| Selasa, 27 Nopember 2007 | NASIONAL |
Polisi pun Minta DiramalKEHIDUPAN Mbah Hadi tidak seperti pelaku kejahatan yang menjalani penahanan di Mapoltabes Surakarta. Setidaknya setelah menghuni di salah satu ruang tahanan, banyak waktunya disita untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Tidak terkecuali keahliannya sebagai orang yang mumpuni dalam menghitung hari baik dan hari buruk terus diasahnya. Buku-buku primbon yang menjadi ''teman'' sepertinya tidak jauh darinya. Keinginan untuk tidak terpisah dengan ilmu-ilmu yang sudah dihafalnya itu sangat diperlukan apabila ada orang yang membesuk menanyakan perihal yang diketahui kakek yang tinggal di Jalan Kiai Mojo, Semanggi, Pasarkliwon, Solo itu. Bukan hanya warga atau tetangga yang datang, petugas kepolisian pun ingin menjumpainya untuk diramal atau ingin mengetahui kehidupan pribadi. Salah satu petugas yang ingin diramal yakni anggota Intelkam Poltabes Surakarta, Bripka Budi (32). Dia sengaja membesuk sekaligus menemui Mbah Hadi untuk menanyakan kehidupan pribadinya. ''Apa yang dikemukan Mbah Hadi, kok cocok apa yang selama ini saya alami,'' cerita Budi. Anggota Intelkam yang lahir di Pati itu diramal Mbah Hadi sebagai orang yang memilik weton jelek. ''Jika saya berbuat kebaikan terhadap sesama, tidak pernah kelihatan. Bahkan kalau berbuat baik kadangkala malah ketiban apes,'' tutur lelaki yang punya perawakan tinggi besar itu. ''Tak aneh ketika Mbah Hadi tanya tanggal lahir, saya dinilainya sebagai lelaki yang mempunyai weton tidak baik yaitu sampar wangke,'' katanya sambil manggut-manggut. Bukan hanya anggota Intelkam yang masih lajang itu, namun banyak anggota kepolisian juga menanyakan kepada Mbah Hadi. Ada yang menanyakan perihal aneh-aneh, ada juga yang diramal, sebagai satrio wirang, termasuk Kaur Bin Ops Satreskrim Iptu Dwi Haryadi. Kala mengisi waktu di ruang tahanan, selain kerap dibesuk anggota polisi yang membuat Mbah Hadi merasa kerasan tinggal di tahanan, sekali dia dibesuk sanak keluarganya. Rasa kangen kepada keluarga tentu saja dirasakan laki-laki berusia 69 tahun itu sejak ditahan Minggu (18/11). Dibesuk Adik Apalagi ketika kemarin Mbah Hadi ditemui adik kandungnya yakni Ny Tri Lestari yang akrab disapa Heny (62). Rasa haru tercurah saat kakak-beradik yang sudah lama tidak bertemu itu. Tri Lestari, lama tinggal di Jerman. Mendengar kakaknya itu ditahan polisi karena terlibat kasus pencurian arca di Museum Radya Pustaka, dia jauh-jauh datang ke Solo dari Jerman hanya ingin memberikan semangat dan motivasi untuk kakak tercintanya itu. Pertemuan kakak-beradik itu juga dikemukakan Budi Siswanto SH, pengacara Mbah Hadi yang ikut mendampingi. Mbah Hadi yang mengaku sudah betah tinggal di prodeo Poltabes daripada ditahan di Rutan, bisa jadi karena sudah merasa akrab dengan petugas jaga di tahanan. Sudah bisa menyatu sesama tahanan lainnya, atau karena banyak perhatian dari berbagai pihak atas musibah yang kini sedang dijalani. Meski merasa kerasan menghuni rumah sementara, Mbah Hadi rupanya masih meninggalkan pekerjaaan yang telah teragenda sebelumnya. Yakni ruwatan hingga kegiatan lainnya yang sudah dijadwalkan hingga 2008. Setahun ke depan, ada tiga ratusan lebih jadwal kegiatan yang belum tentu bisa dilaksanakan secara langsung. ''Banyak pekerjaan yang sudah diagendakan itulah yang membuat kami berkeinginan agar penahanan mbah Hadi bisa ditangguhkan, baik menjadi tahanan kota maupun tahanan rumah,'' papar Budi Siswanto. (Sri Hartanto-60) |