| Jumat, 30 Nopember 2007 | SALA |
Cumulonimbus, Pertanda Angin RibutKOTA -Masyarakat diminta mewaspadai munculnya awan cumulonimbus. Pasalnya, awan tersebut merupakan pertanda alam akan terjadinya hujan deras dengan disertai angin ribut. Awan cumulonimbus berbentuk gumpalan putih menyerupai kapas atau bentuk sayur kol. Semakin lama, gumpalan awan itu akan menjulang tinggi. "Terjadinya gejala alam ini sifatnya lokal dan waktunya relatif cepat. Namun bisa mengakibatkan kerugian besar, karena angin ribut yang muncul kemudian bisa menghisap dan melempar benda ke atas," ungkap Zaenal Arifin, koordinator Analisa dan Pengolahan Stasiun Meteorologi Ahmad Yani (Stamet Ayani) Semarang ketika dihubungi Suara Merdeka, Kamis (29/11). Zaenal menjelaskan, kedatangan awan tersebut bisa diprediksi sebelumnya. Menurutnya, apabila pagi hari terasa panas terik dan kelembabannya tinggi, siang hari pasti akan ada awan Cumulonimbus, karena dipengaruhi pemanasan daratan. Pemanasan tersebut timbul karena pada masa pancaroba lama tidak terjadi hujan. "Kalau sudah mulai terlihat ada awan putih bergumpal seperti kol atau kapas, dan menjulang tinggi warga harus waspada. Nah kalau puncak dasar awan mencapai ketinggian maksimal, sekitar 45 ribu kaki, maka akan timbul angin ribut. Itu seperti yang terjadi beberapa hari ini di wilayah Karesidenan Surakarta," jelasnya. Menurutnya, awan cumulonimbus terjadi sangat cepat akibat pemanasan tinggi di permukaan bumi. Pemanasan tersebut mendorong uap air naik ke atas dengan cepat. Tekanan di bawah awan rendah, sementara udara di sekitar tinggi. Lebih lanjut, Zaenal menjelaskan, minimnya curah hujan yang terjadi disebebabkan karena munculnya Badai Tropis di timur laut Australia dan Samudera Hindia sekitar barat Sumatera pada awal bulan. "Badai Tropis itu yang menyebabkan angin monsun Asia, yang membawa hujan termasuk di wilayah Jawa Tengah terhambat masuk. Sehingga udara udara di sekitar menjadi panas tinggi," tambahnya. Dia mengatakan dalam beberapa hari ke depan di wilayah tersebut masih akan berpotensi terjadi angin ribut. Namun dalam skala yang lebih kecil, karena biasanya hal tersebut akan terus bergesar ke daerah -daerah lain. Diharapkan pada Desember - Januari frekuensi hujan sudah stabil sehingga meminimalisasi potensi awan cumulonimbus. Kendati demikian pihaknya meminta dinas terkait serta SAR di daerah untuk tetap bersiaga terkait perubahan cuaca yang ekstrim tersebut. (J6-67) |