| Rabu, 05 Desember 2007 | NASIONAL |
Menggali Sumur untuk KehidupanWajah Sujarno masih terlihat sayu. Matanya terlihat kosong menatap lurus ke arah dinding ruang rawat paling timur Purkesmas Batur I, Banjarnegara. Di sekitarnya sanak saudara sudah berkumpul menemani. Ada yang duduk-duduk di dekat tempat tidurnya, ada pula yang lesehan di lantai beralaskan tikar. ''Dia masih trauma dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Terkadang dia masih suka memanggil-manggil nama Sutego yang juga masih adik sepupu kami. Dia masih suka bilang 'Tego, aja... aja' (Tego, jangan... jangan-Red),'' kata Nikmat, adik Sujarno, saat ditemui kemarin. Kedua saudaranya tersebut, lanjut Nikmat, memang sudah bertahun-tahun dikenal sebagai spesialis pembuat atau penggali sumur. Sutego dikenal piawai dalam hal pembuatan sumur yang digali, sedangkan Sujarno dikenal ahli membuat sumur bor. Pekerjaan gali-menggali tanah itu mereka lakukan untuk menghidupi keluarganya. ''Dalam mengebor, biasanya kakak melakukannya di tebing sehingga proses pengeboran menyamping, tidak menurun ke tanah. Meski demikian, air tetap bisa didapat dan lancar,'' katanya. Pada saat membuat sumur di Kradenan, kata Nikmat, semula mereka melakukannya dengan cara mengebor. Namun hasilnya tak maksimal sehingga diputuskan untuk menggali saja. Rencana penggalian sedalam 20 meter dan pekerjaan baru dilakukan sekitar 10 hari dengan capaian kedalaman 14 meter. Kerja Borongan Seperti dituturkan warga, ada kebiasaan orang yang berprofesi sebagai membuat sumur, airnya akan dijual ke warga yang membutuhkan. Harganya tergantung debit air yang dihasilkan. Jika debit besar, harga akan mengikuti naik. Satu sumur bisa digunakan oleh lima sampai sepuluh keluarga dan setiap keluarga ditarik bayaran antara Rp 250.000-Rp 300.000. Harga kolektif tersebut berlaku selamanya. Meski demikian, perihal jual-beli sumur itu dibantah oleh Nikmat. Adik Sujarno itu mengatakan bahwa aktivitas kedua saudaranya dilakukan berdasarkan kerja borongan. Sepanjang pengetahuannya, pekerjaan itu disuruh oleh seorang warga Kradenan bernama Karno. Namun, Karno saat ditemui keluarganya juga masih trauma sehingga belum ada pembicaraan lebih lanjut. ''Bayarannya tergantung perjanjian dengan pemesan atau orang yang membutuhkan sumur. Bisa dihitung per lubang atau per sumur dan bisa pula dihitung per meter kedalaman sumur. Semua itu bergantung kesepakatan kedua belah pihak,'' katanya. Namun, saat disinggung soal pengetahuan kedua saudaranya terhadap lokasi penggalian yang dekat dengan kantong gas, Nikmat tak bisa menjawab pasti. Kemungkinan, lanjutnya, mereka sudah tahu. Namun karena selama ini di daerah tersebut aman-aman saja dan banyak sumur bornya maka penggalian tetap dilakukan. Minim Dokter Ahmad Setiawan dari Puskesmas I Batur menyarankan agar kejadian itu menjadi referensi semua pihak mengenai pentingnya kewaspadaan dini terhadap gas beracun. Sayangnya, peralatan untuk itu masih harus pinjam ke PT Geo Dipa Energi Unit Dieng atau pos pengamatan gunung. Jika minta bantuan ke kota jaraknya 50 km sehingga diperlukan peralatan yang memadai di Batur dan sekitarnya. ''Untuk mendeteksi ada tidaknya gas beracun seperti CO2 secara manual, maka di sekitar lokasi yang dicurigai, perlu diamati cermat. Jika ada hewan-hewan atau serangga mati dan api tak bisa nyala maka segera tinggalkan tempat itu. Diperkirakan konsentrasi gasnya lumayan membahayakan,'' pungkasnya. Dalam catatan Suara Merdeka, pada tahun 1979 sedikitnya 149 orang menjadi korban karena menghirup gas beracun dari Kawah Sinila. Peristiwa itu dikenal dengan tragedi gas beracun Sinila. Hingga kini sejumlah kawah di Dataran Tinggi Dieng (DTD) juga masih terus dipantau aktivitasnya. Kawah-kawah yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara yang dipantau antara lain Kawah Timbang (Desa Sumberejo), Kawah Candradimuka dan Sinila (Desa Pekasiran), Kawah Sileri dan Bitingan (Desa Kepakisan), Kawah Sikidang dan Sibanteng (Desa Dieng Kulon), serta Kawah Pagerkandang (Desa Karangtengah). Adapun Kawah Pakuwaja sudah masuk wilayah Kabupaten Wonosobo dan Kawah Siglagah di Kabupaten Batang.(M Syarif SW-62) |