| Selasa, 27 Nopember 2007 | INTERNASIONAL |
Tipis, Harapan Sukses Konferensi AnnapolisWASHINGTON - Presiden Amerika Serikat George W Bush, kemarin, bertemu dengan pemimpin Palestina dan Israel untuk merundingkan upaya pembentukan negara Palestina. Pertemuan itu berlangsung 14 bulan menjelang masa jabatan Bush berakhir. Namun harapan atas kesuksesan pertemuan di Washington dan konferensi perdamaian Timur Tengah di Annapolis sangat kecil lantaran Bush, Presiden Palestina Mahmud Abbas, dan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert juga harus menghadapi tantangan politik di dalam negeri masing-masing. Abbas kehilangan kontrol atas wilayah Jalur Gaza yang diambil alih oleh kelompok Hamas. Hamas tidak diundang ke Annapolis, namun kelompok itu justru mengadakan ''konferensi alternatif'' untuk menentang solusi dua negara berdampingan di Palestina. ''Keputusan apa pun yang dihasilkan dari konferensi Annapolis tidak akan mengikat rakyat Palestina, namun hanya berlaku bagi orang-orang yang menandatanganinya,'' kata pemimpin Hamas Ismail Haniyeh. Di lain pihak, Olmert terbelit skandal korupsi. Dia juga dikecam karena kekalahan Israel dalam perang di Lebanon. Sementara Bush makin merosot popularitasnya akibat kegagalan perang Irak. Masa jabatannya akan berakhir pada Januari 2009. Suriah dan Arab Saudi berjanji akan menghadiri konferensi Annapolis yang akan diselenggarakan Selasa waktu AS tersebut. Namun Damaskus hanya mengutus deputi menterinya, bukan menteri luar negeri seperti yang diharapkan Washington. Pertemuan Terpisah Gedung Putih menyatakan pekerjaan besar akan dimulai setelah konferensi Annapolis itu. Di lain pihak, Israel dan Palestina harus berjuang keras untuk menyelesaikan sejumlah isu penting, seperti hak pengungsi Palestina, nasib Jerusalem, dan perbatasan negara Palestina kelak. ''Konferensi ini akan mengisyaratkan dukungan internasional bagi keinginan Israel dan Palestina untuk berdialog mengenai pembentukan negara Palestina dan realisasi perdamaian di antara kedua pihak,'' kata Bush menyambut Abbas dan Olmert yang tiba di Washington Minggu lalu. Bush bertemu secara terpisah dengan Abbas dan Olmert sebelum ketiganya melakukan perundingan bersama. Mereka kemudian akan bertemu dengan utusan dari 40 lebih negara di Akademi Angkatan Laut AS di Annapolis. Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice mengatakan, pertemuan Annapolis akan menjadi peluang bagi Israel dan negara-negara Arab untuk melawan ''ekstremisme'' di kawasan Timur Tengah. Banyak analis berpendapat, ekstremisme yang dimaksud Rice adalah program nuklir Iran. Teheran mengecam konferensi Annapolis sebagai tipu muslihat untuk membantu Israel. ''Semua politikus di dunia mengetahui bahwa konferensi itu pasti gagal,'' kata Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. (rtr-ben-26) |