| Rabu, 28 Nopember 2007 | BUDAYA |
Bersatu dalam JazzMENYAKSIKAN Jak Jazz 2007 di Istora Senayan Jakarta selama tiga malam, akhir pekan lalu, tidak berlebihan bila kemudian muncul ungkapsan bersatu dalam jazz. Para musisi dari berbagai negara berkumpul dalam keakraban bersama ribuan penonton untuk satu tujuan, yakni mengapreasi musik jazz. Lantas, seolah ada kesengajaan untuk membuat komposisi personel band yang tampil lebih kompleks dalam ajang jazz tahunan yang disponsori Dji Sam Soe Super Premium tersebut. Beberapa band besar terdiri atas musikus berlainan kewarganegaraan. Yang paling menonjol adalah Bill Sharpe and Geography yang tampil di panggung utama pada malam kedua, Sabtu (24/11) malam. Bill Sharpe yang tidak lain adalah pemain kibor Shakatak dari Inggris tampil bersama Don Grusin (AS) dan Tetsuo Sakurai (Jepang). Nama yang disebut terakhir adalah pencabik bas ternama yang telah menelorkan sekitar 50 album, baik solo maupun saat bergabung dengan Casiopea dan Jimsaku. Selain itu ada Curtis King asal Amerika Serikat yang sengaja melibatkan Jana, seorang pemain instrumen berdawai guqin dari Beijing, China. "Saya sangat cinta Asia. Karena riwayat perjalanan bermusik kami yang panjang di benua ini, kami merasa senang bila bisa bermain bersama musisi besar di kawasan ini," ujar Curtis King. Grup yang sekarang bermarkas di Ho Chi Minh City, Vietnam, ini cukup lama melalang buana di Asia. Mereka pernah lama menetap di Singapura, Thailand, dan Vietnam. Kompleksitas Puncak acara sepertinya terjadi pada Sabtu atau malam kedua pemnyelenggaraan Jak Jazz, ketika Spyro Gyra tampil di panggung utama Super Premium yang berkapasitas sekitar 10.000 penonton. Bisa jadi karena alasan malam itu adalah malam libur atau bisa juga karena alasan bintang utama yang tampil adalah yang paling dinanti penonton. Spyro Gyra adalah band tua yang didirikan pada 1974 dan sering bergonta-ganti pemain. Malam itu meeka tampil lengkap dalam formasi terakhir. Beberapa nomor fusion penting mereka bawakan seperti "After the Storm" dan "Morning Dance" yang sangat populer itu. Jay Beckenstein (saksofon) dan Tom Schuman (kibor), dua nama yang masih bertahan hingga sekarang, tampil bersama Julio Fernandez (gitar), Bonny Bonaparte (drum), dan Scott Ambush (bas). Kompleksitas juga tejadi dalam tubuh band ini. Bonny Bonaparte dan Scott Ambush yang baru bergabung dalam beberapa tahun terakhir adalah musikus berkulit hitam. Sementara Jay, Julio, dan Tom berkulit putih. Tidak hanya perbedaan warna kulit, beat drum Bonny yang cenderung funky otomatis menghadirkan aroma yang berbeda dalam penampilan Spyro Gyra kali ini. Bahkan drummer yang wajahnya mirip Mike Tyson tersebut dalam beberapa kesempatan melakukan improvisasi sambil menyanyi. Lantunan yang dibawakannya pun cenderung ngerap. Rasanya tema "Paint the Town Jazz" yang diusung perhelatan jazz bertaraf internasional ini memberikan makna lain yang lebih luas. Yakni mensintesakan perbedaan dalam persaudaraan musik universal. (Asep BS-45) |