logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Nopember 2007 SEMARANG
Line

Jangkrik dan Jamur Upas Serang Tanaman Warga

ARGOMULYO- Sekitar 15 hektare tanaman jagung milik petani di Dusun Slumut Kelurahan Kumpulrejo Kecamatan Argomulyo Salatiga terserang hama jangkrik. Tanaman jagung yang baru ditanam dari bantuan pemerintah tersebut, diserang hama jangkrik ketika berumur lima hari. Hama tersebut merusak sedikitnya 25 persen tanaman jagung milik warga.

Wakil Kelompok Tani Margo Raharjo IV Suratno (28) mengatakan, tanaman jagung anggota kelompok tani, terserang hama jangkrik. ''Hama tersebut memakan daun jagung yang masih muda. Jika yang dimakan pucuk tanamannya, tanaman tersebut bisa mati,'' jelasnya. .

Namun demikian, belum ada penanggulangan yang dilakukan petani. Mereka hanya mendiamkan tanaman tersebut hingga umur 15 hari sambil berharap-harap cemas. ''Jika sudah berumur lebih dari 15 hari, kami bisa sedikit lega. Pasalnya, hama jangkrik tidak bisa menyerang tanaman jagung lagi karena tanamannya sudah agak tinggi,'' katanya.

Dikatakan, selain menanam jagung, para petani juga menanam tanaman jahe dan cabai. Kedua tanaman tersebut juga tak luput dari serangan hama berupa jamur upas. ''Jamur upas ini bisa terlihat pada bagian batang tanaman dan berwarna putih. Tanaman yang terserang hama ini biasanya akan busuk dan mati,'' kata Suratno.

Bukan hanya kedua tanaman itu saja, hama tersebut juga menyerang sekitar 3.000 bibit tanaman sengon milik petani. Akibatnya, tanaman tersebut rusak dan tak bisa diselamatkan. Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Margo Raharjo IV Paidi (50) yang baru saja pulang dari penyuluhan mengatakan, meskipun belum ada cara yang pasti dalam mengatasi hama jamur upas, dirinya pernah mencoba mengatasi hama tersebut dengan air rebusan daun sirsat, suren, mindi, dan gadung.

''Sebelum menanam jahe, benih jahe saya siram dengan air hasil rebusan keempat daun itu yang telah didinginkan. Hasilnya ternyata bagus dan tanaman tidak terserang jamur upas,'' jelasnya.

Dikatakannya, selama bercocok tanam, mereka lebih sering menggunakan pupuk kandang dan urea. Pemakaian pupuk tersebut dinilai mereka lebih murah dan hasil produksi yang diperoleh lebih sepadan dengan biaya yang mereka keluarkan. (J12-16)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA