logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 01 Desember 2007 BUDAYA
Line

Kembalinya Semangat Wayang Orang

"Kalau pementasan wayang orang bisa seperti ini, saya yakin upaya untuk kembali mendekatkan pada masyarakatnya tidak akan berhenti sebatas angan." (Ki H Manteb Soedharsono).

KELOMPOK wayang orang Griya Budaya Titah Nareswari (GBTN) Solo, Rabu (28/11) malam lalu, menggelar sebuah karya dengan lakon "Mulih Mula Mulanira". Hasilnya, antara lain seperti yang diungkapkan oleh dalang kondang asal Karangpandan, Karanganyar tersebut.

Ki Manteb tentu bukan asal memberikan penilaian. Apalagi dia juga terlibat sebagai pemain dengan peran sebagai Petruk. Paling tidak, karena juga ikut dalam proses penggarapannya, dia akan banyak tahu tentang kualitas pertunjukan malam itu.

Dalam hal garapan, banyak hal baru memang dari Titah Nareswari. Baik itu dari garap tari, catur, iringan, narasi dalang, bahkan juga menyentuh tema lakon. Hal-hal itulah yang menjadikan sajian pertunjukkannya terasa berbeda.

"Usaha-usaha penggalian seperti ini rasanya patut untuk dihargai. Apalagi kondisi wayang orang sekarang memprihatinkan," ujar Budiyana, pemerhati wayang orang yang turut mendukung pementasan tersebut.

Semangat Muda

Banyaknya hal baru dari unsur garapan "Mulih Mula Mulanira" boleh jadi tak akan bisa dilepaskan dari gairah muda seniman-seniman yang terlibat. Sekadar catatan, Titah Nareswari memiliki banyak nama seniman muda di luar B Subono selaku penata iringan.

Sebut saja di antaranya Ali Marsudi SSn (sutradara), Anggono W Kusumo SSn dan Widjanarko SSn (penata tari), dan Edy Sulistiono SSn (dalang). Dari merekalah kisah yang diambil dari epos Mahabharata ("Srikandi Maguru Manah" dan "Bangun Taman Maerokoco") itu kemudian tak sekadar hadir dalam kebakuan tradisi.

Suasananya juga coba dikinikan dengan zamannya, termasuk dengan merelasikan tema kegiatan dari Panggung Seni Seribu Bunga tentang konservasi lingkungan. "Rusaknya Taman Maerokoco mungkin bisa menjadi gambaran tentang buruknya konservasi alam karena kepentingan manusia," kata Ali Marsudi.

Selain itu juga ada perang kembang yang tidak hanya menghadirkan seorang tokoh cakil namum empat sekaligus. Dialog diungkapkan dalam garap tari yang kemudian terasa tidak membosankan. Begitu pun dengan narasi dalang yang tak harus nggedabyah, bahkan terkadang narasi itu cukup hanya dengan sebuah sulukan.

Dengan semangat yang seperti itu, jangan heran jika seorang mantan Menteri Sosial RI dan juga pemerhati wayang orang, Nani Soadharsono, menyempatkan untuk mengirim sepucuk surat.

"Saya bangga dengan kalian, anak-anakku yang mau menggali potensi budaya tradisi," begitu kata Nani Soedharsono yang juga pemilik kelompok wayang orang Sekar Budaya Nusantara. (Wisnu Kisawa, Sri Wahjoedi-45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA