| Sabtu, 01 Desember 2007 | PANTURA |
Volume Waduk Cacaban Belum Cukup untuk DialirkanTEGAL - Koordinator Pelaksana Alokasi Air Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Pemali-Comal, Dasirun mengatakan, pihaknya hingga kini belum membuka pintu air Waduk Cacaban untuk mengaliri areal persawahan di wilayah Kabupaten Tegal dan Kota Tegal. Pasalnya, volume air di waduk tersebut belum memenuhi. Menurut dia, hal itu terjadi karena dampak berkurangnya jumlah perawanan di atas Pulau Jawa, akibat masih adanya aktivitas badai di utara equator. Kondisi demikian menyebabkan intensitas curah hujan yang turun sangat kecil, dan hanya bersifat lokal. Karena itu, pihaknya belum berani mengambil risiko untuk mengalirkan air ke areal persawahan, meski saat ini sudah memasuki masa tanam pertama. ''Kalau dipaksakan kami khawatir persediaan air di waduk akan habis, sebelum musim hujan kembali normal,'' katanya. Dia mengemukakan, seharusnya sesuai jadwal, saat ini pintu air Waduk Cacaban sudah dibuka sejak 1 November, tepatnya pasca masa pengeringan 15 hari sejak tanggal 16 - 30 Oktober berakhir. Namun, karena kondisi volume waduk belum memungkinkan, hingga sekarang upaya tersebut belum dilakukan. ''Saat ini volume waduk hanya sekitar 10 juta meter kubik,'' ujarnya. Malahayu Menurut dia, untuk memenuhi permintaan sebagian petani, pihaknya mengeluarkan air dari Waduk Malahayu Brebes yang volumenya mencapai empat juta meter kubik. ''Pintu air kami buka hingga mengeluarkan air sekitar satu meter kubik per detik. Upaya ini kami lakukan, mengingat wilayah Waduk Malahayu berada di atas, sehingga memungkinkan terjadinya hujan untuk menambah volume air,'' tandasnya. Seperti diberitakan sebelumnya, volumen air Waduk Cacaban, di Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, apabila dalam kondisi normal mampu mengairi sekitar 7.439 hektare areal persawahan di wilayah Kecamatan Pangkah, Kedungbanteng, Kramat, Talang, Adiwerna, dan Slawi. Manis (60), petani asal Kedungbanteng mengatakan, karena air Waduk Cacaban belum dialirkan, dia memilih tanam jagung. Sebab, tanaman tersebut tidak membutuhkan banyak air. Guna mengairi sawahnya, dia terpaksa menggunakan mesin pompa. Dia mengatakan, sejumlah petani di sekitar waduk tersebut untuk mendapatkan air ada pula yang memanfaatkan kincir air. Sebab, areal persawahannya terletak di dekat sungai. (H17-15) |