logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 30 Nopember 2007 SEMARANG
Line

Korban KM Senopati Terima Bantuan

  • Berencana Tabur Bunga di Mandalika

DEMAK - Para korban dan keluarga penumpang KM Senopati Nusantara yang tenggelam di perairan Mandalika, mendapat bantuan dari Pemkab Demak. Tali asih diberikan Bupati H Tafta Zani pada upacara peringatan HUT Ke-36 Korpri di alun-alun, kemarin. Terhadap korban yang meninggal diberikan Rp 1 juta, sedang yang selamat Rp 500 ribu.

Selain itu bupati juga menyampaikan bantuan kepada anak cacat, keluarga miskin. Juga diserahkan SK CPNS pada sejumlah tenaga honorer.

Koordinator paguyuban korban KM Senopati Nusantara, Hasyim Asyari menjelaskan, sebagain besar korban kapal tersebut adalah warga Demak. Dari sekitar 702 penumpang, 165 di antaranya warga Demak.

Dari jumlah 702 penumpang yang selamat hanya 240 orang. Sementara khusus warga Demak yang selamat sejumlah 88 orang dan yang meninggal dunia 77 orang. Hasyim menambahkan, tidak semua korban dan keluarganya bisa datang ke pemkab untuk menerima bantuan. Karenanya terhadap mereka yang belum dapat, khususnya warga Demak, dapat menghubungi dirinya di Desa Ngaluran Kecamatan Karanganyar Demak.

Menurut penuturannya, semua korban selamat dan keluarga korban yang meninggal dunia akan mengadakan haul massal di Ngaluran dan tabur bunga di perairan Mandalika, Jumat (21/12).

Suku Asing

Sementara itu dari sekian banyak korban KM Senopati yang selamat, terdapat seorang yang baru kembali di Demak dengan selamat sekitar bulan Juli lalu.

Dia adalah Fahrurozi (20) warga Desa Waru Kecamatan Mranggen. Sebelumnya dia dinyatakan korban yang meninggal karena tidak ditemukan selama berbulan-bulan.

Meski sudah lima bulan di rumah, dia belum bisa bercerita tentang dirinya sejak perahu tenggelam hingga selamat. Menurut salah seorang saudara dekatnya, Fahrurozi masih trauma dan bahkan baru bisa bicara hari Kamis kemarin.

Tidak banyak informasi dan cerita yang dapat diutarakan. Sorot matanya menunjukkan menyimpan pengalaman pahit yang sangat menegangkan. Dia hanya mengatakan, selama berbulan-bulan berada di hutan dan ditemani orang-orang dari suku asing yang daun telinganya panjang ke bawah.

Ia tidak tahu secara pasti kenapa dirinya berada di tengah suku itu. Meski ada perasaan takut yang amat besar, ia menyadari telah diselamatkan suku tersebut. Hanya saja, Rozi, tidak bisa memahami bahasa mereka.

Kondisi itu menjadikan ia berada di alam yang berbeda. Setiap hari, diberi makan daging babi dan anjing hasil buruan mereka. Makanan tidak pernah disentuh karena dipandang haram. Terkadang ada perasaan takut jika diperlakukan tidak manusiawi. Namun ketakutan itu tidak terbukti. Dia sendiri belum dapat bercerita perjalanannya hingga dapat kembali ke rumah. (H1-16)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA