logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 30 Nopember 2007 SEMARANG
Line

200.000 Hektare Lahan Ditanami Jagung Hibrida

KENDAL- Animo petani untuk membudidayakan tanaman jagung hibrida, dalam kurun waktu lima tahun terakhir mengalami peningkatan signifikan. Dari cakupan lahan tanaman jagung seluas 600.000 hektare yang ada di wilayah Jateng, lahan seluas sekitar 200.000 hektare atau 40 % di antaranya saat ini ditanami jagung hibrida.

''Adapun, lahan seluas 400.000 hektare lainnya, saat ini masih ditanami jagung jenis lokal,'' kata District Sales Manager PT Dupont Indonesia wilayah Jateng, Wiwik Wijayahadi di sela-sela pertemuan rutin bersama sejumlah distributor di sebuah rumah makan di Kendal, kemarin.

Dia menambahkan, para petani diestimasikan akan beralih memilih jagung hibrida karena jenis komoditas tersebut memiliki produktivitas yang lebih tinggi daripada jagung lokal. Untuk jagung hibrida jenis P11 dan P21, misalnya, di daerah Kendal mampu menghasilkan 8-9 ton jagung pipilan kering dalam setiap lahan seluas satu hektarenya.

''Di lahan dengan luas yang sama, jagung lokal hanya mampu memproduksi 1-2 ton jagung pipilan kering. ''Harga jual jagung pipilan kering jenis hibrida, serta lokal, sama. Yakni, Rp 2.200/kg. Hasil produksi jagung pada lahan pertanian di wilayah Kendal, memiliki kualitas lebih bagus dibanding dengan sejumlah daerah lain.''

Beragam Pemanfaatan

Ada beberapa faktor yang memengaruhi tingkat kualitas itu, lanjut Wiwik, misal, karena lahan pertanian di Kendal memiliki ketersediaan air dan sinar matahari yang mencukupi serta pipilan jagung dilakukan secara manual. ''Jagung hasil pipilan utuh.''

Dia menjelaskan, untuk mencukupi kebutuhan petani di Kendal, perusahaannya mengalokasikan benih jagung hibrida 200 ton/tahun. ''Jumlah pasokan itu masih belum mencukupi, lantaran realisasi kebutuhan benih jagung mencapai 270 ton/tahun.''

Lebih lanjut dia menjelaskan, di era 1980-an para petani belum ada yang menggunakan jagung jenis hibrida. ''Namun, perilaku tersebut berubah. Karena, dalam waktu lima tahun terakhir petani mulai beralih ke jagung hibrida. Produksi jagung saat ini mudah terserap pasar. Sebab, komoditas tersebut dapat dimanfaatkan beragam produk olahan. Seperti bahan bakar nabati, serat, bahan baku pakan ternak, dan makanan ringan manusia.'' (G15-16)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA