| Selasa, 27 Nopember 2007 | BUDAYA |
Menarikan RobHujan -- yang kauanggap sebagai tangis malaikat -- lalu mengguyur kota itu 40 hari 40 malam. "Banjir? Tidak! Tapi pada gerimis terakhir apa pun yang mengendap di ingatan -- kampung kotor, sungai keruh, gedung bopeng -- hilang. Segalanya menjadi senyap. Segalanya tak bisa lagi dikenang. Saya bahkan tidak menemukan kuburan pendiri kota ini," kata Ki Ageng.("Kota Senja", Triyanto Triwikromo, 2006) MANA lebih menarik, puisi atau karya tari? Jawabannya tentu lebih menarik lagi jika keduanya digabungkan dalam satu karya. Sebab, muncullah dua kekuatan yang bersinergi mengenai berbagai persoalan estetisitas. Begitu mungkin kesan yang muncul setelah menyaksikan Yoyok B Priyambodo mengungkapkan empati tentang keprihatinan lingkungan dalam karya tari. Atau lebih tepat lingkungan di kampung halamannya, Semarang. Ya, di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta, Minggu (25/11), lewat sebuah tari Yoyok berbicara banyak tentang lingkungan. Dia menggerak-gerakkan tiga lembar plastik panjang yang seolah berserakan bak sampah di tengah panggung. Gelombang plastik itu serupa rob. Rob? Benar. Selain menjadi judul, rob memang menjadi isu sentral dalam pertunjukkan itu. Selain olah gerak dari belasan penari, tiga lembar plastik bertabur sampah itu memang yang paling mewakili tema tarian Yoyok. Nah, Yoyok tak cuma menggali dari sudut estetika tari. Dia juga memandang dari sudut lain, dari puisi "Kota senja" karya Triyanto Triwikromo. "Triyanto memiliki karya puisi yang senapas dengan tema yang saya angkat. Jadi apa salahnya saya menatap fenomena rob dari sana?" ujar Yoyok. Empati Itu Demikianlah, dia memperoleh "beban" tentang tema lingkungan karena dipentaskan sebagai rangkaian dari "Panggung Seni Seribu Bunga" di TBJT Surakarta, 24-30 November. Dan, Yoyok pun memilih "menarikan rob", sekaligus menarikan puisi Triyanto. Lalu, bagaimana dua karya itu bisa memunculkan kekuatan? Aha, itulah yang menarik. Karena, karya Yoyok menjadi makin kaya sentuhan. Ada semacam "nyanyian" lain, misalnya jika dibandingkan dengan karya "Senik" yang pernah dia pentaskan di TBJT, beberapa tahun lalu. Karya itu memang melibatkan belasan penari. Namun, itu bukan berarti harus menonjolkan gerakan rampak. Dengan menggunakan gerak tubuh, yang di Solo lebih dikenal dengan wilayah komposisi (kontemporer: nontradisi), terkadang muncul pula upaya memaksilmalkan olah tubuh yang bersifat individual. Sementara itu, dialog yang terus mengiringi bersama bebunyian instrumen musik memancing simpulan: betapa rob tak sekadar berdampak lingkungan. Ada pula dampak sosial yang muncul. Itulah "nyanyian" lain. Dan, itulah pula sentuhan yang terasa berbeda dari karya Yoyok selama ini. Namun, ternyata, Yoyok menganggap rob muncul bukan lantaran salah siapa-siapa. Yang lebih penting, bagi dia, penanganan rob harus menjadi tanggung jawab bersama. Seperti bait puisi lain dari "Kota Senja", mungkin harus ada kearifan untuk memahami lingkungan kota. Meski itu masih jadi impian, sebab: "Tapi kau tidak pernah mau percaya pada wangi doa syukurnya. Karena itu kau tidak pernah bisa memahami kota ini. Kau tidak pernah bisa mencintai kota ini." (Wisnu Kisawa,Sri Wahjoedi-53) |