logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Nopember 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Dikecewakan BPN Klaten

Pertengahan Juli 2006 ayah membeli sebidang tanah (HM No 42) seluas 2.380 m2 atas nama Sudarni yang terletak di Desa Tempursari, Ngawen, Klaten. Melalui Notaris PPAT Ananto Kumoro SH, tanggal 1 Agustus 2006 semua berkas transaksi jual-beli dan persyaratan didaftarkan ke Kantor Pertanahan Klaten (BPN) untuk pembuatan sertifikat baru.

Pendaftaran No DI 24265/2006 dan No Berkas 25632/2006. Tiga bulan kemudian saya tanya ke notaris, dijawab sertifikat belum jadi. Sejak itu tiap seminggu sekali saya menanyakan hal yang sama. Setelah lebih dari 3 kali, notaris menyarankan saya mengecek langsung ke kantor BPN. Saya cek ke kantor BPN dan pegawai bagian pengaduan menjawab sertifikat memang belum jadi.

Saya disuruh tanya ke bagian balik nama tapi di sana tidak mendapat jawaban memuaskan. Begitu juga ke bagian pengukuran, gambar, izin pertanian dan entah bagian apa lagi saya kurang hapal. Sepertinya antarbagian saling lempar tanggung jawab. Saya justru dipingpong yang intinya, semua tidak memberi jawaban jelas sampai di mana proses pembuatan sertifikat tersebut dan kapan jadinya.

Sekarang sudah akhir November 2007 yang berarti sudah 14 bulan. Lantas kapan jadinya dan apakah mesti menunggu sampai tertahun-tahun. Apakah untuk mempercepat pembuatan sertifikat harus memberi uang pelicin terlebih dulu kepada sejumlah oknum di kantor BPN Klaten?.

Ayah jelas dirugikan secara moril dan materiil, lantas apa kompensasi dari BPN Klaten atas kerugian tersebut. Apakah cukup minta maaf, padahal ayah sudah mengeluarkan biaya jutaan rupiah. Kepada kepala Kantor Pertanahan/BPN Klaten mohon tanggung jawabnya dan semoga hal yang memalukan wong cilik ini tidak terjadi pada yang lain.

Sunardi (0272 322989)

Belangwetan RT 1/RW 2, Klaten

Shalat Tahajud Bisa

Sembuhkan Kanker

Sebuah penelitian ilmiah menyimpulkan, shalat tahajud membebaskan seseorang dari pelbagai penyakit. Berbahagialah yang rajin shalat tahajud. Di satu sisi pahala bertambah, di lain sisi bisa memetik keuntungan jasmaniah yaitu terhindar dari pelbagai penyakit. Penelitinya dosen Fak Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya, Muhammad Sholeh saat meraih gelar doktor.

Dia meneliti para siswa SMU Lukanul Makin di Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya yang secara rutin selalu shalat tahajud. Shalat ini dilakukan di penghujung malam yang sunyi hingga mendatangkan ketenangan. Sementara ketenangan itu sendiri terbukti mampu meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi risiko terkena penyakit jantung dan meningkatkan usia harapan hidup.

Sebaliknya bentuk tekanan mental seperti stres atau depresi, membuat orang rentan terhadap infeksi dan mempercepat perkembangan sel kanker serta meningkatkan metastasis (penyebaran sel kanker). Tekanan mental terjadi akibat gangguan irama sirkadian (siklus bioritmik manusia) yang ditandai adanya peningkatan hormon kortisol.

Hormon ini bisa dipakai sebagai tolok ukur untuk mengetahui kondisi seseorang apakah stres atau tidak. Untungnya, kata Sholeh, stres bisa dikelola. Dan pengelolaan itu bisa dilakukan dengan cara teknis relaksasi/perenungan, dan umpan balik hayati. Nah, shalat tahajud mengandung aspek meditasi dan relaksasi sehingga dapat digunakan sebagai pereda stres.

Namun pada saat yang sama shalat tahajud juga bisa mendatangkan stres, terutama bila tidak dilaksanakan secara ikhlas dan kontinyu. "Jika tidak dilaksanakan dengan ikhlas, bakal terjadi kegagalan dalam menjaga homeostasis/daya adaptasi terhadap perubahan pola irama pertumbuhan sel yang normal. Niat yang tidak ikhlas akan menimbulkan kekecewaan, persepsi negatif dan rasa tertekan.

Perasaan negatif dan tertekan itu menjadikan rentan serangan stres. Dalam kondisi stres yang berkepanjangan akan mengakibatkan daya tahan tubuh menurun sehingga rentan terkena infeksi dan kanker.

Menurutnya, shalat tahajud yang dijalankan dengan tepat, kontinyu, khusuk dan ikhlas dapat menimbulkan persepsi dan motivasi positif.

Amar Makruf

Purwogondo Kalinyamat, Jepara

***

Ongkos Demokrasi

Saya membaca anggaran Pemilu 2009 yang disodorkan oleh KPU berkisar Rp 40 juta triliunan. Pojok Sir Pong harian ini lalu berkomentar: "Anggaran Naudzubillah... "Jujur saja saya tidak bisa membayangkan. Atau jangan-jangan saya yang terlalu bodoh dan culun buat memikirkan betapa mahalnya ongkos demokrasi itu.

Dengan membandingkan kasus Myanmar misalnya, betapa demokrasi tak juga terbeli meski dengan darah dan air mata bahkan nyawa. Saya bertanya apakah tidak ada sistem sederhana yang bisa menghemat pengeluaran . Di sisi lain kehidupan ekonomi mayoritas masyarakat senin-kemis akibat harga kebutuhan pokok yang mahal ditambah lagi dengan biaya pendidikan kian melangit.

Saya tidak ingin berprasangka buruk meski pengalaman lalu di program KPU sarat dengan KKN. Bahkan telah "menyeret" Prof Nazarudin dan Mulyana W Kusumah ke bui. Semoga pengalaman itu jadi pelajaran bagi KPU yang baru agar tidak bermain-main dengan uang rakyat.

Saya ingin mengungkapkan doa tulus sbb: Ya Allah, hamba-Mu yang rakyat jelata ini berdoa semoga, andai pun ongkos demokrasi yang begitu mahal dan tak bisa lagi ditawar, produk yang dihasilkan hendaknya lebih bermutu. Dalam arti pada Pemilu 2009 akan menghasilkan DPR yang berkualitas yang selalu mendengar dan mau mengemban amanat penderitaan rakyat.

Juga akan menghasilkan presiden yang amanah dan mampu menjadi nakhoda bagi bahtera negeri ini ke tujuan yang kami idam-idamkan. Karena sesungguhnya hanya Engkau yang mahakuasa ya Allah, maka hanya kepada-Mu kami bergantung dan berharap akan masa depan dan nasib Indonesia yang lebih baik di jalan yang Engkau ridhoi.

Heru Mugiarso

Jl Bukit Kelapa Sawit IV/30-31, Semarang

***

Menunggu Nasib

Kalau keterampilan menulis tidak dianggap menentukan rnasa depan, tanyakan pendapat bagian perekrutan pegawai di sesuatu perusahaan. Setelah mereka menyeleksi ratusan atau ribuan surat lamaran, pendapat umum yang mereka berikan pastilah keluhan.

Bahwa antara satu pelamar dan pelamar lainnya sulit dibedakan keterampilannya secara tertulis. Calon yang potensial atau bukan, semuanya menjual diri dengan format sama dan bahasa yang sama pula.

Mengapa demikian, karena mereka hanya menjiplak format surat lamaran yang telah ada. Mereka menjiplak walau sudah sarjana karena keterampilan menulisnya memang menyedihkan. Akibatnya pun fatal.

Bagian perekrutan rata-rata hanya memerlukan waktu singkat untuk memeriksa/menyeleksi surat lamaran. Dapat dibayangkan berapa banyak surat yang bergaya seragam itu meluncur ke tempat sampah. Realitas brutal dan tak kenal ampun ini terjadi akibat minusnya keterampilan menulis pada sumber daya manusia adalah hukum besi yang tak mudah diingkari.

Pakar pemasaran legendaris, Al Ries dan Jack Trout dalam bukunya Horse Sense : The Key to Success Is Finding a Horse to Ride (McGraw-Hill, 1991) pernah bilang bahwa pemasaran yang paling teramat sulit adalah pemasaran diri sendiri. Jadi, kalau pencari kerja menulis karangan biasa saja tidak mampu, bisa dibayangkan seperti apa kualitas sajian surat lamaran mereka.

Camkan, surat lamaran dalam ranah komunikasi bisnis senyatanya merupakan karya iklan, sekaligus surat promosi yang bertujuan menjual dirinya agar lolos ke tahap krusial berikutnya. tahapan wawancara.

Bambang Haryanto (081329306300)

Jl. Kajen Timur 72, Wonogiri

Untuk Calon Pemimpin

Kalau seorang pemimpin hanya melakukan kampanye, bukan tindakan nyata yang sudah terbukti dan teruji secara empiris, saya yakin bangsa ini tidak akan menikmati kesejahteraan dan kedamaian. Bakal calon gubernur, wali kota/bupati sejauh ini nampaknya lebih senang mencantumkan gelar berderet dan tidak lupa embel-embel H di depannya.

Menurut saya hal ini harus dicermati benar sebab ketika seseorang sudah berani menyandang gelar H seharusnyalah semua tindakan dan perilakunya harus menunjukkan keteladanan. Tapi banyak dari mereka yang malah berbuat curang, culas, maksiat dan memeras rakyat, korupsi, kolusi menjarah harta rakyatnya sehingga jauh dari kesan orang yang patut jadi panutan dan teladan.

Mestinya, sebelum maju menjadi bakal calon, mereka bertanya pada diri sendiri apakah sudah berbuat yang terbaik untuk rakyat. Atau apakah hartanya diperoleh dengan cara dusta atau halal. Uang miliaran rupiah yang dipakai untuk kampanye dari mana.

Tidak adakah cara lain untuk lebih terhormat selain menjadi kepala daerah. Bisa saja mendirikan sekolah gratis, pondok pesantren atau mengembangkan pendidikan kejiwaan agar generasi enerus menjadi manusia baik dan berkualitas hingga mampu membawa kemajuan sejati kepada bangsanya. Ini saya kira juga perbuatan mulia.

Namun tampaknya ada kecenderungan perjuangan merebut tahta kepemimpinan saat ini hanya untuk berbisnis atau ingin mengeruk keuntungan sebesar-besarnya demi pribadi dan keluarga. Caranya, mendulang uang rakyat secarra curang. Karenanya saya pesimistis terhadap kemauan para bakal calon pemimpin.

Rata-rata mereka bukan orang yang bersih dan patut diteladani serta dijunjung tinggi. Kebanyakan dalam mengumpulkan harta selama ini dengan cara ilegal seperti tidak membayar pajak, melawan hukum dan tidak patuh pada UU. Lantas apa yang bisa diharap dari orang seperti ini.

Bagaimana kelak jika menjadi pejabat negara. Paling akan menuntut fasilitas serba mewah meski di tengah rakyat masih banyak yang terengah-engah. Tidak usah jauh, sekarang saja sudah begitu, apalagi nanti. Jadi pertanyaan saya, apa yang kau cari para calon pemimpin.

Daryoso

Jl Tusam 1396, Semarang

***

Koruptor, Aliran Sesat

Beberapa waktu lalu muncul aliran sesat yang oleh Gus Dur disebut aliran salah. Mungkin maksudnya salah jalan sehingga tersesat. Para pengikutnya dicari aparat, ditahan dan ada yang menyerahkan diri serta sebagian bertobat. Tetapi ada juga yang teguh dengan keyakinannya dan merasa tidak bersalah.

Seorang teman mengatakan, di negeri ini ada kelompok yang beraliran tidak kalah sesatnya atau mungkin paling sesat dibanding lainnya. Dia bilang anggota kelompok aliran ini cukup banyak mulai dari bekas presiden, para pejabat baik yang masih aktif maupun tidak, anggota Dewan serta penegak hukum.

Rakyat biasa tidak mungkin menjadi anggotanya. Sebagian anggota ada yang sudah ditangkap dan diadili tetapi sebagian besar masih kebal hukum. Yang ditangkap sudah menikmati hukumannya di penjara tapi mereka dihormati. Mereka mendapat fasilitas khusus bahkan ada yang sudah membentuk paguyuban.

Karena tidak tahan, saya ingin tahu aliran apa yang disebut teman tersebut. Ternyata itu aliran yang beranggotakan para koruptor. Menyikapi aliran sesat jenis ini semoga ada FPI (Front Pembela Indonesia) bersama aparat yang berani melakukan sweeping, mengarak para anggota aliran ini sehingga mereka bertobat dan mengembalikan hasil korupsinya.

Soenardi

JI Jati Raya Blok i/2, Semarang.

***

Sepak Bola Kita

Lagu Indonesia Raya itu membuat saya merinding dan meneteskan air mata. Rasa nasionalisme begitu menggelegak di dada, walau saya berada di tengah kepungan 55 ribu suporter tim tuan rumah. Saya dan Mayor Haristanto pada 16/1/2005, lebur dalam semangat membela kehormatan bangsa bersama 500-an suporter sepak bola Indonesia di stadion Kallang Singapura.

Hal itu terjadi pada leg kedua Final Piala Tiger 2004/2005. Kami terdiri beragam suku, termasuk sahabat baru saya saat itu yang dari wajahnya menunjukkan keturunan etnis Tionghoa. Semua bersatu padu membela Ponaryo Astaman dkk dan tim Merah Putih berlaga. Sayang, timnas kita kalah. Di leg pertama, di Senayan sudah kalah 1-3. Lalu di Kallang juga kalah 2-1. Agregatnya, 5-2 untuk Singapura.

Walau pun esok harinya (17/I/05) pendapat saya yang tetap optimistis masa depan sepak bola Indonesia bahwa The future is still bright. Peter Withe is a good coach and motivator. We can bounce back dimuat koran The Straits Times, toh kesedihan akibat kegagalan itu tak mudah sirna.

Mengapa Singapura bisa berjaya dan kita keok melulu . Saya menemukan jawaban dari buku keduanya Malcolm Gladwell, Blink : The Power of Thinking without Thinking (2005). Buku itu saya beli di Bandara Changi ketika mau kembali ke tanah air. Gladwell punya tesis, untuk menilai sesuatu keadaan secara akurat kita dapat melakukan hanya dengan sekejap mata yaitu dengan mengambil thin slice, irisan tipisnya.

Sekali Iagi, mengapa Singapura bisa berjaya dan kita terpuruk melulu. Dalam penerbangan pulang, dengan mengambil tesisnya Gladwell itu saya mencoba memberikan jawaban sendiri. Ho Peng Kee, presiden FAS/Football Association of Singapore adalah seorang profesor. Nurdin Halid, ketua PSSI kita, seorang koruptor.

Bambang Haryanto (081329306300)

Jl Kajen Timur 72, Wonogiri

***

Jabatan Strategis

Biasanya setiap orang akan bersyukur ketika memegang jabatan strategis. Terbayang adanya peningkatan status sosial, taraf hidup dengan jaminan fasilitas menggiurkan. Namun ini dunia fana, tidak ada sesuatu yang langgeng. Survei membuktikan kini jadi pejabat, bulan depan sudah menjadi penjahat. Jabatan berpotensi menjadi bumerang bila nawaitu-nya tidak semata ibadah.

Seharusnya yang ada dalam benak pejabat adalah bagaimana melayani rakyat sebaik dan semaksimal mungkin. Memang hal itu tidak umum sebab sekarang yang lebih penting bagaimana mendapat pelayanan dari rakyat semaksimal mungkin.

Lihat ekspresi kegembiraan dan keceriaan di wajah pejabat dan keluarganya bila ada yang diangkat menjadi pejabat. Bahkan ada yang sujud syukur segala. Saran, bila belum kuat menjaga amanah lebih baik menjadi rakyat biasa saja. Sekarang rakyat sudah susah mencari sesuatu yang dapat dibanggakan di negeri ini.

Noor Rofiq

Jl Wamena V/228-229, Ungaran

***

Mohon Bantuan

untuk Gereja GITJ

Saya mohon bantuan dana untuk pembangunan gereja GITJ Kelompok Gunungwungkal Induk Sumberrejo Kecamatan Gunungwungkal, Pati sebagai tempat ibadah yang layak menjadi dambaan warga jemaan kristiani Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ). Bantuan uang yang sudah masuk Rp 3, 5 juta, swadaya jemaat Rp 7,5 juta hingga seluruhnya Rp 11 juta yang telah dipakai untuk pemasangan gypsum.

Mohon bantuan uang guna membuat tempat pendeta dan merehabilitasi jendela, mengingat kayunya sudah keropos. Diperkirakan biaya seluruhnya Rp 52.815.039 dan dari swadaya anggota Rp 15 juta sehingga kurang Rp 37.815.039. Mohon bantuan dikirim ke Sdr Yusup Suwarno, Gunungwungkal RT 2/RW 2 atau BRI Unit Gunungwungkal no rek 33-21-5186 atau Sdr Matheus Pardi, karyawan RS Tayu Jl Diponegoro 56 telp (0295) 452670/081 228 258 08.

Munadi (Ketua Panitia)

Gunungwungkal RT 3/RW 3, Pati

***

Gereja Blenduk

Salah satu daya tarik wisata Kota Semarang adalah kawasan Kota Lama. Kawasan tersebut merupakan peninggalan atau warisan pemerintah kolonial Belanda yang dulunya merupakan pusat kegiatan perdagangan sekaligus pusat kota (center city). Kawasan Kota Lama bercirikan bangunan arsitektur kolonial yang spesifik.

Kota Lama juga merupakan kawasan yang kaya akan urban heritage dan memiliki urban form berupa keunikan figur ground kawasan yang bisa dijadikan salah satu aset wisata budaya. Gereja Blenduk adalah salah satu bangunan kuno yang berdiri di kawasan Kota Lama tersebut.

Bangunan itu menjadi daya tarik dilihat dari sejarah dan arsitektur bangunan yang unik, spesifik serta bermutu tinggi. Hingga saat ini Gereja Blenduk masih berfungsi sebagai rumah ibadah jemaat Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel Semarang. Sebagai bangunan tua gereja ini sangat membutuhkan upaya pelestarian yang sungguh-sunguh.

Disadari bahwa upaya pelestarian membutuhkan dana yang tidak sedikit. Karena itu perlu partisipasi berbagai pihak. Pelestarian bangunan kuno termasuk Gereja Blenduk adalah tangung jawab bersama.

Nima Pagar Intan Damanik

Jl Cendrawasih 13 Peramda, Kendal


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA