| Selasa, 27 Nopember 2007 | PANTURA |
Penyuluhan Perilaku Hidup SehatKalau Berbahaya Ditutup Saja PabriknyaSALAH satu kriteria dalam perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah tidak ada anggota keluarga yang merokok. Selain dapat menyebabkan kanker, rokok merupakan akses menuju ke narkoba. Selain merugikan perokok, juga merugikan perokok pasif yang berada di sekitarnya. "Awalnya merokok, tapi lama-kelamaan bisa mencoba narkoba," tutur Kepala Bidang Program Kesehatan Titi Endah SH saat penyuluhan perilaku hidup bersih dan sehat pada pengajian Nasyiatul Aisyiyah Kota Tegal di SMU Muhammadiyah, kemarin. "Bila merokok berakibat negatif mengapa masih banyak orang yang membeli atau menjual rokok, mengapa Dinas Kesehatan tidak melarang rokok," tanya salah satu peserta pengajian yang mewakili SMU Muhammadiyah. "Iya Bu, pabrik rokoknya ditutup saja diganti jadi pabrik jamu biar bangsa Indonesia jadi sehat semua," timpal peserta lain. "Wah kalau soal larangan merokok itu urusan negara, apalagi menyuruh mengubah pabrik rokok jadi pabrik jamu. Yang penting pemerintah sendiri sudah berusaha meminta kepada pabrik rokok untuk mencantumkan peringatan mengenai bahaya merokok di bungkus rokoknya," tutur Titi. Menurutnya, hal itu sudah merupakan satu prestasi yang bagus. "Mana ada sih orang jualan, tapi mencantumkan bahaya pada produknya? Kalau masih ada yang beli itu tergantung pada individunya," jelasnya lagi. Menurut dia, berhenti merokok bagi pecandu memang sulit. Ada dua cara untuk dapat berhenti merokok, yaitu secara bertahap dan langsung. Selain itu harus ada niat yang kuat dari pecandu dan dukungan keluarga. 11 Indikator Titi menjelaskan, selain tidak ada anggota keluarga yang merokok, kriteria lain sebuah rumah tangga sehat adalah rumah tangga yang memenuhi minimal 11 indikator dari 16 Indikator PHBS tatanan rumah tangga (Sehat Utama). Antara lain menggunakan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, menggunakan jamban yang memenuhi syarat kesehatan, membuang sampah pada tempat yang disediakan, mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar, persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, keluarga secara rutin menggosok gigi minimal 2 kali sehari dan keluarga tidak meminum minuman keras yang mengandung alkohol dan tidak menyalahgunakan narkoba. Dalam kesempatan tersebut selain penyuluhan mengenai PHBS, Dinas Kesehatan juga memberikan penyuluhan mengenai pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Kasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit, Yuli Prasetya SKM Mkes mengatakan, di Jateng jumlah HIV saat ini mencapai 959 kasus. Dari jumlah tersebut 317 kasus adalah AIDS dengan 149 penderitanya meninggal dunia. "Mereka yang rawan HIV/AIDS adalah pengguna narkoba suntik dan pasangannya, wanita/pria pekerja seks dan pasangannya, napi, homoseksual, waria dan pelanggannya," tuturnya.(Cessnasari-17) |