dijauhi dan diperlakukan tidak adil oleh koleganya sesama PNS.

Setelah di tahan rumah tahanan Surakarta akibat kasus dugaan korupsi kunjungan kerja (kunker) fiktif wisata kuliner ke Bali, sejak Desember 2007 Masrin hanya mendapat 50 persen gaji yang mestinya ia terima. Berbagai tunjangan seperti tunjangan jabatan, tunjangan anak, tunjangan makan dan tunjangan lainnya juga tidak lagi diterima.

Masrin yang sebelumnya menerima gaji lebih dari Rp 2 juta, kini hanya menerima Rp 800.000. Sebelumnya, dia juga dicopot dari jabatannya. (G8-42)

Pupuk Melejit, Petani Menjerit

SRAGEN- Petani di wilayah eks Kawedanan Gemolong akhir-akhir ini mengeluhkan harga pupuk yang mahal. Para petani yang ditemui mengatakan, harga pupuk naik sejak awal November lalu.

Kenaikan tersebut bervariasi antara Rp 1.000 - Rp 4.000. Supardi (43) petani asal Tanjungsari, Desa Jati, Kecamatan Sumberlawang menuturkan, pupuk urea yang harga standarnya Rp 60.000/sak, kini naik menjadi Rp 65.000. Pupuk phonska yang semula Rp 37.000/sak, ikut naik menjadi Rp 40.000.

Di Kecamatan Miri, tepatnya Desa Brojol, harga pupuk jenis TSP kini naik menjadi Rp 100.000/sak dari Rp 97.500. Sedangkan jenis KCL harganya kini di atas Rp 100.000.

Kasi Padi dan Palawija Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Ir Tentrem Raharjo, mengatakan, pihaknya sudah memperoleh informasi mengenai kenaikan harga pupuk tersebut. (J5-63)

Produksi Tebu Diyakini Melimpah

KARANGANYAR - Jika musim hujan bisa sampai sekitar awal atau pertengahan Juni 2008, produksi tebu nasional akan mencapai 87,58 ton/hektare. Dengan areal seluas 418.506 hektare, total produksi bisa mencapai 36.651.734 ton.

''Jika rendemen 7,25 %, maka hasil total gula yang diproduksi pabrik gula (PG) dalam negeri akan mencapai 2.657.325 ton atau naik sekitar 17,26 % dibanding tahun ini yang mencapai 2.427.951 ton. Artinya, kebutuhan gula nasional untuk konsumsi langsung masyarakat sudah terpenuhi,'' kata Suyoto Hadisaputro, Ketua Ikatan Ahli Gula (Ikagi) Pasuruan, Jumat.

Musim hujan memang berpengaruh besar pada produksi tebu dan pengadaan gula nasional. Meski program swasembada gula dicanangkan tercapai tahun 2009, namun ini menjadi tantangan untuk dipenuhi.(an-63)

Digelar Operasi Uji Kepatuhan

KARANGANYAR - Mulai Rabu pukul 00.00, Polres Karanganyar menggelar Operasi Patuh 2007. Setiap bentuk pelanggaran, baik kecepatan, rambu, kelengkapan kendaraan, muatan, akan langsung ditilang di tempat.

Tidak ada lagi pembinaan berupa surat pernyataan.

''Sebab selama sebulan penuh sebelumnya kami sudah membina. Jadi operasi ini merupakan uji kepatuhan bagi pengendara. Tidak ada lagi ampun. Sekecil apapun pelanggaran, kami tindak. Bukan berarti polisi mencari-cari, tapi ini standar dan kami sudah membina selama November dengan Bulan Tiblantas,'' kata Kapolres melalui Kasatlantas AKP Suseno, kemarin.(an-63)

Resapan Minim Sebabkan Banjir

KLATEN -Banjir di Klaten saat hujan deras turun selama empat jam, Senin (3/12) lalu, diduga disebabkan minimnya resapan air akibat perubahan tata guna lahan, terutama di Klaten utara.

Kasubdin Cipta Karya DPU Tadjudin Akbar mengatakan, banyak areal pertanian di wilayah utara Kota Klaten sudah berubah menjadi permukiman penduduk. ''Ini memicu turunnya kemampuan peresapan tanah, sehingga debit air di hilir bertambah,'' ujar dia, Selasa (4/12) lalu, kepada wartawan.

Tidak ada gunanya drainase di wilayah kota terus dibenahi dan dilebarkan, bila air tidak bisa terserap ke dalam tanah.(H34-58)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA