| Sabtu, 01 Desember 2007 | WACANA |
Berkembang dalam Tradisi Lisan
PEWARISAN ilmu dalam komunitas teater kampus terjadi melalui tradisi lisan. Tanpa diktat, kurikulum, maupun guru. Para pegiatnya, baik senior maupun yunior, belajar secara otodidak dalam interaksi keseharian. Inikah penyebab teater kampus lemah dalam naskah? Teater kampus tumbuh tanpa asuhan orang dewasa. Situasi yang membuat karakter khas, yang tak sepenuhnya bisa dipahami mahasiswa lain. Dari manakah para aktornya belajar tentang gestur dan mimik muka. Kepada siapa tim artistik berguru tentang blocking, tata lampu, dan make-up? Sumber belajar yang ''terstruktur'' dan mapan berupa kurikulum keteateran tentu saja tersedia. Tetapi itu hanya ada di perguruan tinggi seni. Sedangkan kampus ''non-seni'' hanya mengandalkan warisan ilmu turun-temurun dalam tradisi lisan. Dalam hal ketersediaan referensi, pegiat pers mahasiswa barangkali lebih beruntung. Buku panduan pers dan jurnalistik mudah didapatkan, dalam bahasa lokal maupun asing. Isu terbaru seputar pers gampang dicari dengan googling di internet. Sedangkan teater kampus? Ketua Teater Gema IKIP PGRI, Badarudin, mengakui jika teater kampus relatif berjarak dengan teks. ''Ada buku keteateran, misalnya teknik bermain drama. Tetapi jumlahnya tak banyak. Jadi, proses pembelajaran lebih sering bersifat alamii. Para yunior menyerap ilmu dari senior melalui interaksi keseharian,'' tuturnya. Makin Menyala Meski demikian, gairah teater kampus tak pernah surut, bahkan makin menyala. Pementasan terus berlangsung. Ini bisa dilihat di IKIP PGRI (Teater Gema), Unnes (SS), Undip (Emka), IAIN Walisongo (Beta dan Asa), dan lain-lain. Ketika salah satu teater kampus kehabisan nafas, kampus lain tampil mengisi kekosongan. Demikian cara mereka melawan jeda. Lampu panggung tidak pernah padam, karena dinyalakan silih berganti oleh pegiatnya. Tanpa menafikan ''strukturalisasi'' kurikulum, pegiat teater Gema Vuri Setiaraharja berpendapat tradisi lisan menolong teater kampus agar tak jatuh dalam kebekuan. ''Pembakuan kurikulum akan membuat teater jadi beku dan mati. Apalagi jika hanya mengandalkan teori-teori yang diciptakan akademisi. Unsur kreativitas akan hilang, '' ujar wartawan televisi swasta itu. Tahun ini Gema berhasil menjaring 40 mahasiswa baru menjadi pegiat. ''Ini lonjakan besar. Dulu mencari 20-an saja sulit,'' ujar Badarudin, di sela-sela latihan di Aula IKIP PGRI Semarang. (Panji Satrio-32) |