| Selasa, 27 Nopember 2007 | PANTURA |
Puluhan Ha Tanaman Bawang Rusak
TEGAL - Akibat kesulitan mendapatkan air, puluhan hektare tanaman bawang di Kelurahan Debong Lor, Kecamatan Tegal Selatan, Kota Tegal rusak. Daun tanaman yang baru berumur sekitar tujuh minggu itu mengering. Akibatnya, petani terancam merugi karena hasil panen dipastikan menurun. Usman (35), salah seorang petani bawang menuturkan, air sulit didapat karena pasokan dari bendung tidak ada sejak bulan September lalu. Saluran irigasi kini rata-rata kondisinya mengering. Kalaupun ada pasokan air, petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli. Selama musim tanam, biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli air Rp 160.000/ ha. "Hampir seluruh tanaman di daerah kami saat ini rusak karena kekurangan air. Jumlahnya mencapai puluhan hektare, termasuk tanaman saya seluas seperempat bau," katanya, kemarin. Akibat rusaknya tanaman bawang itu, dia menambahkan, hasil panen dipastikan menurun. Lantaran pasokan air kurang, pertumbuhan tanaman menjadi lamban dan buah tidak bisa besar. Saat kondisi normal, tanamannya seluas seperempat bau itu mampu menghasilkan tiga ton. Namun, untuk panen kali ini diperkirakan hanya 2,4 ton. "Dampak sulitnya air ini, hasil panen petani di daerah kami rata-rata akan turun hingga 20 persen," tuturnya. Hal senada dikatakan Warja (58), petani bawang di Kelurahan Bandung, Kecamatan Tegal Selatan. Menurutnya, akibat kesulitan air biaya tanam menjadi membengkak. Sebab, untuk tetap mendapatkan air pihaknya harus menggunakan mesin pompa. Sekali menyedot air minimal membutuhkan biaya Rp 25.000. Padahal, kebutuhan air harus dipenuhi selama melakukan tanam. "Setiap hari saya terpaksa menyedot air dengan mesin pompa. Kalau tidak, tanaman saya bisa rusak dan terancam gagal panen," ujarnya. Terkecoh Dia mengatakan, petani di wilayahnya berani mulai tanam karena akhir Oktober lalu turun hujan. Kondisi itu dikira sudah memasuki musim hujan. Namun, hujan ternyata sebentar dan kini kembali kering. "Kami rata-terkecoh kondisi cuaca, sehingga berani mulai tanam," tuturnya. Koordinator Pelaksanaan Alokasi Air BPSDA Pemali-Comal, Dasirun SST mengatakan, di saat kemarau petani Kota Tegal biasanya mendapat pasokan air dari Waduk Cacaban melalui Bendung Pesayangan. Namun, hingga kini Waduk Cacaban masih ditutup karena debit airnya minim. Hujan yang sempat mengguyur belum bisa memberikan tambahan debit air yang cukup. Bila dipaksa dibuka dikhawatirkan cadangan air waduk habis. "Saat ini volume air di Waduk Cacaban hanya tersisa sekitar 5 juta meter kubik. Kami baru berani membukanya bila volumenya mencapai 10 juta meter kubik," paparnya.(H38-17) |