logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Nopember 2007 INTERNASIONAL
Line

Bencana Alam Meningkat Empat Kali Lipat

LONDON - Musibah bencana alam yang menimpa dunia telah meningkat empat kali lipat dibanding dua puluh tahun lalu. Berdasarkan riset Oxfam Inggris, fenomena pemanasan global dituding sebagai penyebab utama peningkatan frekuensi bencana alam.

''Oxfam menyatakan, meningkatnya emisi gas karbondioksida adalah penyebab utama bencana-bencana terkait iklim dan cuaca. Hal itu harus ditangani,'' kata Direktur Oxfam Barbara Stocking. Dia menambahkan, rakyat miskin adalah yang paling menderita akibat berbagai bencana.

Menurut laporan lembaga nirlaba itu, dunia mengalami 120 kali bencana alam tiap tahun pada awal 1980-an. Sedangkan saat ini jumlahnya meningkat menjadi sekitar 500 musibah setiap tahun.

''Tahun ini saja terjadi banjir besar di Asia Selatan, di seluruh kawasan Afrika dan Meksiko serta telah berdampak bagi lebih dari 120 juta orang,'' kata Stocking.

Lebih Parah

''Tahun ini, bencana menjadi lebih sering, lebih parah, dan makin sulit diprediksi serta cuaca lebih ekstrem,'' tambahnya. ''Kita perlu bertindak sekarang untuk bersiap diri menghadapi lebih banyak bencana. Jika tidak, kita akan kewalahan mengurusi bantuan kemanusiaan dan kemajuan yang telah dicapai umat manusia bisa berbalik mundur lagi.''

Sementara itu, jumlah orang yang terkena dampak bencana alam ekstrem melonjak hampir 50 persen, dari 173 juta jiwa antara 1985 dan 1994 menjadi 254 juta setahun antara 1995 dan 2004.

Banjir dan badai topan meningkat dari 60 kali pada 1980 menjadi 240 bencana pada tahun lalu. Bencana banjir sendiri meningkat enam kali lipat. Sedangkan, frekuensi bencana geotermal seperti gempa bumi dan gunung meletus tidak banyak berubah.

Oxfam mendesak negara-negara Barat untuk lebih gigih mencapai kesepakatan mengenai perubahan iklim pada pertemuan internasional di Bali Desember mendatang.

''Negara-negara Barat yang kaya serta Perserikatan Bangsa-Bangsa harus bertindak supaya bantuan kemanusiaan lebih cepat, lebih adil serta lebih fleksibel,'' tegas Stocking.

Studi oleh Oxfam itu mengumpulkan data dari Palang Merah, PBB dan para peneliti di Louvain University di Belgium.(afp-gn-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA