| Rabu, 28 Nopember 2007 | SEMARANG |
Penyakit Kencing Tikus Jadi AncamanDEMAK - Leptospirosis atau penyakit kencing tikus menjadi ancaman serius bagi masyarakat Demak menyusul meninggalnya lima penderita pada tahun 2007 ini. Penyebaran penyakit tersebut masih berpotensi tinggi karena populasi tikus di daerah tersebut cukup besar. Penyakit yang disebabkan bakteri leptospira itu ditularkan melalui kencing tikus. Dari hasil penelitian tim dari Balai Besar TKL Yogyakarta dan Jateng terhadap 31 ekor tikus ditemukan 17 tikus positif membawa bakteri tersebut. Bukan hanya tikus rumah yang berpotensi, tikus sawah juga memiliki potensi serupa. Sementara, tidak sedikit petani yang melakukan pembunuhan massal terhadap hewan itu dan membuangnya di sembarang tempat. Apabila tikus yang terdapat bakteri itu terkena luka manusia, maka dipastikan orang tersebut akan mengalami sakit. Penyakit ini cukup rawan karena masa inkubasi bakterinya tergolong pendek. Apabila, penderita tidak mendapatkan pertolongan dini dapat mengakibatkan gagal ginjal dan mengancam keselamatan jiwanya. Karena itulah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Dokter Budi Suprijatno melalui Kasi Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Sri Hartanto mengimbau kepada masyarakat untuk secepatnya membawa ke rumah sakit atau puskesmas jika ada anggota keluarga yang mengalami gejala klinis seperti demam, panas tinggi, betis nyeri dan mata menguning. Selama ini penderita yang tidak tertolong karena mereka dibawa ke puskesmas atau rumah sakit saat kondisinya sudah parah. ''Semua puskesmas siap memberikan pertolongan kepada penderita leptospirosis. Di tempat itu juga telah disiapkan alat pendeteksi cepat,'' katanya. Makan Tikus Jika penyakit yang disebabkan kencing tikus menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan Kabupaten agar ditangkap dan dikubur seletah dibunuh, tidak demikian dengan warga Desa Wonoketinggal Kecamatan Karanganyar. Para petani desa tersebut memburu tikus bukan hanya untuk dibunuh karena mengganggu tanamannya. Akan tetapi mereka juga memakan hewan itu. Kepala Desa Wonoketingal Ali Munawar menuturkan, masyarakat di daerahnya tidak asing dengan memakan tikus sawah. Mereka menganggap jika memakan tikus, maka hewan yang dikenal licik itu akan ketakukan. Setidaknya hal itu dibuktikan saat warga membongkar sarang, tikus-tikus itu tidak bisa lari dengan cepat sehingga mudah ditangkap. ''Hewan itu sudah terlalu takut, jadi tidak bisa lari. Biasanya, sebelum tikus di makan terlebih dahulu dibakar. Rasa dagingnya seperti daging burung. Kalau tidak percaya coba saja,'' katanya. Karena sudah terbiasa warga daerahnya tidak menganggap jijik. Karenanya ketika melakukan penangkapan terhadap tikus-tikus sawah, mereka enjoy saja menangkap tikus sambil makan ketela bakar. Ali Munawar mengaku, tidak pernah terpikir akan terkena penyakit kencing tikus atau leptospirosis. (H1-16) |