| Rabu, 28 Nopember 2007 | NASIONAL |
SBY: Yang Pesta Lupa Cuci Piring
JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, saat ini pemerintah, dalam perang memberantas korupsi, ibaratnya tengah mencuci piring untuk berbagai permasalahan masa lalu. ''Saya harus mengatakan, memang kita ini sekarang harus bekerja keras untuk mencuci piring, biar bersih. Karena seingat saya, banyak dulu yang berpesta, lupa mencuci piring. Malahan barangkali yang diingat, yang lebih disenangi mencuci tangan ketimbang mencuci piring,'' kata Presiden saat meresmikan gedung Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) di Jl Juanda, Jakarta Pusat, kemarin. Presiden mengajak semua pihak tidak mengganggu kegiatan mencuci piring yang dilakukan siang dan malam. Dia juga meminta semua pihak jangan menghidupkan lagi bisnis yang modalnya dari KKN, kongkalingkong, kolusi penguasa dan pengusaha, karena inilah yang akan membawa bencana bagi perekonomian Indonesia. Dia menegaskan bahwa kegiatan cuci piring yang berjalan non stop tersebut demi terwujudnya pemerintahan yang bersih di Indonesia. ''Kalau semuanya baik, itu transaksi luar dan dalam negeri makin bersih, negara kita akan selamat, termasuk selamatnya aset dan keuangan negara yang kita miliki,'' tambah SBY. Sekali Tusuk Menurut Presiden, tindak pidana pencucian uang itu sering berkaitan dengan kejahatan-kejahatan lain yang luar biasa serius, seperti korupsi, narkotika, penyelundupan, illegal logging, pidana perbankan dan perpajakan. ''Semua itu ada kaitannya dengan transaksi keuangan yang gelap. Oleh karena itu sekali tusuk melalui pemberantasan dan pencegahan tindak pidana pencucian uang ini, kita bisa juga menindak jenis-jenis kejahatan yang lain,'' tandasnya. Makin majunya transaksi keuangan yang ditunjang teknologi canggih, menurut SBY, adalah pedang bermata dua, di satu sisi bikin efisien dan bikin cepat juga berkembang kejahatan yang makin canggih. ''Oleh karena itu PPATK harus lebih hebat lagi dibanding kejahatan-kejahatan seperti itu.'' Menurutnya, bila aset dan keuangan negara berhasil diamankan dari berbagai tindak kejahatan keuangan, maka pembangunan akan bertambah baik yang berarti bertambah baiknya kesejahteraan bagi masyarakat. Presiden juga membantah kabar tentang adanya ''Kabinet Malam Hari'' yaitu pendekatan-pendekatan di luar hukum oleh para pelaku korupsi kepada elit pemerintahan. ''Tidak ada kabinet malam hari dan pendekatan yang miring atau out of system, hati-hati menyebarkan berita,'' katanya. Presiden juga bersumpah bahwa tidak ada politik tebang pilih dalam pemberantasan hukum. Masyarakat hendaknya langsung melaporkan kepada Kapolri, Kejagung dan Presiden bila ada praktek tebang pilih. SBY meminta PPATK dan aparat penegak hukum terus menindak para koruptor yang saat ini tenang-tenang dan diam menikmati korupsi. ''Hari gini, masih tenang duduk saja di bangku korupsi,'' sindir Presiden. Reaksi PDI-P Pernyataan ''cuci piring'' yang dilontarkan Presiden mendapat reaksi dari PDI-P. Wakil Sekjen DPP PDI-P Aria Bima menilai, SBY pilih-pilih piring yang dicuci. "Itu hanya wacana, retorika untuk menutupi kelemahannya. Cuci piring yang dilakukan SBY sekarang itu piring yang tidak pernah dipakai. Dan piring yang kotor, yang dia (pakai) makan, tak akan dicuci," ketus Aria Bima di Gedung DPR, Senayan, Selasa (27/11). Menurut dia, SBY bukan yang sama sekali baru dalam pemerintahan. Sejak era Megawati Soekarnoputri pun, SBY sudah menjadi menteri. Jadi, kata dia, ''pesta'' yang terjadi pada pemerintahan sebelumnya ikut menjadi tanggung jawab SBY. "Yang harus ditekankan, SBY itu orang lama. Bukan orang baru. Bagaimana mau mencuci piring, kalau sabutnya juga kotor?" kata Aria Bima. "Karena SBY itu bukan orang yang terlalu bersih. Kalau memang bersih, SBY harus berani diaudit kekayaannya. Pada level mana, jabatan apa, dia mempunyai apa. Itu kalau mau fair," imbuh Aria yang juga wakil ketua Fraksi PDI-P DPR itu. Menurut dia, kalau mau fair, jangan ada tebang pilih dalam ''cuci piring''. Menurut pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris menilai, pemimpin sepatutnya menjadi teladan bagi masyarakatnya. Curhat Presiden mengenai ''cuci piring'' dinilai terlalu sensitif. Seorang pemimpin mestinya tidak terlalu reaktif. "Itu patut disayangkan. Mestinya SBY itu tidak reaktif seperti ini. Kalau bahasa ABG-nya itu terlalu sensi." Dia menilai, gaya berpolitik seperti ini tidak lazim. Bagaimana pun, meski ada perbedaan pandangan politik, pemimpin tidak harus saling menjatuhkan. "Ini memprihatinkan, pemimpin politik saling menjatuhkan secara tidak etis," ujarnya. Syamsuddin menjelaskan, jika ada perbedaan pandangan mestinya tidak bersifat personal. "Di satu sisi mungkin Pak SBY terpancing, dan di sisi lainnya bisa karena personal.'' Untuk Mengingatkan Sementara Sekjen Partai Demokrat (PD) Marzukie Ali berpendapat, curhat ''cuci piring'' yang dimaksud Presiden bukan hendak ''menyerang'' lawan politiknya maupun karena terlalu sensitif, melainkan hanya untuk mengingatkan. "Kalau sensitif, sejak awal jabatan dong. Itu hanya mengingatkan," kata dia. Menurut dia, pernyataan itu dimaksudkan SBY karena masih ada hal-hal yang harus dibenahi dari pemerintahan terdahulu. Nanti pun, jika SBY tak lagi berkuasa, pemerintahan selanjutnya juga melakukan hal yang sama. "Di mana pun di dunia ini, pemerintahan yang baru menyelesaikan apa yang kurang di pemerintahan yang lalu. Begitu juga pemerintahan yang akan datang, tentu akan membenahi usaha pemerintahan yang telah lalu," jelas Marzukie. "Persoalan bangsa ini kan banyak. Persoalan tidak bisa diselesaikan dalam waktu yang singkat," imbuh Marzukie. ''Cuci piring'' yang dimaksud SBY, lanjut dia, adalah menyelesaikan masalah-masalah itu. Perlu kerja sama dan persatuan untuk itu. Lebih baik membiarkan pemerintahan yang sekarang menyelesaikannya dengan fokus sampai akhir masa jabatan. "Kalau diganggu terus, kapan kerjanya?" tutup Marzukie. Jubir Kepresidenan Andi Mallarangeng menyebut, curhat SBY itu sebagai bahasa spontan. Lalu siapa yang berpesta tapi lupa cuci piring? "Silakan dipikirkan sendiri. Saya pikir sudah mengertilah," jawab Andi. "Pak SBY menggunakan istilah yang dalam situasi tertentu bisa dimengerti. Itu bahasa spontan," imbuh dia. Menurut Andi, bukan pertama kalinya SBY mengeluarkan kata-kata secara spontanitas. Pernyataan itu juga bukan keluar karena SBY sedang sensitif. "Ini biasa saja, bicara tanpa teks dengan bahasa yang mudah dimengerti," pungkasnya. (F4,dtc-49,62) | ||||