logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 06 Desember 2007 MURIA
Line

Suiseki, Seni Batu Indah yang Belum Banyak Dikenal

ROMBONGAN pengunjung Pameran Bonsai dan Tanaman Hias di GOR Mustika Blora berlalu begitu saja saat melintas di depan stan milik Susilo Bayu Irawan. Bisa jadi mereka tidak menyadari di dalam stan warga Desa Mojowetan, Kecamatan Banjarejo itu terdapat barang berharga yang bernilai seni tinggi.

Sekilas tidak tampak barang istimewa yang dipamerkan. Yang ada hanya beberapa jenis bonsai dan bebatuan yang dipajang rapi. Namun jika ditelusuri lebih dalam, salah satu batu yang dimiliki Wawan, sapaan akrab Susilo Bayu Irawan itu ternyata sudah ada yang menawar. Tak tanggung-tanggung harga penawarannya mencapai Rp 65 juta. "Batu ini memang sudah ada yang menawar Rp 65 juta. Orangnya dari Madiun Jatim. Tapi belum saya lepas," ujar Wawan, kemarin.

Batu yang menyerupai kawasan Grand Canyon di Benua Amerika itu didapatkan dari salah satu kawasan sungai di Blora. Penggalian dilakukan untuk mengangkat batu yang mirip batu onix tersebut dari dalam tanah. Setelah melalui tahapan pembersihan, akhirnya didapatkan bentuk asli batu yang berlapis-lapis tersebut. "Setelah saya amati, ternyata ada akar di salah satu lubang batu. Saya sendiri tidak tahu akar apa itu," katanya.

Wawan mengatakan, bidang seni yang tengah digelutinya itu diberi nama batu indah. Di Jepang, seni tersebut dikenal dengan nama suiseki. "Bagi pencinta tanaman bonsai, nama suiseki mungkin tidak asing lagi. Namun bagi sebagian besar warga kita, nama suiseki terdengar asing dan belum familiar di telinga," tandasnya.

Alumnus Unnes Semarang 2005 itu menjelaskan, suiseki telah lama berkembang di Indonesia. Namun di Blora seni batu indah tersebut baru muncul beberapa tahun terakhir. Padahal, menurutnya, dengan topografi daerah yang berbukit kapur, Blora memiliki potensi besar bebatuan yang bernilai seni tinggi. "Bebatuan yang didapat merupakan bentuk asli tanpa direkayasa atau dipoles sedikit pun. Kalau sudah dipermak, berarti bukan lagi termasuk suiseki,"katanya.

Sudah Ditawar

Dari berbagai koleksi batu indah yang dimilikinya, Wawan menyebutkan sejumlah nama berdasarkan bentuk fisik batu tersebut. Ada yang menyerupai bentuk bunga (flowers). Batu tersebut mempunyai berat ratusan kilogram. Padahal, tingginya tidak sampai 50 meter dan bentuknya pipih. Batu tersebut sudah ada yang menawar Rp 85 juta. "Karena usianya sudah tua, jadi agak mahal dibandingkan batu lainnya," kata Wawan.

Koleksi batu indah lainnya yang dipamerkan pria kelahiran Blora 30 Januari 1980 tersebut diberi nama si Dhenok. Harganya Rp 9 juta. Bentuknya tidak terlalu besar, namun batu itu mempunyai keistimewaan tersendiri. Yakni menyerupai fisik luar alat kelamin perempuan. "Makanya saya beri nama si Dhenok," ujarnya.

Ada juga koleksi batu yang diberi nama Tanah Lot. Sesuai dengan namanya batu dengan guratan berlapis-lapis tersebut menyerupai Tanah Lot di Bali. "Bentuk-bentuk batu itu asli seperti saat kali pertama ditemukan. Saya hanya membersihkan tanah maupun kotoran yang menempel di batu," kata Wawan.

Dia menyatakan, selama ini transaksi penjualan batu indah tersebut melalui internet. Karena sebagian besar penggemar Suiseki menggunakan media tersebut. Meski demikian hampir setiap hari dia membuka rumah seninya di jalan Batangan 1 Kelurahan Kedungjenar Blora. (Abdul Muiz-36)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA