logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Nopember 2007 SEMARANG
Line

Tahun 2007, Kasus Leptospirosis Naik 200%

  • Lima Orang Meninggal

DEMAK- Kasus leptospirosis atau penyakit kencing tikus yang terjadi di Demak mengalami kenaikan hingga 200 persen lebih jika dibandingkan tahun lalu. Dalam catatan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK), sedikitnya terdapat 27 kasus dan lima penderita di antaranya meninggal dunia. Kelimanya adalah Jurotun (35) warga Desa Karangrejo Kecamatan Bonang, di rawat di RS Roemani Semarang dan meninggal pada Januari 2007.

Sedang empat lainnya sebelumnya di rawat di RSD Sunan Kalijaga Demak. Yaitu, Sunardi (40) Warga Desa Jatirogo, Juramin (40) Desa Mojo Kecamatan Wonosalam, Inayah (20) Kerangkulon Kecamatan Wonosalam dan Siti Aminah (21) warga Desa Bolo Kecamatan Demak Kota.

Daerah yang menjadi endemis juga bertambah. Jika sebelumnya hanya terdapat di lima kecamatan kini di tujuh kecamatan.Yakni Demak Kota, Guntur, Wonosalam, Bonang, Sayung, Karangtengah dan Wedung.

Sebagian besar penderita berprofesi sebagai petani. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) dokter H Budi Suprijatno M Kes, didampingi Kasi Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Sri Hartanto SKM, korban meninggal dikarenakan ketika dibawa ke rumah sakit, kondisinya sudah cukup parah. Artinya sakitnya telah sampai pada gagal ginjal.

Mudah Disembuhkan

Sementara lainnya dapat disembuhkan, karena mereka mendapatkan pertolongan medis ketika kondisinya belum terlalu parah.

Penyakit yang disebabkan bakteri leptospira tersebut biasanya ditularkan kencing tikus melalui luka pada manusia. Leptospirosis merupakan penyakit berbahaya, sebab dapat menyerang fungsi ginjal dan tentu berakibat fatal. Kendati demikian, jika cepat mendapat pertolongan medis, penyakit tersebut tergolong mudah disembuhkan.

Gejala klinisnya antara lain badan panas demam, nyeri pada betis, linu-linu, mata menguning, badan lemas, lehar terasa kaku, perut mual dan diare. Penyakit ini akan berakibat fatal jika sudah sampai menyebabkan gagal ginjal.

''Bila mengetahui ada anggota keluarga yang mengalami gejala klinis demikian, segera saja ke puskesmas atau rumah sakit,'' tuturnya.

Menyebarnya penyakit tersebut diperkirakan karena perkembangan tikus cukup tinggi. Kendati sudah menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan Kabupaten Demak, namun masih banyak yang menjadi korban.Untuk mengatasinya, DKK melakukan penyuluhan dan menyiapkan obat di rumah sakit hingga puskesmas.

Di puskesmas juga disediakan alat leptotex sebagai pendeteksi cepat untuk mengetahui pasien terkena leptospirosis atau tidak.Belum lama ini, tim kesehatan dari Balai Besar TKL Yogyakarta dan Jateng melakukan penelitian terhadap 31 ekor tikus rumah. dari jumlah itu diketahui 17 ekor positif membawa bakteri. Sedang pada tikus sawah belum ditemukan adanya bakteri itu. ''Kendati demikian tikus sawah juga berpotensi membawa penyakit serupa.'' Oleh karenanya, para petani yang melakukan perburuan terhadap tikus disarankan untuk mengubur hewan yang telah dibunuhnya. Jangan sampai dibiarkan di tengah jalan apalagi dibuang ke sungai. (H1-16)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA