| Selasa, 27 Nopember 2007 | SEMARANG |
Peresmian Gereja Santa Maria Fatima BanyumanikKembangkan Aspek Moralitas''Pada mulanya .... gereja ini diotak-atik, dienik-enik, bahkan ditunggui pembangunannya oleh Romo Kardinal sendiri. Semoga Gereja Santa Maria Fatima Banyumanik merupakan sejumput sumbangan bagi masyarakat membangun bersama dengan umat menjadi pula tanda keselamatan bagi Perumnas sehari-harinya.'' KALIMAT ini merupakan penggalan akhir kata sambutan Vikaris Capitularis Keuskupan Agung Semarang (KAS) Romo A Djajasiswaja Pr dalam sambutan pada Upacara Pemberkatan gereja tersebut 13 Oktober 1982. Dan setelah 25 tahun melangkah, umat Paroki Banyumanik mencoba memaknainya dengan sebuah pesta syukur. Puncak peringatan pesta perak ini ditandai dengan pemberkatan dan peresmian pengembangan gedung gereja yang awalnya bertumbuh dari sebuah bangunan berarsitektur joglo. Gereja yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh almarhum Romo Yustinus Kardinal Darmoyuwono ini, akhirnya diberkati oleh Uskup Agung Semarang Mgr Ignatius Suharyo dan diremikan Gubernur Jateng Ali Mufiz serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro. Mungkin bagi umat di paroki lain atau masyarakat awam tidak mengerti bagaimana seorang menteri bisa ikut meresmikan gereja di Banyumanik. ''Ibunda saya adalah salah satu umat di paroki ini dan dulu beliau pernah berjanji untuk hadir dalam peresmian. Namun karena sudah meninggal, maka saya hadir di sini mewakili keluarga,'' jelas Purnomo didampingi istrinya usai peresmian gereja, Minggu (25/11). Pengalaman Batin Mgr Ignatius Suharyo berharap umat tidak hanya bangga dan puas dengan bangunan fisik semata, sementara pengalaman batin tidak dapat tercapai. ''Gereja pada dasarnya adalah sebuah paguyuban, apa pun yang disediakan sebagai sarana diharap mampu mempererat persaudaraan dan menjadi berkah tidak hanya bagi umat Katolik tapi juga warga sekitarnya,'' paparnya. Pengembangan bangunan gereja baru yang membutuhkan waktu hingga lima tahun ini menurut Gubernur Ali Mufiz, menjadi sebuah refleksi kegigihan semangat dan kerja keras umat serta peran serta masyarakat. ''Semoga gedung gereja ini makin mendorong motivasi dan kekhusukan beribadah, karena tidak cukup hanya aspek intelektual atau ketrampilan, tetapi bagaimana kita mengembangkan aspek moralitas yang sering terlupakan,'' ungkap dia. Kekokohan bentuk fisik gereja menurut Pastor Kepala Paroki Romo R Heru Subyakto Pr, mencerminkan kokohnya semangat umat membangun gereja. ''Dalam perjalanan waktu saya menyadari gereja ini terbangun oleh pergulatan dan perjuangan yang tidak kenal lelah di mana pro kontra mewarnainya. Tapi itulah dinamika umat yang inginkan menyumbangkan terbaik bagi gerejanya,'' imbuhnya.(Modesta Fiska-41) |