| Selasa, 27 Nopember 2007 | OLAHRAGA |
Menembak Tak Pasang Target MulukREALISTIS dengan keadaan. Itulah sikap Pengurus Besar Persatuan Menembak Seluruh Indonesia (PB Perbakin) pada SEA Games 2007. Dari 38 medali emas yang diperebutkan, Indonesia hanya mengincar dua keping untuk dibawa pulang. Materi petembaknya juga hanya enam orang. Ditilik dari jumlah medali yang ditargetkan, tentu jumlah tersebut sangat sedikit. Statistik perolehannya hanya 0,76 persen dari total medali yang disediakan. Anggota kontingen yang diberangkatkan juga bukan petembak dengan segudang pengalaman internasional yang memadai. Bagaimana pun, para atlet tetap yakin dengan kemampuan meraih dua emas di Thailand. Salah satu landasannya adalah pencapaian di SEA Games 2005 lalu. Ketika itu, petembak Barry Agustini mampu meraih dua emas dari nomor air rifle dan air pistol. Hasil tersebut membuat kepercayaan diri Barry menguat untuk bisa mengulangi prestasinya. Keyakinan itu bertambah besar dengan persiapan sempurna. Tiga petembak, misalnya, dikirim untuk berlatih di Jerman guna mematangkan skill dan mental bertanding. Mereka adalah Inca Ferry, Yoshefhin Shilla Prasasti, dan Maxima Risado. Shilla dkk berlatih di sana tiga pekan juga untuk memilih senjata dan amunisi yang cocok. Langkah itu penting karena setiap senjata memiliki spesifikasi tersendiri. Konsentrasi Inca dan Maxima mampu mencapai skor 389 pada nomor air rifle dalam Kejuaraan Dunia Internasional ISSF 2007 di Bangkok awal November. Shilla berhasil mencatat skor 385. Pada Kejuaraan Menembak Asia Tenggara (SEASA) di Kualalumpur, Inca, Shilla, dan Maxima masing-masing mencatat skor 388, 387, dan 384. Raihan skor mereka masih terpaut jauh dari pemegang medali emas SEA Games 2005 Tham Thuy Hong (Vietnam) yang mencatatkan 396 angka. "Dengan berlatih di Jerman, kami ingin meningkatkan skill petembak. Sasarannya tak hanya SEA Games 2007 saja. Kami juga membidik Olimpiade Beijing 2008," kata manajer tim Indra Warga Dalem. Para petembak sekarang sudah berada di Thailand. Mereka mulai bertanding hari ini. Tiga atlet yang berlatih di Jerman langsung berangkat ke sana tanpa kembali ke Indonesia. Tiga atlet lain, yakni Erlinawati Chalid, Maryono, dan Barry sudah bertolak sejak 11 November. Kedatangan yang lebih cepat dimaksudkan untuk mematangkan persiapan sekaligus mengevaluasi hasil-hasil latihan. "Kami berharap semua petembak mampu menjaga keadaan fisik dan psikisnya. Mental mereka harus tetap stabil. Mereka tak boleh kehilangan konsentrasi," papar Indra. (Budi Yuwono-78) |