| Rabu, 28 Nopember 2007 | WACANA |
Guru Bukan Kongsi Ilmu
Tugas pengembangan ilmu pengetahuan pasti amat penting, namun penting pula diingatkan bahwa usaha-usaha keilmuan dalam masyarakat pendidikan di negeri kita lebih banyak salah kaprahnya. KONGRES Nasional Guru yang sejak kemarin (27 November 2007) di Jakarta, sebagai bagian dari upaya kolektif menyempurnakan praksis kependidikan nasional. Pemupukan dan pengolahan suatu sistem nilai selaku pilar sekaligus reservoir bangunan kemanusiaan, mustahil akan terlepas dari peran kaum pendidik dan pendidikan. Meskipun wahana kependidikan itu berlangsung dalam tripusat pendidikan (keluarga, sekolah, dan lingkungan), fungsi sekolah sebagai andalan pembudayaan sistem nilai masih akan dominan. Guru sebagai narasumber belajar tetap tak bisa disingkirkan, betapapun dikembangkan cara belajar yang berbasis pada murid; di sisi lain sudah berkembang teknologi belajar dengan instrumen canggih- canggih. Seperti dinyatakan Coombs dalam bukunya The World Crisis In Education (Oxford University Press, 1985), betapa pentingnya fungsi guru dalam membangunan mutu pendidikan dan perkembangan belajar murid-muridnya tidak pernah akan dilewatkan. Guru yang baik mampu membuat murid-murid dengan modal pas-pasan menjadi makin pintar; dan sebaliknya, guru yang kurang baik justru akan memperbodoh bakat-bakat kepandaian muridnya. "Baik" dalam konteks itu bukan hanya urusan etis, malainkan mencakup kompetensi seorang guru. Namun demikian, adalah wajar bila dalam konteks usaha pendidikan, seorang guru otomatis seorang pendidik yang harus pertama-tama memberikan teladan pada anasir perwatakan manusiawi. Dalam pada itu Prof Slamet Iman Santosa menjelaskan secara gamblang, bahwa tujuan pendidikan itu adalah untuk mengembangkan optimalnya bakat dan kemampuan manusia. Pengembangan optimal dimaksud mendasari kemampuan seorang manusia untuk hidup dan bertahan dalam masayarakat secara terhormat (Iman Santosa, 1979, 167). Dalam berbagai ceramahnya, tokoh yang digelari "Bapak Psikologi Indonesia" itu menegaskan, agar mampu hidup dan bertahan dalam masyarakat secara terhormat, manusia Indonesia harus memenuhi lima sifat dasar. Yakni, pandai, jujur, berdisiplin, tahu kemampuan diri, dan mengenal batas kemampuan diri. Jelaslah, bahwa ketimbang kultus kecerdasan, pendidikan lebih dimaksudkan guna mengembangkan segi perwatakan manusia. Pengaruh dominannya kekuatan watak terhadap kecerdasan itu, tampak misalnya pada kasus seorang manusia cerdas namun mudah jatuh karena tidak memiliki sifat ulet. Salah Kaprah Jika demikian, apakah penguasaan ilmu pengetahuan dalam pendidikan oleh seorang guru tidak lagi menjadi tugas dan keniscayaan paling penting? Tugas pengembangan ilmu pengetahuan tersebut pasti amat penting, namun penting pula diingatkan bahwa usaha-usaha keilmuan dalam masyarakat pendidikan di negeri kita lebih banyak salah kaprahnya. Kelatahan itu berakibat sebaliknya, yakni berhasil sungguh-sungguh menguasai ilmu pengetahuan justru telah membuat pendidikan dan para gurunya terperosok ke dalam ketidaktahuan baru. Ketaktahuan pertama adalah bahwa ilmu pengetahuan masih banyak diajarkan secara intelektualistik-robotik, sehingga segi pemahamannya dikorbankan oleh tradisi drilling dan penghafalan. Sejarah, misalnya, digalakkan pembelajarannya hanya pada pengetahuan tahun-tahun perang dan nama-nama raja serta pemuka rakyat; bukan kausalitas eventual, permaknaan kekinian, dan implikasi-implikasi futuristik. Kesalahkaprahan berikutnya adalah adanya anggapan dikotomis bahwa antara ilmu pengetahuan dan budi pekerti adalah dua hal yang saling baku desak, yang salah sebuah implikasinya membawa anggapan sesat bahwa ilmu pengetahuan bukanlah wahana pembangun karakter manusiawi. Kelindan antara kedua jenis kesalahkaprahan tersebut kuat sekali menandai kegiatan pendidikan kita, sehingga hanya akan menambah keruwetan yang semakin sukar pembenahannya. Petunjuk untuk persoalan pertama, misalnya, pada jenis kurikulum yang terlalu berat bagi para murid sekolah, bahkan juga bagi para gurunya. Praktisi pendidikan J Drost mengatakan, Indonesia adalah negara satu-satunya di dunia yang menyelenggarakan pendidikan hanya bagi 30 persen murid. Maksudnya, hanya sekitar kurang dari sepertiga jumlah murid sanggup mencerna keseluruhan pelajaran dalam kurikulum, karena saking luas dan beratnya. Tipe Hegemonik Prof Mochtar Buchori (1994,10) menilai, keputusan kita untuk membiarkan kurikulum sekolah dasar dan sekolah menengah "membengkak" terus menerus menimbulkan kesan seolah-olah kita tak tahu apa-apa tentang epistemologi (teori pengetahuan) dan psikologi. Itulah latar belakang penting dunia pendidikan dan guru yang menjadikan hafal-menghafal sebagai tipe hegemonik pembelajaran. Dalam pada itu, sumber dari permasalahan kedua adalah kebutaan akan filsafat ilmu di antara para guru, pakar (ilmu) pendidikan, dan pejabat kependidikan. Mereka tampaknya kurang mengerti bahwa ilmu pengetahuan (science) memiliki bangunan sistem nilai yang mendasarinya. Camkan hirarki yang ditunjukkan Daoed Joeseof berikut ini: teknik ada karena teknologi; teknologi ada karena ilmu; ilmu ada karena adanya kultur keilmuan. Kebenaran Sebagaimana dipaparkan oleh Jacob Bronowski (1975), untuk contoh kultur tersebut pertama-tama ilmu itu menempatkan kebenaran selaku nilainya yang paling tinggi, yang memang dikejar. Nilai-nilai lainnya yang harus ada ketika sekelompok masyarakat ingin membudidayakan ilmu adalah : demokrasi, kemerdekaan berpikir dan berpendapat, kejujuran, serta keterbukaan dan ketahuan akan batas kebenaran ilmiah. Karena itu, mudah diduga bahwa amburadulnya nilai-nilai yang berguguruan diterjang arus antinilai dalam komunitas pendidikan dan keguruannya justru disebabkan oleh lemahnya penguasaan ilmu pengetahuan para guru. Dalam pada itu, mesti diakui bahwa masyarakat kita hari ini kiranya memang sedang kehilangan reservoir kerohanian dan spiritualnya. Detak-detak batin bangsa ini semakin melemah tertindih oleh detak perkasanya dunia materi, hegemoni kepenguasaan, dan proses pemiskinan ekologi óterutama ekologi prmikiran seperti ditegaskan oleh filsuf Karl Popper. Dalam arus involusi budaya yang nyata berlangsung di tengah bukit-bukit semakin menggunungnya keberlimpahan materiil dan dominasi kepenguasaan lebih sedikit orang, wacana keguruan hanyalah bagaikan suara kerbau, suatu lenguhan yang tak sedap di telinga orang. Padahal, dalam spirit penghormatan untuk profesi guru yang tak pernah bisa dibatalkan, ada hal yang diharapkan bahwa semestinya para guru teristimewa lapisan elitenya yang bernasib lebih baik tidak membanting sendiri harkat profesinya itu. Sadarkah kaum guru bahwa komunitasnya kini bukan lagi kongsi ilmu pengetahuan, melainkan seringkali malahan maujud dalam kongsi kepenguasaan atau kongsi bisnis?(68) - Drs Slamet Sutrisno MSi, dosen Fakultas Filsafat UGM, anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Klaten. |