logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 04 Desember 2007 NASIONAL
Line

Dunia Pawukon setelah Mbah Hadi Dibui (1)

Hilangnya Teriakan Sampar dan Tali Wangke


SM/Yusuf Gunawan DI TAHANAN:Mbah Hadi saat berada di tahanan Poltabes Surakarta.(57)

KRH Suhadi Dharmodipura tidak dipisahkan dari perkembangan dunia pawukon. Dia memang ahli di bidang petung Jawa. Bagaimana nasib dunia pawukon setelah Mbah Hadi ditahan oleh pihak kepolisian?

SENIN (3/12), museum Radya Pustaka terasa lengang. Lalu lalangnya wisatawan yang biasa terlihat, tak lagi bisa ditemui seperti hari-hari sebelum munculnya kasus pencurian dan pemalsuan arca. Dari police line yang terpasang, lengangnya suasana itu disebabkan karena museum saat ini sedang ditutup untuk sementara.

Kini, ada banyak hal yang memang terasa berbeda dari museum yang didirikan masa pemerintahan SISKS Paku Buwono IX oleh Pepatih Dalem Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV (28 Oktober 1890) tersebut.

Dan, perubahan itu bukan hanya karena museum ditutup. Tapi juga setelah Mbah Hadi yang dulu menjabat sebagai kepala museum tak lagi berada di sana.

Benar, masyarakat yang saban hari berada di lingkungan museum, sekarang memang tak lagi bisa mendengarkan teriakan sampar wangke atau tali wangke dari Mbah Hadi. Itu teriakan khas Mbah Hadi, ketika tengah menekuni pekerjaan sebagai konsultan petung Jawa dari ilmu pawukon.

Pawukon adalah semacam perhitungan hari baik dan buruk seseorang dari hari lahir dengan melalui pendekatan wuku (kalender wuku) dalam penanggalan Jawa. Ada 30 wuku dalam pawukon yang memuat banyak pengertian hari baik dan buruk tersebut.

Ke-30 wuku itu adalah wuku sinta, galungan, maktal, landhep, kuningan, wuye, wukir, langkir, manahil, kurantil, mandasiya, prangbakat, tolu, julungpujud, bala, gumbreg, pahang, wugu, warigalit, kuruwelut, wayang, warigagung, marakeh, kulawu, julungwangi, madhangkungan, dukut, sungsang, tambir, dan watugunung.

Berulang

Diungkapkan, dalam situs www.sekarjagad.org, wuku memiliki semacam perhitungan siklus 7 hari, dimulai dari hari minggu saat matahari terbit. Perhitungan wuku kemudian disebut dengan Bumi Pramana yang artinya kurang lebih perhitungan di atas kertas. Setiap 8 windu dari Tahun Jawa, akan terjadi satu siklus besar. Itu artinya seluruh aspek dan elemen perhitungan penanggalan jawa akan kembali semula atau berulang.

Lantas bagaimana dengan sampar wangke dan tali wangke yang sering disebut-sebut oleh Mbah Hadi? Sebenarnya itu merupakan bagian dari rumusan baku dari perabot pawukon. Ada 4 perabot pawukon, yakni golongan penanggalan, golongan bincil, golongan luluri, dan golongan wariga gemet. Sebutan sampar wangke dan tali wangke yang berarti kurang lebih berarti tidak baik sendiri merupakan bagian dari golongan luluri.

Berdasarkan telaah dari ilmu pawukon itulah (yang sebenarnya juga sudah banyak dibukukan), Mbah Hadi kemudian membuka praktik petung. Dari pendekatan tersebut, dia kemudian melakukan semacam telaah untuk "petungan" menyeluruh terhadap seseorang yang ingin mengantisipasi langkah strategis dari rencana melakukan kegiatan penting.

Nah, bicara tentang konsultasi dalam petung Jawa, nama Mbah Hadi memang cukup berkibar. Dia tidak hanya dikenal oleh masyarakat di Kota Solo dan sekitarnya, namun juga masyarakat di daerah lain, termasuk di Jakarta. Karena keahliannya tersebut, dia juga pernah ditulis Utusan Malaysia Online dalam rubrik rencana dalam sebuah judul ''Tilik Nasib Ikut Tanggal Jawa''.

Bukan hanya itu saja, dia juga termasuk ahli pawukon yang cukup sensitif dengan kondisi sosial. Itu di antaranya bisa dilihat saat meruwat Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2005. Ruwatan yang digelar di museum lantaran Mbah Hadi marah besar atas pernyataan SBY tentang budaya Jawa sebagai gugon tuhon, tahayul, dan klenik.

Kondisi keramaian yang terjadi di Museum Radya Pustaka sebelum mencuatnya kasus pencurian dan pemalsuan museum boleh jadi juga disebabkan karena keahlian Mbah Hadi itu.

Namun kini teriakan khas seputar tali wangke dan sampar wangke itu tak lagi terdengar di museum. Sebab, Mbah Hadi kini berada di tahanan Poltabes Surakarta. (Wisnu Kisawa-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA