| Sabtu, 01 Desember 2007 | SEMARANG |
Mengubah Belukar Menjadi Harapan
TIDAK terpikirkan apabila hutan rakyat milik petani seluas 25 hektare di Dusun Pendem Desa Tegalrejo Wirosari berubah hijau penuh aneka ragam tanaman produktif. Padahal kata Ketua Kelompok Tani Rimba Jati Mukti I Sutono satu darsawarsa lalu kawasan tersebut terkenal tandus dipenuhi bebatuan. Tidak kurang pula, kawasan perbukitan tersebut, lebat dengan semak belukar dulunya. ''Kami mengolahnya mulai tahun 1998. Butuh kerja keras karena letaknya di lereng perbukitan,'' katanya. Sutono bersama 25 orang anggota kelompok tani awalnya butuh tempo satu bulan untuk melakukan pembersihan di areal lahan Perbukitan Karang Putih tersebut. Usai dibersihkan, lantas dibuatkan lubang sekaligus pemupukan agar tanaman jati bisa disemaikan. Air menjadi persoalan utama ketika bibit hendak ditanam. Di tempat itu tidak ada saluran irigasi yang mencukupi. Namun petani tidak kurang akal dengan menyiasati menanam bibit menunggu musim penghujan datang. Dibimbing pihak Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) 1000 bibit pohon jati ditanam waktu itu. Tanpa merasa lelah dilanjutkan dengan menanam pohon Mahoni, Mangga, Jambu Mete, Lamtoro, Rumput Gajah dan Akasia disela-sela tegakan pohon jati yang telah terlebih dahulu ada. ''Tiga tahun kemudian kami berhasil memetik manfaatnya. Puluhan Pohon Mangga, Jambu Mete, dan Mahoni berbuah dan hasilnya begitu dirasakan oleh petani,'' kata dia. Merasa belum cukup, mereka berinisiatif menyemaikan tanaman tumpangsari di lahan hutan. Kacang tanah, jagung, dan ketela menjadi pilihan tumpangsari. Hasilnya luar biasa, pohon yang ditanam terus berbuah sementara tanaman tumpangsari dijual dengan harga lumayan. Untuk satu kilogram jagung dijual Rp 2.000, kacang tanah Rp 5.000, sedangkan ketela Rp 2.500. Melihat itu, pemkab setempat memberikan bantuan 10 ribu bibit pohon mangga dan jati pada tahun 2005. Pemkab sekaligus mengajukan klomtan mengikuti penilaian Program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) masa tanam 2005. Penghargaan Presiden Ikutnya, Rimba Jati Mukti I dalam GNRHL berbuah penghargaan. Bersama enam gubernur, enam bupati dan lima ketua klomtan se Indonesia Sutono hadir menerima penghargaan yang diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Desa Cibadak Tanjungsari Bogor Jabar Rabu (28/11) lalu. Gubernur Jateng Ali Mufiz ditemui disela-sela acara penerimaan penghargaan mengaku bangga dengan prestasi yang ditunjukkan Grobogan. Gubernur juga berjanji akan memerintahkan seluruh warganya menghidupkan kembali budaya menanam di sekitar lingkungannya masing-masing. Setiap keluarga, lanjut dia, akan diminta menanam minimal dua batang pohon dalam setahun. Lanjut dia, Pemprov siap menyediakan bibit secara gratis bagi warganya. ''Di Jateng ada sekitar 8.000 keluarga. Jika setiap keluarga menanam pohon dua batang, maka dalam setahun sudah 12 ribu batang di tanam,'' ungkap gubernur. (Hari Santoso-16) |