| Rabu, 28 Nopember 2007 | WACANA |
TAJUK RENCANAMalaysia, Tumbuhnya Percikan DemokrasiPelan tetapi pasti. Pegerakan demokrasi di Malaysia mulai terasa getarannya. Jika semula masyarakat hanya diam memendam jengkel, kini terus berkembang menjadi lebih berani. Anwar Ibrahim mencoba membuka gembok raksasa yang bernama pengebirian demokrasi berkepanjangan. Sudah terlalu lama dan menjengkelkan pemilu demi pemilu hanya menghasilkan kejenuhan, dan hanya UMNO - lah yang menikmati. Kecurangan tertutupi dengan sangat rapi dan telah berlangsung berpuluh tahun. Mahathir Mohammad menjadi aktor yang tidak tersentuh hingga berakhirnya kekuasaannya. Kini, PM Abdullah Badawi mewarisi keadaan di mana sebagian besar rakyat menginginkan perubahan mendasar. Kita membayangkan sebuah negeri yang bernama Malaysia itu hampir mirip dengan Indonesia di bawah Orde Baru. Hampir tidak ada orang yang berani "bersiul" karena dia bisa ditangkap dan ditahan tanpa melalui proses pengadilan lebih dulu. Jika seorang tokoh dikehendaki, bisa saja siang atau malam masuk penjara. Jika seseorang sudah tidak lagi diminati, maka bersiaplah menjadi terdakwa dengan banyak tuduhan, termasuk tuduhan sodomi. Nasib pun bisa berubah mendadak dari posisi menteri keuangan menjadi pesakitan sehingga membutuhkan seorang kepala polisi menghajarnya sampai lehernya patah. Peristiwa seperti itu bisa terjadi di abad semodern ini di Malaysia. Materi pemberitaan media massa yang dikendalikan pemerintah tak bisa lagi menutup mata atas semua keganjilan dan kekejaman. Diam-diam para pengelola media mulai iri dengan apa yang terjadi di negeri-negeri tetangganya yang begitu terbuka menyuarakan aspirasi. Orang-orang yang semula penakut berubah menjadi pemberani. Kenapa ? Karena ketakutan yang memuncak ketika hidup hanya sekali saja tetapi berada dalam tekanan bertahun-tahun. Dan, ketika masyarakat telah mencapai kemakmuran maka bukan lagi kekayaan yang harus dihimpun tetapi lebih penting mengaktualisasikan dirinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara lebih sehat. Mereka yang tertindas menemukan jalan baru ketika semakin banyak pemberani muncul ke permukaan. Awalnya memang membutuhkan seorang korban seperti yang dialami Anwar Ibrahim. Tetapi dari dialah semua borok terkuak karena dia dulu berada di arus utama lingkaran kekuasaan. Benih demokrasi biasanya selalu membutuhkan korban seperti pernah dialami seorang Bintang Pamungkas, Petisi 50, dan lain-lain di sini ketika melawan Soeharto. Pada gilirannya akan selalu tumbuh tunas-tunas baru yang akhirnya menjadi barisan panjang dan menakutkan bagi rezim mana dan siapa pun. Di konteks itulah sebenarnya Malaysia sedang bergerak ke arah sana. Gerakan Bersih yang dipelopori oposisi kemudian dilanjutkan Aksi Hak Hindu menunjukkan ketidakpuasan yang meluas. Tak bisa dipungkiri, etnis China juga India selama ini tidak mendapatkan pelayanan yang baik. Di samping itu, peluang pekerjaan bagi mereka sangatlah sedikit. Merasa tidak diberikan kesempatan yang sama dengan etnis Melayu, maka mereka menuntut hak. Jika pemerintah sekarang tidak menggubrisnya, kita yakini gerakan akan semakin meluas dan sangat mungkin berpotensi konflik. Benih gerakan yang sekarang tidak lagi bisa ditumpas dengan cara-cara barbar dengan menyemprotkan agas pemedih mata. Cara ini hanya akan mengundang balik rakyat kembali turun ke jalanan. Pemerintah Malaysia sekarang tengah diuji masalah politik dan sosial yang sesungguhnya. Perlakuan yang berbeda terhadap etnis minoritas pada akhirnya tetap ada batasnya. Tidak bisa ketidakadilan terus menerus dipertontonkan dan diberlangsungkan dengan kawalan senjata. Jika membandingkan di sini, di mana dulu militer sangat berkuasa pun akhirnya harus berkompromi dengan keadaan yang berubah. Situasi sudah sedemikian berubah, maka cara-cara penyelesaian pun tidak lagi bisa dengan strategi kuno. Semakin represif pemerintah Badawi, pastilah tetap akan dilawan. Terlalu lama hidup dengan rasa takut, maka ketakutan itu dengan sendirinya akan menghilang. |