logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 01 Desember 2007 MURIA
Line

Sebelas Tahun Jual Bibit Buah-buahan Keliling

SECARA tidak langsung, pekerjaan yang selama sebelas tahun ditekuni Sumarno (31), asal Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, bisa dikatakan ikut mengupayakan pelestarian alam. Sebab, selama kurun waktu tersebut, lelaki ayah dua anak itu adalah berkeliling menjual bibit pohon buah-buahan.

Bahkan, wilayah yang menjadi sasarannya dalam mencari pembeli tidak hanya sebatas di lingkup wilayah Kabupaten Pati, Kudus, Jepara, Grobogan, dan Demak. Akan tetapi, kadang-kadang masuk juga ke Kota Semarang dengan membawa puluhan batang bibit buah durian, kelengkeng, dan anggur.

Siapa pun penggemar tanaman, tentu akan menyukai bibit pohon buah-buahan jenis itu. Sebab, media untuk menanamnya tidak membutuhkan lahan yang luas, karena bisa juga dilakukan di dalam pot, sehingga penjualan bibit buah-buahan yang dijual dalam waktu satu hari pun bisa laku 100 batang.

Harga per batang, untuk bibit buah durian rata-rata Rp 25.000. Sedangkan bibit pohon kelengkeng jenis bola pingpong, per batang Rp 20.000, dan anggur baik yang merah maupun hijau Rp 5.000.

Selama keliling menjual bibit pohon buah-buahan itu, dia memilih tinggal di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. "Karena itu, jika harus berjualan ke mana saja cukup menggunakan sepeda motor,"ujarnya.

Dua Tahun

Dalam upaya menarik calon pembeli, katanya, dia pun membawa album foto berisi jenis tanaman yang dijual mulai dari proses penanaman sampai pohon itu berbuah. Bahkan, sampai buah durian yang sudah masak dan siap makan pun menjadi koleksi foto di albumnya.

Akan tetapi, pekerjaan yang ditekuni selama ini, bukan dia langsung yang mendatangkan dari Ngawi. Dia lebih senang memilih sebagai penjualnya, karena tidak harus menanggung risiko rugi jika ada bibit pohon yang mati atau tidak laku.

Dengan demikian, jika persediaan pohon yang akan dijual sudah habis, dia tinggal menghubungi penyedia di tempat asalnya. Karena itu, barang yang dikirim pun dalam jumlah besar, karena sekali kirim biasanya sebanyak satu truk.

Untuk menghabiskan bibit pohon sebanyak itu, kadang-kadang bisa mencapai satu bulan lebih. Jika musim hujan seperti sekarang, banyak warga yang berminat, sehingga sekali berangkat dengan memboncengkan 100 batang bibit pohon dalam waktu kurang dari setengah hari sudah habis.

Jika pada musim kemarau, dia lebih senang memilih berjualan bibit pohon buah-buahan ke Sumatera. "Sasarannya tidak hanya ke Medan, tapi juga sampai Pematangsiantar."(Alman Eko Darmo-36)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA