| Rabu, 28 Nopember 2007 | WACANA |
TAJUK RENCANADaya Tahan Ajakan Balik ke SepedaAjakan untuk kembali menoleh ke sepeda sebagai alat transportasi yang sehat dan menyehatkan, kini berkembang sebagai tren di berbagai daerah. Bahkan ada pemerintah kabupaten di Jawa Tengah yang telah mencoba mempraktikkan penggunaan sepeda onthel untuk keperluan ngantor pulang pergi. Pernah pula, seorang wali kota mencontohkan naik sepeda dari rumah dinasnya ke kantor yang relatif cukup jauh, sekitar 6 kilometer. Hanya, gebrakan itu menjadi contoh yang belum berlanjut. Pencanangan yang disiapkan masih berkesan formalistis, selebihnya "terserah anda", dan kelanjutan pelaksanaannya masih ditunggu. Secara idealistis, kampanye penggunaan sepeda patut dihargai apabila didasari komitmen kuat dan sistematis untuk membangun hidup sehat. Baik bagi penggunanya, maupun sebagai kontribusi kepada lingkungan. Jika bisa dilaksanakan secara massal dan konsisten oleh mayoritas pegawai pemerintahan di suatu daerah, dapat dibayangkan berapa persen polusi bisa dikurangi dari kemungkinan penggunaan kendaraan bermotor. Sekaligus juga tercakup praktik penghematan bahan bakar minyak. Tetapi persoalan di balik gambaran idealistis itu tentu tidak sesederhana gerakan-gerakan atau kampanyenya. Kelompok bersepeda kini juga bermunculan mengampanyekan gerakan menggunakan kembali kendaraan roda dua itu. Hanya, sifatnya baru semacam rekreasi lewat kegiatan-kegiatan yang digelar pada hari libur. Ada kelompok-kelompok kecil yang mengajak, dan telah mempraktikkan penggunaan sepeda untuk keperluan transportasi pekerjaan, di luar kelompok besar yang memang menjadikan sepeda bukan sekadar alat angkut alternatif melainkan sebagai sarana utama. Kelompok besar ini umumnya adalah mereka yang dari sisi praktis - ekonomis memanfaatkan sepeda sebagai alat transportasi maksimal yang dimiliki. Sebagai gagasan dan alternatif transportasi, sepeda merupakan pilihan menarik andai didukung fasilitas yang memadai. Arus lalu lintas yang dipenuhi pengendara sepeda pada tiap pagi dan sore di jalan-jalan utama menuju pabrik-pabrik, boleh dikata masih menyimpan risiko kecelakaan dan kesemrawutan tinggi. Kepadatan stereotipe itu terjadi pada jam-jam tertentu, yang pada sisi lain menciptakan kondisi tidak nyaman. Jika pertimbangan untuk menoleh kembali ke potensi sepeda dijadikan sebuah political will, tentu dibutuhkan konsep kebijakan yang berpihak pada ketersediaan jalur-jalur khusus sepeda. Belanda menyediakan jalur khusus pengendara sepeda yang disebut fietspad. Sepeda bukan sekadar alat angkut alternatif, melainkan telah menjadi pilihan yang diapresiasi sebagai kebutuhan. Telah tertanam kesadaran hidup sehat dengan lingkungan yang sehat, dan penggunaan sepeda menjadi bagian dari kontribusi kesadaran menjaga lingkungan. Di masyarakat kita, kultur transportasi masih dihadapkan pada realitas kendaraan sebagai pencitraan diri, prestise, yang bahkan dikelola sebagai gaya hidup, bukan didasari kebutuhan praktis dan pilihan apresiatif yang bersentuhan dengan lingkungan. Dinamika kesadaran mengenai ikhtiar untuk mengurai kemacetan lalu lintas, mengurangi polusi yang cenderung menjadi-jadi, pada akhirnya memang akan mendorong ke arah pilihan-pilihan. Setidak-tidaknya patut kita hargai iktikad sekelompok warga untuk menggalakkan penggunaan sepeda di berbagai kalangan. Formulasi konsep untuk tidak sekadar menekankan back to cycle sebagai gaya hidup, tentu butuh pembarengan kampanye dan gebrakan-gebrakan nyata yang konsisten. Bukankah kita sering dihadapkan pada problem daya tahan, dan sikap-sikap gebyar sesaat, tren, yang cepat memadam? |