logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 06 Desember 2007 NASIONAL
Line

Penting, Proses Adaptasi dalam Perubahan Iklim

NUSA DUA- Proses adaptasi tetap diperlukan dalam menghadapi perubahan iklim, walaupun sudah ada upaya mitigasi atau upaya untuk mengurangi emisi karbon penyebab perubahan iklim. ''Proses adaptasi tetap penting sekalipun ada rasa optimisme kalau perubahan iklim dapat dicegah,'' kata Sekretaris Eksekutif UNFCCC Yvo de Boer dalam konferensi pers di Hotel Westin Nusa Dua, Bali, Rabu (5/12).

Menurutnya, risiko yang ditanggung dunia sangat besar jika mengabaikan program adaptasi, mengingat dampak perubahan iklim telah muncul di sejumlah tempat. Terutama komunitas rentan dan warga miskin menjadi salah satu pihak yang menderita dampak paling besar akibat perubahan iklim. ''Hal itu karena mereka tidak memiliki cukup sumber daya ekonomi untuk melindungi diri dari perubahan iklim,'' ujarnya.

Karena itu, kata dia, diperlukan investasi besar untuk adaptasi atau dana adaptasi global untuk membantu seluruh negara di dunia. Terutama negara berkembang dan miskin untuk beradaptasi dengan perubahan iklim sebelum terlambat.

''Saat ini seluruh delegasi tengah merundingkan mengenai mekanisme, donor, dan pengaturan dana adaptasi. Selain itu, pembahasan juga meliputi upaya untuk memasukkan adaptasi dalam strategi dan perencanaan jangka panjang kebijakan dunia,'' jelasnya.

Yvo juga menjelaskan, transfer teknologi berkaitan dengan pencegahan perubahan iklim masih sulit diterapkan di negara-negara miskin di Afrika atau negara kepulauan kecil yang dinilai tidak menguntungkan bagi investor.

Transfer teknologi, kata dia, dapat dilakukan perusahaan swasta atau industri ke suatu negara berkembang apabila negara tersebut memiliki tiga hal. Yaitu, dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan yang berinvestasi, memiliki pasar yang potensial, serta tidak memiliki resiko yang besar dalam berinvestasi.

Dikatakan dampak perubahan iklim bagi negara berkembang dapat diatasi dengan mekanisme teknologi pembangunan yang ramah lingkungan. Namun, untuk mencapai hal tersebut sangat dibutuhkan transfer teknologi dari negara-negara maju ke negara-negara berkembang. ''Kesulitannya adalah, negara-negara miskin di Afrika atau negara kepulauan kecil umumnya tidak memiliki ketiga hal yang diinginkan investor,'' ujarnya.

Bantuan

Uni Eropa (UE) menegaskan komitmennya untuk membantu negara-negara berkembang dalam menghadapi perubahan iklim. Salah satu bentuk bantuan adalah memberikan bantuan dalam hal ketersediaan energi bagi 76 negara berkembang.

''Kami membantu 76 negara yang terletak di Afrika maupun Karibia dalam hal efisiensi energi dan energi terbarukan. Intinya, kami akan membantu negara berkembang untuk memenuhi millennium development goals,'' kata anggota Komisi UE Artur Runge-Metzger dalam jumpa pers Konvensi Perubahan Iklim di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali.

Selain itu, bantuan UE yang lain adalah mengadakan kerja sama dengan negara-negara miskin yang berupa kepulauan. ''Seperti diketahui, negara kepulauan terancam hilang karena tenggelam akibat pemanasan global. Inisiatifnya sudah sejak September 2007,'' imbuhya.

Pada kesempatan yang sama, UE Presidency Nuno Lacasta, menerangkan, pihaknya menggelontorkan sejumlah dana untuk penelitian teknologi ramah lingkungan. ''Penelitian itu terkait untuk transfer teknologi ke negara berkembang. Kita mempunyai enam framework yang isinya tentang bagaimana meng-assist negara berkembang menghadapi perubahan iklim,'' jelasnya.

Dalam kesempatan lain, Arthur Runge Metzger, menjelaskan, pihak UE menjalin kerjasama dengan pemerintah Indonesia untuk memberangus perdagangan kayu illegal. Selain Indonesia, negara lain yang menjalin kerjasama adalah Malaysia, Ghana, dan Kamerun.(J22-48)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA