logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 30 Nopember 2007 SEMARANG
Line

Penggunaan Garam Beryodium di Bawah 50%

  • Pedagang Dilarang Berjualan

DEMAK - Garam tidak beryodium yang beredar di sejumlah pasar di Kabupaten Demak masih cukup tinggi. Hal itu diketahui saat tim Pemkab menguji kandungan yodium pada garam yang dijual pedagang di beberapa pasar.Tim yang dikoordinatori Drs Suharto, Kasi Pendidikan, Kebudayaan dan Kesehatan Bappeda Demak itu beranggotakan, Dinas Kesehatan, Bagian Perekonomian, Disperindag dan Satpol PP.

Mereka menguji kandungan yodium dengan larutan iodium test. Garam yang kandungannya tinggi akan menunjukkan warna biru atau ungu jika terkena larutan air yodium. Jika tidak ada perubahan warna berarti tidak mengandung yodium. Kebanyakan garam tak beryodium itu berbentuk krosok atau pecahan besar yang berasal dari Pati dan Rembang.

Selain itu juga terdapat garam beryodium yang kandungannya sedikit. Garam tersebut dijual dalam kemasan plastik dengan berbagai merek. Sementara yang kadungannya cukup banyak seperti refina, perahu samudran dan lainnya.Terhadap garam tak beryodium, Pemkab Demak akan melarang penjualan untuk konsumsi.

Sebab, garam seperti itu semestinya bukan untuk konsumsi, tetapi untuk bahan pendukung produksi industri. Larangan itu telah tertuang dalam Perda 11 Tahun 2007 tentang pengaturan dan pengendalian peredaran garam tidak beryodium.Langkah awal dengan meminta para pedagang tidak menerima atau menjual garam tak beryodium.

''Saat ini kami sudah menyosialisasikan kepada pedagang. Kalau ada yang mengirim garam tak beryodium agar ditolak,'' katanya.

Dibawah 50 Persen

Kasi Gizi pada Dinas Kesehatan Kabupaten, Sri Sudarni menjelaskan, belum lama ini pihaknya telah melakukan penelitian konsumsi yodium pada masyarakat di 14 kecamatan. Tes dilakukan dengan cara meminta siswa SD membawa garam yang biasa dipakai memasak di rumah. Hasilnya menunjukkan masih rendahnya penggunaan garam beryodium.

Bahkan rata-rata prosentasenya masih di bawah 50 persen.Pihaknya menggunakan sampel pada garam yang dibawa siswa SD, karena mereka lebih mudah mengumpulkan. Apalagi, garam yang dikonsumsi anak tentunya sama persis dengan yang dikonsumsi orang tuanya.

Persoalan yodium, lanjut dia, sangat penting bagi pertumbuhan dan kecerdasan anak. Dengan penelitian di sekolah dasar diharapkan mendorong para guru untuk ikut menyosialisasikan pemakaian garam yodium.

Sebab kebutuhan yodium cukup penting untuk mendukung pertumbuhan dan kecerdasan anak. Karena mereka yang kekurangan akan mengalami kelambanan pertumbuhan dan kecerdasannya. Sri Sudarni menambahkan, gangguan akibat kekurangan yodium cukup berbahaya bagi anak.

Seperti kretin yakni keadaan seseorang sebagai akibat dari kekurangan yodium yang ditandai dengan keterbelakangan mental disertai ganguan pertumbuhan, kelainan syaraf dan gangguan pendengaran atau bicara.

''Jika banyak anak mengalami hal demikian, bagaimana dengan masa depan mereka,'' ujarnya. Sementara dari hasil pemeriksaan pada leher anak, diketahui sekitar dua persen mengalami gejala gondok. (H1-16)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA