logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 28 Nopember 2007 SALA
Line

Pasar Triwindu di Tengah Geger Radya Pustaka (3-Habis)

Tersedia Fosil dari Sangiran

BARANG - barang antik makin lama tentu makin sulit dicari. Itulah sebabnya stok barang-barang antik di Pasar Triwindu, Solo makin lama juga semakin berkurang. Pada tahun 1970 - 1980- an masih banyak barang antik yang benar-benar asli ditemukan di pasar itu. Sekarang, yang paling banyak tiruan (copy). Namun, meskipun sulit dicari, kadang pedagang masih memperoleh barang antik asli.

Dari mana barang-barang itu diperoleh? Biasanya berasal dari para kolektor. Lho, kenapa barang milik kolektor dijual? Bukankah mereka selalu mencari? ''Biasanya setelah sang kolektor meninggal dunia, lalu anak-anaknya yang menjual pada pedagang Pasar Triwindu,'' ujar Bahrun salah seorang pedagang.

Bisa jadi, para ahli waris itu menjual barang tersebut karena benar-benar membutuhkan uang. Bisa pula, karena mereka tidak mengikuti jejak orangtuanya menjadi kolektor. Dari pada barang dibiarkan telantar, lalu dilego saja ke Pasar Windu.

Dengan demikian, bisa jadi barang antik itu dulunya berasal dari Pasar Triwindu, kembali lagi ke pasar itu. Di Triwindu kadang barang itu tak lama, berpindah tangan, dibeli kolektor lainnya lagi. Begitulah perjalanan kepindahan barang-barang itu seperti lingkaran.

''Jika kolektor dari dalam negeri, apalagi hanya sekitar Kota Solo, barang-barang itu masih ada kemungkinan bisa kembali ke Triwindu lagi. Tetapi jika pembelinya turis mancanegara, kemungkinan barang kembali sulit,'' kata seorang pedagang.

Barangbarang antik dalam bentuk arca, lampu gantung, gelas kristal, uang logam zaman penjajah selalu ada pembelinya. Harga sebuah lampu gantung benar-benar antik berukuran 28 cm (garis tengah kap lampu) sekitar Rp 800.000. Yang bergaris tengah 35 cm ke atas, harganya antara Rp 3 juta dan Rp 10 juta.

Lampu-lampu indah itu ada yang buatan Inggris, Belanda, dan Italia. Orang-orang kaya di Solo biasa membeli barang-barang seperti itu, untuk meningkatkan citra kemewahan rumahnya. Yang benar-benar sedikit peminatnya barang antik di pasar depan Pura Mangkunegaran ini adalah fosil.

Ya, di sana memang banyak dijual fosil berbagai macam binatang. Fosil-fosil itu berusia ratusan tahun. Dari mana fosil-fosil itu diperoleh? ''Kami membeli dari orang-orang Sangiran (Kabupaten Sragen-red),'' ujar seorang pedagang yang enggan disebut namanya.

Fosil berukuran kecil, harganya hanya belasan ribu rupiah. Namun yang seukuran lengan manusia, antara Rp 150.000 dan Rp 200.000.

''Kami menjual sebuah fosil berukuran kecil dengan harga Rp 25.000. Murah kan?'' kata Yoyok seorang pedagang sambil menujuk sebuah fosil seukuran telapak tangan manusia. Penasaran? Silakan datang ke Pasar Triwindu. (50)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA