| Jumat, 30 Nopember 2007 | SEMARANG |
Koordinasi Antardaerah Perlu DitingkatkanBelum Terjadi Penularan AI AntarmanusiaUNGARAN - ''Dalam kurun waktu empat tahun perjalanan wabah avian influenza (AI) di Indonesia, virus HPAI (H5N1) asal unggas telah mengalami antigenic drift, sehingga mudah beradaptasi pada manusia (humanized) tapi tidak menular dari manusia ke manusia,'' kata Dr dokter hewan Darminto, Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner (Balitvet) Bogor, kemarin. Hal ini disampaikannya dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Penyakit Hewan Menular, yang digelar Dinas Peternakan Jateng di Hotel Ungaran Cantik 28-29 November. Lebih lanjut dijelaskan, sejak diisolasi pada awal terjadinya wabah AI pada unggas 2003, virus AI di Indonesia mengalami mutasi yang terus menerus. Mutasi tersebut ada yang tidak memiliki pengaruh biologi tapi ada yang memiliki dampak biologi sangat besar dan disebut antigenic drift. Virus AI asal unggas di Indonesia telah berkembang membentuk klaster tersendiri dan terpisah dari virus AI luar negeri. Selanjutnya muncul strain baru yang tidak bisa dikenali oleh antibodi yang diproduksi terhadap virus H5N1 isolat tahun 2003 dan tidak bisa dikendalikan oleh vaksin AI yang ada saat ini. ''Belum ditemukan virus AI (H5N1) yang memiliki afinitas tinggi terhadap reseptor sehingga belum pernah terjadi penularan dari manusia ke manusia,'' jelas Darminto yang menyampaikan materi perkembangan virus AI terkini. Kepala Disnak Jateng Ir Kusmaningsih MP berharap, dari kegiatan rapat koordinasi tersebut pembangunan ternak dapat dilaksanakan dengan baik dengan meningkatkan koordinasi dan kerja sama kabupaten/ kota dengan kabupaten/ kota lainnya maupun kabupaten/ kota dengan provinsi. Meski belum terjadi penularan antarmanusia, masyarakat Jateng diharapkan waspada dan tetap menjaga pola hidup bersih. Sasaran Kegiatan ''Pada pergantian musim seperti ini perlu kita tingkatkan kewaspadaan terhadap penyakit hewan menular serta vaksinasi untuk meningkatkan pelayanan kesehatan hewan melalui dana dekonsentrasi. Koordinasi antardaerah harus ditingkatkan,'' katanya. Pada pelaksanaan penanggulangan penyakit hewan telah dilaksanakan kegiatan biosekuriti, vaksinasi, pengobatan, karantina, pengawasan lalu lintas hewan, depopulasi, dan stamping out. Ia berharap langkah-langkah ini terus ditingkatkan dengan melakukan 3 E, yaitu early detection (deteksi penyakit cepat), early report (cepat melaporkan) sehingga cepat ditanggulangi, dan early respons (cepat menindaklanjuti). ''Sasaran yang hendak dicapai dari kegiatan ini adalah tercapainya kesamaan pandangan dalam menyikapi persoalan dalam pelaksanaan program penanggulangan dan pemberantasan penyakit hewan menular,'' tandasnya. Rakor tersebut dihadiri 60 orang terdiri atas dinas yang membidangi fungsi peternakan / kesehatan hewan kabupaten/ kota se-Jateng, subdin keswan dan kesmavet, balai pelayanan peternakan terpadu, laboratorium keswan tipe B dan kesmavet, dan Balai Karantina Hewan Kelas 1 Tanjung Emas. (H14-16) |