| Selasa, 27 Nopember 2007 | SEMARANG |
Jembatan Darurat Sukorejo Diganti Jembatan GantungGUNUNGPATI-Jembatan darurat Sukorejo yang putus karena diterjang banjir setahun lalu, segera diganti dengan jembatan gantung. Konstruksi jembatan gantung dipandang lebih sesuai dengan kebutuhan transportasi bagi warga sekitar. Hal itu disampaikan Kasi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Rosid Hudoyo. Dikatakan, proses pembangunan telah dimulai beberapa waktu lalu, dan diperkirakan selesai akhir Desember. Dikatakan, jembatan baru tidak dibangun tepat pada lokasi semula, tetapi digeser ke arah hilir yang dipandang lebih memungkinkan. Jika jembatan itu telah selesai, diharapkan transportasi masyarakat Kalipancur (Ngaliyan) dan Sukorejo (Gunungpati) lebih lancar. ''Konstruksi jembatan gantung lebih tepat sebagai pengganti jembatan darurat yang dulu roboh,'' katanya. Sementara itu, warga Kalipancur dan Sukorejo berharap jembatan itu segera rampung. Sebab, selama ini aktivitas mereka terganggu dengan tidak adanya jembatan yang melintasi Kali Kreo itu. Mereka terpaksa memutar dan menempuh jarak lebih jauh. Vital Dewi (26) warga Kampung Kedungwadas, Kelurahan Sukorejo, Gunungpati, berharap jembatan baru yang dibangun untuk menggantikan jembatan bambu Sukorejo segera dirampungkan. Jembatan itu punya fungsi vital bagi aktivitas warga, baik Kampung Kedungwadas dan Kalialang Baru di Kelurahan Sukorejo maupun warga Kampung Mayangsari di Kelurahan Kalipancur, Ngaliyan. Sejak putusnya jembatan itu, hampir setahun lalu, warga Sukorejo harus mencari jalan alternatif. Bagi yang memiliki sepeda motor, berjalan memutar melalui jembatan gantung belakang Greenwood Estate, atau melalui kawasan Sampangan, yang notabene berjarak lebih kurang 10 km. Sementara mereka yang berjalan kaki harus melewati dasar sungai. ''Pada musim kemarau, warga masih bisa lewat dasar sungai, tapi kalau musim hujan, permukaan air sungai tinggi. Tentu saja, warga yang tidak punya kendaraan akan repot,'' kata Dewi, Senin (26/11). Warga Sukorejo yang memanfaatkan jembatan kecil itu, di antaranya buruh pabrik dan pekerja sektor informal di kawasan Mayangsari dan Ringintelu. Selain itu juga siswa SMP dan SMA Yayasan Pendidikan Ekonomi (YPE) yang tinggal di Kampung Mayangsari. Mereka dua kali dalam sehari melalui dasar sungai saat berangkat dan pulang sekolah. Sugeng Riyadi (21) penjual siomay yang indekos di Kampung Kedungwadas lebih banyak berkeliling di kawasan Sukorejo. Dia berjualan di Mayangsari dan Ringintelu hanya pada saat air Kali Kreo surut. Membawa pikulan pada saat permukaan air tinggi, tentu bukan hal mudah bagi Sugeng. ''Kalau jembatannya cepat jadi, saya bisa berjualan lebih leluasa, tidak tergantung pasang-surut Kali Kroe,'' kata Sugeng.(H6-41) |