logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 27 Nopember 2007 EKONOMI
Line

Produsen Makanan Tetap Tahan Harga

SOLO-Di tengah kenaikan harga minyak mentah, minyak sawit, dan gandum industri makanan olahan seperti mie kering, mie basah, dan mie instan dipastikan mengalami kendala. Sebabnya, kenaikan harga BBM akan berpengaruh pada kenaikan ongkos transport dan kenaikan harga minyak sawit.

Selain itu, kenaikan harga gandum hingga 30 persen tiap bulannya akan menambah ongkos produksi. Namun demikian, sebuah industri mie skala lokal yang diproduksi PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Food tidak dapat menaikkan harga jual lebih dari 10 persen. Presiden Direktur PT TPS Food, Tbk Stefanus Joko Mogoginta menyatakan akan menggenjot produksi untuk mengantisipasi kenaikan harga bahan pokok seperti gandum.

''Kita ngga bisa menghindari kenaikan harga. Per satu Desember nanti tepung terigu naik hingga Rp 150-an ribu per sak atau naik sekitar 30 persen. Yang akan kita lakukan adalah efisiensi menggunakan pembangkit tenaga listrik dan menggenjot produksi,'' katanya usai jumpa pers dengan wartawan di Hotel Lor-In, Solo, akhir pekan lalu.

Kenaikan harga produk seperti mie kering dan mie basah yang notebene menjadi produk unggulan, kata Stefanus, tidak akan signifikan. Pasalnya, produk tersebut telah lama diproduksi untuk konsumen tidak langsung yakni para pedagang makanan seperti mie tek-tek atau mie ayam. Sedangkan untuk produk lain, seperti mie instan maupun biskuit kenaikan harga akan sangat bervariatif.

Financial Controller dan Corporate Finance PT TPS Food Tbk Yulianni Liyuwardi menyatakan dengan menggenjot produksi diharapkan akan tercapai keseimbangan ekonomi sehingga dapat menutup ongkos produksi.

''Produksi meningkat akan membuat skala ekonomi juga meningkat secara matematis. Kandungan biaya produksinya menjadi lebih efisien,'' ujarnya. Di samping itu, PT TPS Food Tbk menargetkan tahun ini akan mencapai penjualan hingga Rp 500 miliar. Sedangkan 2008, pertumbuhan penjualan diharapkan dapat mencapai 30 persen.

Akuisisi

Sejauh ini, lanjutnya, pangsa pasar mie kering secara nasional mencapai 70 sampai 80 persen dengan kapasitas 150 ribu ton yang terkonsentrasi di Pulau Jawa. Menurutnya, pergeseran konsumsi dari mie basah ke mie kering membuat pangsa pasar produk ini semakin besar. Pasalnya, produk tersebut tidak menggunakan bahan pengawet dan lebih tahan lama. Bahkan tahun depan, kapasitas produksi mie kering akan ditingkatkan dari 43.200 menjadi 72.000.

Awalnya, perusahaan ini adalah milik keluarga yang memproduksi bihun merek Cangak Ular di tahun 1959. Seiring berkembangnya kapasitas produksi, di tahun 2003 lalu, PT TPS Food menjadi perusahaan go public dengan sistem manajemen profesional. Namanya pun tercatat di lantai bursa dengan kode AISA yakni Asia Inti Selera yang diakuisisi oleh PT TPS Food.

Selanjutnya, perusahaan yang mempunyai pabrik terpadu di Sragen, Jawa Tengah ini akan melakukan ekspansi dengan akuisisi perusahaan makanan, perkebunan kelapa sawit, dan perusahaan pembangkit tenaga listrik. Yulianni tidak bersedia menyebutkan nama perusahaan yang akan diakuisisi pada awal tahun 2008.

Namun, proses tersebut akan menggunakan dana sebesar Rp 500 miliar bersumber dari right issue (penerbitan saham baru). Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI) Thomas Darmawan menyatakan suatu saat mie dapat menjadi produk pengganti nasi. (J10-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA