| Rabu, 28 Nopember 2007 | BANYUMAS |
Gejung Lesung, Kolaborasi Musik KampungCIPTA kreatif pertunjukan musik, utamanya musik tradisional Banyumasan rupanya perlu bersiap menerima satu jenis musik kolaborasi baru. Setelah DKKB memperkenalkan Cakenjring (calung, kentongan dan genjring) yang sudah diuji hingga Republik Ceko, maka sejumlah seniman kampung di Desa Padamara, Kecamatan Padamara Purbalingga kini merintis kesenian gejug lesung. Dipimpin Karsono (47), sejumlah pelaku seni yang sebelumnya membawakan sajian secara terpisah, kini berhimpun dalam grup kesenian gejung lesung Laras Kerti. Kesenian ini merupakan kolaborasi antara gejung lesung (kotekan lesung), dengan genjring (rebana) dan calung. "Ketiganya biasa dibawakan terpisah, saat coba digabungkan ternyata menghasilkan sebuah paduan yang indah," kata bapak dua anak itu. Karakter utama gejung lesung kokoh berkat kemampuan eksplorasi bunyi dengan instrumen musik yang terhitung lebih minimalis ketimbang Cakenjring. Kolaborasi ini dimainkan lima orang penabuh lesung, para pemain satu set genjring dan dua gambang serta satu kendang yang merupakan pethilan calung. Ujung Tombak Empat pasang penari laki-laki dan perempuan, menjadi ujung tombak penampilan dalam unsur gerak. Tentu, ukuran lesung yang tergolong besar dan berat itu, membuat gejug lesung tak bisa dimainkan dalam pawai sebagaimana kentongan. Pertunjukkan ini masih pula dilengkapi dengan seni suara (sinden) yang melantunkan sejumlah tembang khas Jawa. Sebut saja di antaranya lagu "Ande-Ande Lumut", "Anoman Obong", "Incak-Incak", dan "Perahu Layar". Sejumlah lagu ciptaan sendiri, selain sejumlah lagu khas Banyumasan yang sedang digali, juga akan memperkaya penampilan. "Kami memilih tembang Jawa sebagai wujud pelestarian budaya yang memiliki pesan luhur," tambah pemilik nama asli Sukarsono itu. Happy Merdikowati (19), salah satu penari mengatakan, sebagai sebuah rintisan, Laras Kerti menunjukkan semangat berkesenian yang patut diapresiasi. Mahasiswi Unsoed asal RT 2/RW1 Padamara ini memaklumi masih dibutuhkan upaya untuk menyempurnakan unsur musik, gerak dan tembang. "Namun di tengah minimnya kegiatan seni, hal ini sudah bagus," imbuhnya. Saat mulai dirintis, sejumlah alat musik merupakan pinjaman grup kesenian lain. Bahkan, lesung sebagai alat musik dominan pinjam dari Desa Sokawera. Hal itu disebabkan pihaknya tidak kas. Setiap kali ditanggap, masing-masing anggota hanya beroleh Rp 10.000. "Namun Sabtu besok, (24/11) kami sudah punya lesung yang baru dibuat," imbuh Merdikowati. (Sigit Harsanto-75) |