| Jumat, 30 Nopember 2007 | SEMARANG |
SUDUT PANDANGGarap Wisata KonvensiMENGGARAP Semarang sebagai kota wisata konvensi, apakah bisa dilakukan? ''Tentu bisa,'' jawab Jack Yaaro Zega, Director of Sales Hotel Grand Candi Semarang. Istilah wisata konvensi memang terdengar baru. Jenis wisata itu mengacu pada kegiatan meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) yang kini mulai berkembang, meski belum terlalu kencang. Apabila MICE ini bisa dikelola dengan baik, akan mampu mendatangkan tamu dalam jumlah besar, memperpanjang lama tinggal, dan berdampak promosi besar yang menguntungkan industri pariwisata. Usai mengikuti acara konvensi biasanya terdapat free program. Selain hotel, mereka akan memanfaatkan jasa pariwisata, transportasi, restoran, dan belanja. ''Semarang memiliki keunggulan dengan tingkat keamanan serta harga kompetitif. Kita bisa lihat sejumlah acara partai politik ataupun pertemuan perusahaan berskala nasional di Semarang. Hal itu hendaknya bisa dipromosikan lebih gencar lagi untuk menjadikannya sebagai kota konvensi,'' kata dia yang baru menduduki jabatannya per September lalu. Sebagai dukungan fasilitas MICE di Jateng, kini sudah ada 25 hotel berbintang 3-5 dengan jumlah kamar sekitar 2.500 unit. Dari jumlah itu 1.586 unit kamar di antaranya terdapat di Semarang. Sedangkan ketersediaan ballroom, di Semarang terdapat sekitar 15 ballroom yang masing-masing bisa menampung 1.000-2.500 orang. Data Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (Asperapi) Jateng menyebutkan, perkiraan event konvensi baik skala besar, menengah, maupun kecil, sekitar 600 kali setahun dan event pameran 400 kali setahun. Dari jumlah itu, 80% diselenggarakan di Jakarta. Bahkan penyelenggaraan event besar di daerah pun sebagian besar masih ditangani organizer dari Jakarta. Sementara penyelenggaraan konvensi skala besar, menengah, dan kecil sekitar 50 kali setahun dan event pameran 40 kali setahun. Adapun konvensi dan pameran bertaraf internasional di Jateng tercatat hanya 3 kali. Bagi industri perhotelan, berkembangnya wisata konvensi tidak hanya mendongkrak okupansi kamar, tetapi juga sisi makanan dan minuman. Ke depan, industri ini harus bisa mengkreasikan pendapatannya dari fasilitas ballroom maupun ruang pertemuan yang dimiliki, seperti pengalamannya saat berkarir di hotel berjaringan internasional di Jakarta. Pria kelahiran Nias Sumatera Utara, 17 Mei 1968, tersebut mengatakan Jakarta dan Bali hingga kini masih menjadi primadona dalam penyelenggaran MICE berskala internasional. Semarang memang belum bisa mengejar dua daerah tersebut karena event berskala internasional yang berhasil diadakan masih bisa dihitung dengan jari. Karenanya upaya menangkap peluang itu perlu menggenjot lagi frekuensi pengadaan kegiatan lokal dan regional. (Moh Anhar-41) |