logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 29 Nopember 2007 BUDAYA
Line

Nyanyian Jawa yang Sungguh Berbeda

DI awal, pangkur jenggleng itu masih terasa gendhing Jawanya. Tapi ketika beberapa bait tembang berlalu, yang terdengar kemudian justru serupa nyanyian rap ala Amerika. Kalau Anda menyaksikan bagaimana kelompok Acapella Mataraman tampil di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta, Selasa (27/11) malam, boleh jadi akan mendapatkan Jawa yang berbeda. Bahkan sangat mungkin, itu kemudian memunculkan simpulan betapa Jawa yang begitu mapan oleh tatanan adat dan tradisi ternyata masih bisa "diorak-arik" sedemikian rupa.

"Selama ini kami memang mencoba mengedepankan manajemen antikemapanan dalam berkesenian. Kalau kemudian kenapa Jawa yang menjadi objeknya, karena sebagai bagian masyarakat Jawa, memang itu yang kami mengerti sejak kecil," kata Pardiman Djojonegoro, pimpinan kelompok asal Sleman, Yogyakarta tersebut.

Malam itu ada enam repertoar yang mereka tampilkan. Ada "Ngremo Dugem", "Reboisasi Cangkem", "Jur Sang Seng", "Cako Lokowok", "Pangkur Jenggleng", dan juga "Jineman Uler Kambang".

Namun jangan pernah membayangkan keenam nyanyian yang kebanyakan sangat dikenal dalam kebudayaan masyarakat Jawa itu akan terasa lazim dan patuh dalam wilayah etnisitasnya. Sebab, meski masih berkesan, rasanya akan sungguh berbeda.

"Kami ini tak ubahnya seperti bengkel. Jadi bisa saja kami kemudian melakukan tukar menukar onderdil. Yang jelas, prinsipnya adalah mengolah berbagai suara dengan mulut," ujar Pardiman beralasan.

Warna Lain

Dari pendekatan berkesenian yang demikian, ternyata justru menjadikan kelompok yang resmi berdiri pada 12 Maret 2005 ini tak sekadar anut grubyuk dunia penciptaan karya seni. Itu bisa dibuktikan ketika karya-karya dari kelompok tersebut kemudian seperti memberikan alternatif yang berbeda tentang tembang Jawa selama ini. Dan kalau boleh mengatakan, hal itu mampu memberikan warna lain pada "Panggung Seni Seribu Bunga" yang menjadi tajuk dari pergelarannya.

Pembertontakan terhadap kemapanan itu memang telah melahirkan karya yang sangat rekreatif. Tentu saja kemudian akan menghadirkan sesuatu yang menghibur--salah satu kepentingan dari persoalan kesenian. Paling tidak itu bisa diukur dengan aplaus yang sudah berkali-kali terdengar padahal sebenarnya sajian belum usai. Dari hanya mulut, komposisi musik yang terasa begitu lengkap "instrumennya" memang bisa dibangun. Bahkan didekonstruksi kembali dalam rasa yang berbeda.

Sebut saja dengan "Ngremo Dugem", betapa "Jula-Juli"-nya Jawa Timuran ternyata bisa begitu dekat dengan telinga anak-anak muda karena ada sentuhan modernitas musiknya. Atau juga pada "Pangkur Jenggleng" yang malah ngerap.

Menariknya, dalam mempresentasikan musik tanpa instrumen, Acapella Mataraman juga memasukkan unsur dialog serta teater tari. Dari sanalah Pardiman yang juga didukung oleh Suwarjiyo, Budi Pramono, Catur Kuncoro, Maryono, Wahyu Purwanto, Sutaryo, Shoimah Poncowati, Teresia Wulandari, Eny Lestari, dan Wahyuningsih banyak menghadirkan humor-humor segar yang sungguh menghibur.

"Satu hal lagi, kami juga punya muatan tentang konservasi lingkungan dari tema 'Panggung Seni Seribu Bunga'. Itu ada pada judul 'Reboisasi Cangkem' yang diangkat dari puisi Romo Sindhunata berjudul 'Ilmu Pring'. Di sana ada nilai tentang filosofi bambu yang sarat akan konservasi," katanya. (Wisnu Kisawa, Sri Wahjoedi-45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA