| Selasa, 27 Nopember 2007 | SEMARANG |
RSD Dr Soedjati Kebanjiran Pasien DBDGROBOGAN-RSD Dr Soedjati Purwodadi sejak dua minggu terakhir kebanjiran pasien DBD. Sesuai keterangan pihak rumah sakit sedikitnya lima orang pasien dirawat di tempat ini setiap hari. Iklim yang tidak menentu diperkirakan menjadi penyebab utama kembali maraknya penyakit tersebut di Grobogan. Kepala RSD Dr Soedjati Purwodadi Iman Santoso melalui Kabid Medik Lely Atasti mengatakan, penderita DBD yang dirawat umumnya berusia diatas tiga tahun. Mereka berdatangan dari sejumlah tempat di Kabupaten Grobogan. ''Selama bulan November telah dirawat 77 pasien. Delapan orang di antaranya dinyatakan menderita dengue shock syndrome. Kondisi mereka rata-rata terus membaik,'' ujar Lely Atasti kemarin. Diakuinya, karena jumlah pasien yang membludak, pihak rumah sakit kemudian mempersiapkan langkah agar penanganan penderita menjadi tidak terbengkelai. Termasuk didalamnya mengatur pasien agar bisa mendapat penanganan lebih lanjut secara cepat. Sementara, Kepala Intalasi Gawat Darurat (IGD), Juri, mengakui cukup banyaknya pasien membuat sibuk petugas. Adakalanya, seorang pasien terpaksa menunggu karena banyaknya penderita yang datang di instalasi gawat darurat. Sementara salah seorang bocah penderita DBD Bagus Dwi Romadon (2) kondisinya masih terlihat lemas. Bocah tersebut kemarin dirujuk ke rumah sakit setelah menderita panas yang tak kunjung menurun. Oleh ibunya, Kusrini (26) warga Dusun Getas Desa Bangsri Kecamatan Geyer dikiranya Bagus hanya sakit biasa. Baru setelah diperiksakan ke dokter anak, diketahui bocah tersebut menderita demam berdarah. ''Memang sedikit agak terlambat dibawa ke rumah sakit. Karena kami tidak mengira dia akan menderita demam berdarah,'' papar dia. Hal serupa dialami Putri Noviyanti (7) Warga Dusun Krajan Desa Nglobar Purwodadi. Karena tidak tahu menderita gejala DB, dia sedikit terlambat dibawa ke rumah sakit. Hingga kemarin, siswa SD Nglobar II tersebut masih ditangani secara intensif. Kepala Dinas Kesehatan Palti Siregar melalui Kabid P2PL Johari Angkasa mengakui perubahan iklim menjadi penyebab maraknya DB. Belum lagi, ditambah kebiasaan masyarakat yang menyimpan air di bak penampungan setelah turun hujan beberapa waktu lalu menjadikan penyakit itu cepat menyebar. ''Air yang ditampung tidak ditutupi, sehingga menjadi sarang nyamuk. Dari tempat itu dimungkinkan terjadi penyebaran DB,'' kata Johari. (H41-16) |