logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 30 Nopember 2007 BUDAYA
Line

Slapstick yang Membahagiakan

JABIR Huda Almansyur tak sepopuler Butet Kertaredjasa. Namun kepiawaiannya menirukan suara tokoh tak kalah dari raja monolog itu. Jika Butet bisa meniru suara Soeharto dan Habibie, Jabir pun mampu. Dia pun teteh memirip-miripkan suara dengan Gus Dur, Amien Rais, Aa Gym, Sukarno, Zaenudin MZ, dan Mbah Maridjan.

Dalam pentas lawak Terbang (Tertawalah Bangsaku) di auditorium Undip, Pleburan, Rabu (28/11) malam, dia unjuk kebisaan itu. Berbeda dari gaya monolog Butet, Jabir tampil menggunakan wayang. Tentu saja dengan tokoh politikus nasional lintas zaman itu.

Dikisahkan, mereka bertemu di forum rekonsiliasi nasional. Satu persatu tokoh berbicara, menyampaikan gagasan. Jabir cermat memperhatikan idiolek setiap tokoh, dari timbre, intonasi, dialek, sampai gaya deham. Alhasil, ratusan penonton terpesona. Dialog antartokoh yang kocak disambut gelak tawa.

Presentasi Jabir baru pembuka. Setelah dia mungkur dari panggung, acara yang dipersembahkan Idea Production dan LA Light itu berlanjut dengan aksi komedian asal Yogyakarta yang lain, seperti Eko Bebek, Dibyo Primus, Joned, Gareng Rakasiwi, Yu Beruk, Novi Kalur, Wisben Antoro, Dewo PLO, dan Show Imah.

Lakon Terbang yang ditulis Eko Bebek disajikan Agus Noor, sutradara, dengan gaya dagelan mataraman. Sepanjang dua jam pertunjukan, pemain menebar banyak peleset. Itu mengingatkan pada gaya lawakan komedian Yogyakarta lain, seperti Marwoto dan Lembaga Bantuan Humor (LBH) yang dipandegani Kelik Pelipurlara.

Lawakan mereka cenderung slapstick. Dibyo Primus dan kawan-kawan masih menggunakan jurus lama, seperti mengeksploitasi kelemahan fisik serta gestur dan dialog beraroma seks.

Melintas di Permukaan

Jika ada yang baru, mungkin penggunaan dua layar lebar di kedua sisi panggung. Tak cuma pembias, peranti itu untuk menampilkan lawakan hasil olah digital.

Terbang diimplementasikan dalam seting pertunjukan. Tak cuma di atas panggung, aura bandara sudah terasa semenjak penonton memasuki kompleks gedung pertunjukan. Poster pemain berkostum pilot dan pramugari terpampang besar-besar di depan pintu masuk. Tanda masuk pun menyerupai tiket pesawat terbang.

Namun sayang, sebagai tema, Terbang tampak melintas di permukaan. Ia hanya wujud visual, belum roh pertunjukan. Tema itu jadi sekadar bungkus atawa kemasan.

Dari sisi dramaturgi, alur pertunjukan tak jelas. Pembukaan, suspens, klimaks, antiklimaks, serta ending dinafikan. Adegan per adegan tak tertelangkai dengan baik.

Namun Terbang membahagiakan penonton. Mereka terhibur dan tertawa sepanjang pertunjukan. Jika itu yang jadi tujuan, selamat deh bagi kru Terbang.(Rukardi-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA