logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Nopember 2007 MURIA
Line

Sepeda Klangenan yang Menyehatkan

PULUHAN sepeda onthel berjalan beriringan pagi itu. Tidak ada rasa segan atau malu bagi pengendaranya. Meskipun mereka berjalan beriringan dengan ''kuda besi'' terbaru buatan negeri Jepang yang bersliweran di kiri kanannya. Ya, mereka adalah penggila sepeda tua, khususnya jenis onthel. Setahun lalu, komunitas tersebut bergabung dalam organisasi Onthel-Onthel Thok (OOT) Kudus. ''Anggotanya mungkin jumlahnya ratusan,'' kata sesepuh komunitas tersebut, Bambang, kemarin.

Dijelaskannya, hobi untuk mengoleksi sekaligus menggunakan sepeda kuno tersebut diyakini sebagai sesuatu yang membuat awet muda. Selain setiap hari rajin merawat klangenan tersebut, mereka juga terbiasa menggunakannya. Setidaknya, dua kali dalam sepekan, komunitas OOT berkumpul untuk melakukan touring. Bahkan menurutnya, beberapa anggota sudah mulai bersepeda ke tempat aktivitasnya setiap hari. ''Jaraknya paling tidak 15 kilometer,'' ungkapnya.

Setiap Rabu atau Minggu pagi, OOT pasti akan terlihat melintas di beberapa ruas jalan di Kota Kretek. Pegiatnya, juga dari latar belakang profesi dan usia. Dari purnawirawan, pelajar hingga PNS dan anggota kepolisian setempat. ''Jumlah anggota kami semakin bertambah saja,'' imbuh anggota yang lain, Ali Rochim.

Benda Antik

Untuk mendapatkan sepeda klangenan tersebut, ternyata gampang-gampang susah. Terkadang, mereka harus berkeliling ke sejumlah kota untuk memburu benda antik tersebut. Namun terkadang, barang tersebut juga ditemui di Kota Kretek itu sendiri.

Soal harga, tentunya sangat variatif. Dari yang gratis, karena peninggalan ''eyang kakung'' hingga yang nominalnya mencapai belasan juta. Seperti koleksi yang dimiliki oleh Mbah Jengkot. Sepeda yang dimiliki kolektor sekaligus anggota komunitas tersebut pernah ada yang menawar hingga Rp 15 juta, tetapi hingga kini belum juga dilepasnya. ''Sepeda itu bermerek Gazelle buatan Belanda tahun 1923,'' ujarnya bangga.

Lain lagi dengan Putut Winarno, pegawai Pemkab. Dia mengaku mewarisi sepeda ''embah''-nya yang mungkin saat ini sudah berusia puluhan tahun. Untuk mempermanis, dia menambah beberapa aksesori pada beberapa bagian. ''Sebelum saya lahir, sepertinya sepeda itu sudah ada di rumah,'' tandasnya tak kalah bangga. (Anton WH-36)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA