| Kamis, 06 Desember 2007 | WACANA |
Surat PembacaDown Timmer SemarangJika naik motor atau mobil menjelang lampu lalu lintas berubah dari warna hijau kuning (merah), apa yang biasa kita lakukan. Pelan-pelan berhenti daripada ditilang karena melanggar lampu kuning (merah) atau tancap gas untuk mengejar warna hijau yang sudah mepet ?. Kenyataan, sebagian besar masyarakat masih memilih tancap gas tanpa memerdulikan keselamatan dirinya dan orang lain. Kenekatan sebagian besar masyarakat bisa dimaklumi karena memang tidak ada ukuran waktu yang dipasang di rambu lampu lalu lintas itu. Yang ada hanya ukuran warna. Sedang berapa menit lampu akan berwarna hijau, kuning atau merah terserah masyarakat sendiri memperkirakan berdasarkan feeling. Di situlah terjadinya bottom neck. Puncak keruwetan dari persepsi menghitung lamanya warna berganti, bisa membuat celaka. Mungkin bisa terjadi kecelakaan maut, jika yang dari warna hijau tancap gas, sementara dari arah berlawanan siap-siap berjalan karena warna sudah berganti hijau juga. Artinya, petunjuk waktu di lampu lalu lintas yang biasa disebut down timmer itu sangat penting. Tapi sampai kini, down timmer di Tugumuda dari arah Jl Sugijapranata (Bulu) raib entah ke mana, terbawa puting beliung. Sementara down timmer di Jl Pemuda dekat Lawangsewu juga tidak menyala. Padahal Semarang sebagai ibu kota Provinsi Jateng hanya mempunyai dua down timmer saja yaitu di di Tugumuda serta di depan rumah dinas gubernur yang megah. Keduanya juga kurang terawat padahal baru dipasang belum setahun. Bandingkan dengan Jogjakarta dan Solo yang sudah sekian tahun lalu menggunakannya dan sampai saat ini masih berfungsi baik. Sragen kota yang lebih kecil dari Semarang, sudah menggunakan serta berjalan normal. Mohon kepada instansi terkait, pelihara peralatan keselamatan publik dengan baik. Toh meski pun baru sanggup membeli dua buah, barang itu juga dibeli dengan uang rakyat. S Handoko Tugurejo A9 RT 5/I Tugu Semarang 50151. Tanggapan PO Nusantara Menanggapi tulisan Ibu Ayu Ida Savitri dari Jagakarsa Jaksel di Surat Pembaca 4 Desember 2007 berjudul " Lagi, soal PO Nusantara", kami mohon maaf atas ketidaknyamanan baik berkaitan dengan layanan agen maupun perlakuan kru bus sehingga kami sangat memahami kekecewaan lbu. Namun demikian kami menyampaikan sedikit penjelasan soal kursi di bus sbb: Maksimal kursi bus patas jurusan Semarang - Pekalongan yang Ibu tumpangi memang 37 + CD seat. Artinya, total tempat duduk 38 kursi penumpang, karena CD seat juga kursi untuk penumpang, hanya saja lokasinya di depan, di samping kru. Biasanya khusus untuk kursi ini, memang kami tawarkan terlebih dulu ke penumpang, apakah bersedia atau tidak. Dalam kasus ini, bila Ibu merasa tidak diinfo terlebih dulu oleh agen, maka kami mewakili manajemen PO. Nusantara mohon maaf atas kelalaian agen tersebut. Mengenai perlakuan kru yang tidak sopan dan kurang berkenan, sesungguhnya pihak manajemen selalu memberikan acuan layanan agar semua staf dan kru mengedepankan layanan terbaik kepada seluruh penumpang. Kami mewakili manajemen PO Nusantara berterima kasih kepada Ibu Ayu Ida Savitri atas kesediaan waktunya memberikan masukan, yang tentunya akan kami jadikan acuan untuk mengambil tindakan yang diperlukan, demi memberikan pelayanan yang lebih baik. Soni Wibowo SH Bag Operasional PO Nusantara *** Masalah Riba Tulisan soal "Riba tak sama dengan bank" oleh Sdr Daryoso yang dimuat Surat Pembaca beberapa waktu lalu mengundang tanggapan saya. Dalam tulisan tersebut terdapat 3 hal yang perlu mendapatkan perhatian: Pertama, disebutkan : Yang dimaksud dengan riba... bunga ditentukan sendiri sehingga melebihi kewajaran kemampuan si peminjam. Kedua: Sdr tidak bisa membayangkan, jika keberadaan bank dilarang karena dianggap riba. Ketiga: Makna kata "riba" menurut Sdr dapat lebih diaktualisasikan agar sesuai dengan konteks kemanfaatan bagi yang membutuhkan. Adapun tanggapan saya sbb: Definisi riba menurut Sdr tidak mempunyai dasar rujukan kuat (rajih) tapi hanya berdasar anggapan. Tafsiran, tidak berdasar etika, dalam memahami ayat di antaranya tafsir munasabah (keterkaitan antara ayat satu dengan ayat lain tentang riba: (QS Arrum 30): ayat 39, Annisa' (4): ayat 160-161, Ali Imron (3): 130 dan Albaqarah (2): 279-279) tentang pengharaman riba yang bertahap. Menurut saya, riba berarti penambahan atas harta pokok tanpa ada transaksi bisnis riil (Badrad-Din Al-Ayni, pengarang Umdatu/Qori Syarah Shahih Al Bukhari. Juga tingkat kewajaran bunga suatu lingkungan masyarakat adalah relatif tergantung sosial budaya. Bila masyarakat menganggap tingkat imbalan (bunga) 5% adalah wajar, lantas bagaimana?. Nah di sinilah maksud syariah bermakna universal dapat diterapkan dalam setiap waktu dan tempat sampai akhir zaman. Bank atau lembaga keuangan yang berprinsip sesuai syariah sudah ada bahkan banyak sehingga tidak perlu membayangkan bagaimana bank melarang serta dampak negatifnya, BI bisa memberi alternatif. Kata "riba" menurut hemat saya nash qathi/mukhamah/jelas dilarang (haram) dalam Alquran, jadi tidak ada alasan untuk diaktualisasikan dengan dalih kemaslahatan karena banyak pilihan transaksi sesuai syariah (jual-beli, bagi hasil, sewa, fee based dan lainnya). Muhammad Rosyid Bumi Padamara Baru B-9 RT 1/RW 3, Purbalingga *** Ultah dengan Yatim Piatu Sebagai seorang remaja yang tidak lama lagi merayakan sweet seventen, aku mengangankan ultahku di hotel berbintang dengan pesta meriah, acaranya spektakuler hingga selalu diingat teman-temanku. Siapa yang tidak bangga mengadakan pesta meriah apalagi hanya sekali seumur hidup. Tapi ketika membaca artikel di harian ini, biaya pesta sangat spektakuler aku jadi ragu. Meski ortuku bukan termasuk golongan the haves banget, namun sebagai anak tunggal aku bisa saja memaksakan kehendak. Di satu sisi egoku muncul untuk tetap merayakan pesta di hotel berbintang tapi di sisi lain juga ragu haruskah biaya yang begitu besar hanya dihabiskan dalam semalam untuk pesta yang hanya menaikkan gengsi dan menunjukkan "ke-akuan-ku". Yaitu aku tidak ingin dipandang sebelah mata sekaligus menunjukkan kalau aku juga bisa seperti mereka yang masuk golongan the haves meski saat ini kehidupan masyakarat dalam keadaan yang benar-benar elit (ekonomi sulit). Akhirnya setelah merenung lama, aku ambil keputusan bulat dan rasanya cukup bijaksana. Aku tetap akan merayakan pesta sweet seventen-ku dengan acara spektakuler hingga dikenang sepanjang hayat tapi dengan biaya terjangkau. Aku akan pesta bersama anak-anak yatim piatu. Bukankah pesta yang meriah dan spektakuler tidak harus di hotel berbintang. Yang penting bagaimana memberi makna pada pesta tersebut. Aku jadi tenang. Aku yakin dengan pesta bersama yatim piatu, selain meriah, juga sudah berbagi rasa pada mereka dan peduli pada sesama. Yang penting, dana yang seharusnya dikeluarkan ortu bisa aku gunakan untuk biaya kuliah yang sudah di ambang pintu. Ortu-ku tidak perlu mengeluarkan uang lagi hal yang kurang urgen. Anggita Putri Jl Panggung Mas Raya B-24, Semarang *** Berbahasa Baik Membaca harian ini tentang "Ajak shalat berjamaah, sopir gagal dihabisi", jadi teringat peristiwa yang baru saya alami yaitu kehilangan ponsel. Beberapa saat kemudian teman dikrim SMS yang isinya sbb: "Sebelumnya saya minta maaf. Tolong Hp saya dikembalikan. Anda mau minta uang tebusan berapa? Lebih mahal dari harga Hp itupun nggak apa-apa, yang penting kembali. Kita bisa ketemu di mana dan kapan? Trima kasih banyak". Sungguh saya tidak menyangka, pencurinya membalas sbb: "Saya juga minta maaf Mbak, tadi saya khilaf, saya sadar, saya tidak minta uang tebusan kok. Saya janji Hp Mbak akan saya kembalikan. Mbak namanya siapa dan kerja di mana?". Kemudian dibalas teman saya, identitas saya dan ucapan terima kasih atas ketulusan hati dia mau mengembalikan ponsel. Dan betul, keesokan harinya ponsel saya dikembalikan lewat murid saya yang mengaku tidak mengenal orang yang menitipkan tersebut. Banyak orang heran dengan kisah pencurian yang saya alami. Saya berpikir mungkin karena kata-kata dalam SMS teman tadi bisa menyentuh hati pencurinya hingga dia menyadari perbuatannya dan dengan ikhlas mengembalikannya. Dari pengalaman ini, ternyata dengan berbahasa yang baik bisa menghindarkan dari kemalangan. Andai saja teman itu mengirim SMS dengan umpatan mungkin pencurinya malah tidak mengembalikan. Makanya memang penting berbahasa yang baik, sopan dan bijak terhadap orang lain. Dengan demikian dunia akan terasa lebih damai. Karena dengan kata-kata bisa membuat merah birunya hidup kita. Tapi tentu saja bukan hanya OT alias Omong Thokk (bicara saja tanpa berbuat apa-apa). Rosalia Juwartini Bawen Bukit Permai RT 6/RW 1, Bawen *** Siarkan Lagu Nasional Sekarang ini arus siaran hiburan begitu deras dan gencar baik lewat media teve maupun radio. Khususnya untuk lagu-lagu sudah sebegitu banyak yang dapat dinikmati. Lagu-lagu itu mudah dihapal. Tanpa disadari anak-anak juga hapal dengan lagu dewasa itu di antaranya lagu Ketahuan-nya Matta, Kucing Garong, SMS, dan dulu Ada Mbah Dukun dan sebagainya. Memang anak-anak akan menambah kosa kata dewasa misal sayang, cinta, pacar dan lainnya. Sepertinya hal itu belum pas, belum saatnya dinyanyikan oleh anak-anak. Kalau mereka menyanyikan lagu dewasa akan terasa risih di telinga atau malah para orang tua akan bangga? Alangkah baiknya jika media teve dan radio mulai sering menyiarkan lagu-lagu nasional di sela-sela acara, jangan di akhir jam siar atau jam tayang. Lagu seperti Indonesia Pusaka, Indonesia Tanah Airku, Rayuan Pulau Kelapa, Desaku, Nyiur Hijau, Serumpun Padi. Juga masih banyak lagu yang bertema keelokan Indonesia dan nasional yang sangat layak untuk ditayangkan. Para orang tua akan ingat bahwa remaja dan anak-anak akan lebih kenal dengan syair yang indah dan kata-kata yang santun. Alangkah indahnya bila lagu-lagu itu sering didengar hingga kita lebih mencitai tanah air Indonesia yang elok dan kaya raya. Untuk pelaku bisnis media, kiranya dapat dipertimbangkan siaran yang beraspek tuntunan. AN Miladi SPI Jl Mulawarman V RT 1/RW 2, Semarang Soal Daging Kurban Sebentar lagi umat Islam akan merayakan Idul Adha 1428 H. Sudah banyak petunjuk dan saran untuk memilih daging yang boleh dikonsumsi dan dilarang, baik dari segi kesehatan maupun halal haramnya. Masyarakat pun mendengar dan mengetahui sosialisasi kelayakan daging hewan tersebut meski sering kecolongan juga. Mengingat Idul Adha merupakan agenda tahunan yang hanya setahun sekali maka biasanya masyarakat lebih punya waktu dan kesempatan untuk mengantisipasi. Justru yang perlu mendapat perhatian adalah peredaran daging sehari-hari yang kadang malah luput dari perhatian. Termasuk istilah asing yang belum begitu dipahami awam. Daging babi misalnya, sering diistilahkan dengan ham dan bacon. Ham adalah daging babi bagian belakang sedangkan bacon iga asap babi. Tidak mudah membedakan antara daging babi dengan daging sapi muda apalagi bila sudah dicampur. Ham dan bacon pun ternyata juga digunakan untuk mengistilahi paha belakang sapi dan iga asap sapi. Begitu pula dengan tallow diistilahi lemak hewani padahal lemak babi sudah punya istilah sendiri yaitu lard. Sedangkan tallow adalah lemak sapi. Jadi bukankah dengan begitu istilah tallow juga mencakup lemak sapi dan juga lemak babi. Berarti tidak salah bila lemak babi cukup diberi istilah tallow saja. Ada juga istilah natural flavour yang seharusnya berarti rasa atau aroma alami namun ternyata ada unsur lemak sapinya. Karena memang lard atau tallow berbentuk padat dan biasanya dimanfaatkan untuk campuran minyak goreng nabati guna menajamkan taste (rasa). Walau sapi hewan halal namun apakah ada jaminan penyembelihan di negara barat menggunakan syariat agama Islam. Maka kehati-hatian diperlukan dalam menyikapi daging impor seperti paha atau sayap ayam, jerohan dan lainnya. Noor Rofiq Jl Wamena V/228-229, Ungaran *** Tenis Meja Kapan ? Sepertinya masyarakat pecinta olahraga di Kabupaten Kendal sedang dimanjakan berbagai event pertandingan berskala daerah atau bahkan nasional. Langkah ini guna memberi angin segar perkembangan olahraga sekaligus harapan bagi para maniaknya. Sebut saja, beberapa waktu lalu di stadion utama Kebondalem diadakan uji coba tim Persik Kendal melawan PSIS Semarang. Kemudian kejuaraan bola basket antarklub di GOR Bahurekso dan terakhir kejuaraan bola voli "PON Mini" memperebutkan piala wakil Bupati Kendal. Kalau dirasakan, PemkabKendal berkesan menganakemaskan olah raga ini. Berbagai fasilitas dan kemudahan disediakan. Apakah hal ini karena figur yang memimpin adalah orang penting sehingga dengan mudah memperoleh dukungan khususnya dana. Semestinya pemkab sudah harus peduli juga untuk memajukan cabang olahraga lain tanpa harus melihat siapa pengurusnya. Di antaranya tenis meja. Sebagai pemain sekaligus pengurus PTM Formas Sidorejo Brangsong, saya merasakan betapa minimnya kepedulian pemkab. Dalam hal ini mungkin KONI Kendal dalam memberikan dukungan. Sebagai informasi, bagaimana susahnya mencari tempat berlatih bagi atlet. Mulai dari pinjam kantor Puspenmas, rumah dinas Pengairan kemudian pindah lagi ke kantor Samsat terus ke kantor Kecamatan Kaliwungu. Terus pindah lagi ke kantor Pengairan sampai akhirnya sekarang terpaksa pinjam balai desa Protomulyo. Padahal kalau dilihat dari prestasi atlet tenis meja Kendal, juga tidak kalah dengan daerah lain. Sebut saja Agus (PTM Samsat), Edy (PTM Sukorejo) di kelas senior dan Yusuf (PTM Formas) yang berhasil maju tingkat Jateng kategori pelajar tahun ini. Lalu giliran tenis meja kapan ? Apakah akan dibiarkan seperti pepatah "hidup segan mati tak mau" padahal atlet telah memberikan yang terbaik untuk Kendal. Bantuan dana masih ditunggu. Sobirin (PTM Formas) Tosari RT 3/RW 1 Brangsong, Kendal. *** Susu Cair Rusak Pada 25 November 2007 saya membeli susu Frisian Flag cair rasa coklat dalam botol berukuran 800 ml di hipermart Java Mall Semarang. Tapi alangkah kecewanya, ketika sampai di rumah dan dibuka ternyata memunculkan bau kecut/basi. Selain itu tekstur susunya tidak lagi cair, tetapi menggumpal dan berbusa. Padahal produk tersebut tertera tanggal kedaluwarsa Juli 2008. Kejadian seperti ini telah saya alami sebanyak 2 kali. Pertama sebulan lalu membeli produk yang sama di Makro Semarang. Bagaimana ini kualitas produk Frisian Flag. Henny Hendrawati Kusuma Ketileng Indah Blok N/1, Semarang *** Koruptor "Dermawan" Saya koruptor sukses, kaya raya dan tak pernah ketahuan sampai pensiun karena saat itu belum ada KPK. Setiap kali saya melakukan korupsi, sebagian kecil hasilnya (2,5%) saya gunakan untuk menyumbang tempat ibadah, mengajak kerabat beribadah ke luar negeri yang nilainya tidak lebih 5% dari hasil korupsi. Menurut pakde saya yang sudah sepuh (92) namun masih gagah dan punya hobi nyepi semedi di tempat yang jauh dari keramaian, saya dijuluki "Si Sesat" sehingga saya tak pernah mau sowan beliau. Saya tak peduli toh masyarakat, lingkungan, mayoritas sangat menghormati saya. Di mana-mana saya ditokohkan. Namun kata-kata pakde tak bisa saya lupakan: "Teruslah kamu menipu Tuhan, kalau ingin menjadi intip neraka nanti". He..., he...he... tak tahu rupanya pakde saya itu, bahwa setiap kali saya dan rombongan pulang dari ibadah luar negeri, saya telah mengantongi pahala dan ampunan ribuan kali. Pakde rupanya lupa kalau dia tinggal di Indonesia. Isnoto Jl Singotoro 5, Semarang |