logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 28 Nopember 2007 EKONOMI
Line

Pasang Harga Grosir, Alfa Disukai

BEGITU informasi penutupan gerai Alfa Supermarket meluas, toko ritel tersebut diserbu pelanggannya. Kemarin siang, lahan parkir terlihat penuh oleh mobil pengunjung. Begitu pula dengan pembayaran kasir yang harus antre. Suasana itu jelas berbeda dengan hari sebelumnya.

Bukan hanya karena rencana tidak beroperasi lagi, Alfa mematok harga diskon besar-besaran hampir di semua produk. Tidak heran bila kemudian banyak barang habis dan rak yang kosong. Alfa nampaknya sengaja cuci gudang agar stok yang dimiliki cepat habis.

Keberadaan Alfa mewarnai pasang surut bisnis ritel di Semarang. Saat mulai beroperasi 1993, persaingan ritel hanya diperlihatkan oleh Pasaraya Sriratu dan Swalayan Ada. Bandingkan dengan situasi pasar ritel saat ini. Begitu keluar dari pagar rumah, di seberang jalan kini mudah didapati minimarket. Kecenderungan belanja saat ini bergeser pada minimarket yang lebih mendekat ke konsumen. Belum lagi hadirnya hipermarket dengan skala bisnis yang lebih besar. Kondisi itu menjadikan persaingan lebih ketat.

"Meski tingkat konsumtif warga Semarang terbilang rendah, perkembangan bisnis ritel tumbuh dinamis. Hal itu terlihat dari banyaknya perusahaan ritel yang mengembangkan sayapnya," kata Prapto W, Store Manager Alfa Supermarket Semarang.

Alfa Supermarket berkembang di bawah bendera PT Alfa Retailindo Tbk. Barang yang dijual didominasi kebutuhan pokok (consumer goods) dan peralatan rumah tangga. Cabang-cabangnya tersebar di banyak kota di Indonesia. Di Semarang, Alfa menempati area penjualan di lahan seluas 2.400 m2 dengan mempekerjakan 153 karyawan.

Dalam berpromosi Alfa mengusung slogan: "Belanja partai, belanja eceran, harga grosir." Tentunya ini menjadi pemikat bagi konsumen. Soal rencana penutupan mulai 28 Desember mendatang, Prapto hanya menjelaskan itu merupakan kebijakan manajemen pusat di Jakarta. Lepas dari kebijakan itu, yang perlu digaris merah, Alfa jelas mewarnai bisnis ritel di Kota Lunpia. Lokasinya tidak termasuk berada di pusat perniagaan, seperti halnya kebanyakan supermarket lain.

Bahkan sepanjang Jalan Raden Patah, tempat Alfa berkembang, pernah didera rob yang berkepanjangan hingga 2005. Kondisi itu mengakibatkan akses transportasi terganggu, karena jalan tergenang air dan rusak. Lantai bangunan Alfa sendiri pernah ditinggikan sekitar 1 meter untuk menghindari rob. Namun kendala itu terus dilewati dan berkembang hingga kini. Bila rencana penutupan Alfa ini terjadi, maka ia akan menambah daftar panjang perbelanjaan modern yang sudah berguguran di Semarang, seperti Mickey Morse dan Super Ekonomi. (Moh Anhar-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA