logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 28 Nopember 2007 SEMARANG
Line

Belajar Sejarah Langsung dari Pejuang

Lima puluh pelajar SMP, SMA dan SMK di Semarang memperoleh kesempatan langka. Jika biasanya para siswa mempelajari Sejarah Pertempuran 5 hari di Semarang (14-18 Oktober 1945) dari buku-buku teks sekolah, Selasa (27/11), bertempat di Museum Mandala Bhakti di kawasan Tugu Muda, mereka berkesempatan mendengarkan kisah tersebut dari pelakunya.

Mereka adalah Sudiyono, Kusmin, Nurlan, dan Hasan Nurhadi yang tergabung dalam Paguyuban Pelaku Pertempuran 5 Hari di Semarang yang bermarkas di Gedung Juang 45.

Sudiyono, ketua paguyuban itu, mengatakan kepada para siswa bahwa pertempuran yang diikutinya itu merupakan pertempuran pertama sejak Indonesia merdeka.

Kegiatan napak tilas kepahlawanan peristiwa pertempuran 5 hari di Semarang itu, diprakarsai oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang.

Koordinator kegiatan, Drs Edi Purwanto menjelaskan, tujuan napak tilas adalah menanamkan nilai-nilai sejarah agar para generasi muda mencintai dan menghargai jasa para pahlawan.

Kasi Kepemudaan Subdin Binmudora Dinas Pendidikan Kota, Drs Djoni Siswanto MPd menambahkan, ada 15 sekolah yang berpartisipasi dalam kegiatan itu. Selain siswa, para guru juga dilibatkan.

Usai mengikuti kegiatan, tambah Djoni, para siswa diharuskan menulis laporan kegiatan tersebut ke Dinas Pendidikan Kota.

Salah satu peserta, Dinny Kurniasari dari SMAN 5 mengaku senang bisa mengikuti kegiatan itu karena dapat belajar sejarah langsung dari para pelakunya. Ia berharap acara serupa rutin digelar.

''Kalau bisa sih bertepatan peringatan pertempuran 5 hari di Semarang.''

Usai berkeliling Museum Mandala Bhakti, rombongan melakukan napak tilas ke Markas Kidobutai di Jatingaleh, kemudian menuju tandon air Wungkal, RS dokter Kariadi, penjara wanita Bulu, Tugu Muda, Tawang, dan Sobokarti, didampingi para pelaku sejarah.

Sebagai tambahan informasi, pada 14 Oktober 1945, 8 anggota polisi yang sedang bertugas menjaga di tandon air Wungkal diserang tentara Jepang, kemudian dilucuti, disiksa, dan dibawa ke Markas Kidobutai Jatingaleh.

Tentara Jepang mencegat dan membunuh dokter Kariadi yang saat itu menjabat Kepala Laboratorium RS Purusara (sekarang RSDK-Red) yang sedang dalam perjalanan memeriksa tandon air Wungkal yang menurut laporan telah diracuni Jepang.

Di kompleks Tugu Muda, Jepang melakukan kekejaman dengan menyiksa, dan membunuh para pejuang yang tertangkap.

Para pejuang yang lain memberikan balasan dengan memberondong habis tahanan-tahanan Jepang di Penjara Bulu (sekarang penjara wanita Bulu-Red). (Ida Nursanti-56)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA