| Selasa, 27 Nopember 2007 | KEDU & DIY |
Koleksi Seluruh Museum Diminta DiperiksaYOGYAKARTA - Pemalsuan benda-benda koleksi Musem Radya Pustaka Solo membuat prihatin banyak pihak. Benda yang seharusnya menjadi milik bangsa tersebut diperjualbelikan bahkan ada yang sampai ke luar negeri. Sejumlah arkeolog mendesak pemerintah melalui instansi terkait meneliti dan memeriksa koleksi seluruh museum di Indonesia. ''Kejadian seperti itu tak hanya di Indonesia, bahkan seluruh dunia,'' ujar arkeolog muda Yogyakarta, Rully Andriadi, Senin (26/11). Setelah kejadian di Radya Pustaka, menurut dia, sebaiknya pemerintah melakukan inventarisasi dan meneliti koleksi seluruh museum di Indonesia. Langkah tersebut dilakukan agar ada kepastian soal keaslian koleksi museum. Dia mengakui, sangat sulit menentukan sebuah benda kuno asli atau tidak. ''Harus ada ahlinya dan melibatkan banyak pihak. Saya saja tak bisa menilai hanya dengan melihat dan meraba, apalagi masyarakat awam,'' jelas dia yang beberapa waktu lalu melakukan penggalian di Situs Kerto, Bantul, yang diduga sebagai Kerajaan Mataram Islam Pertama. Arkeolog lain dari UGM, Djoko Dwiyanto menambahkan, muncul dugaan sejumlah benda lain di Radya Pustaka juga hilang dan dipalsukan. Karena itu, dia juga meminta instansi berwenang melakukan penelitian dan pemeriksaan semua benda koleksi di sana. ''Harus ada penelitian secara menyeluruh koleksi museum Radya Pustaka Solo. Sebab ada indikasi kuat, selain lima arca yang terbukti dicuri, banyak koleksi museum lain yang tidak asli lagi,'' tandasnya. Bonaparte Palsu Dia mengaku sering bertandang ke Radya Pustaka. Berdasar pengamatannya, koleksi piring hadiah Napoleon Bonaparte juga sudah dipalsukan dan diganti dengan barang yang tidak jelas. bergitu pula dengan benda di bagian perunggu. Djoko mengungkapkan, informasi banyak barang palsu di Radya Pustaka dari salah seorang mahasiswanya yang pernah bekerja di sana. Namun yang bersangkutan dipecat dengan alasan tak jelas. Dia menduga, itu terjadi karena yang bersangkutan mengetahui banyak hal termasuk pemalsuan benda-benda koleksi museum. ''Informasi lima arca tersebut juga berasal dari dia. Kami lantas meneruskannya ke Dirjen Purbakala dan kepolisian. Ternyata benar, kelima arca itu palsu dan yang asli sudah dijual,'' paparnya. Dia meminta, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) melakukan penelitian secara cermat untuk mengetahui keaslian benda-benda purbakala lainnya. Terlebih, menurut dia, banyak benda purbakala dicuri dan dibawa ke luar negeri. Benda itu beredar di luar museum karena pemilik atau ahli waris membutuhkan uang. Faktor ekonomi berperan besar dalam proses tersebut. (D19- 72) |