| Senin, 26 Nopember 2007 | PANTURA |
Ruwat Bumi di KandangserangHasil Panen Diperebutkan, Lesung Dibunyikan"BUMI Pertiwi rupanya masih bersabahat dengan warga Kandangserang. Ia masih memberikan manfaat, memberikan penghidupan pada masyarakat Kandangserang" Demikian lontaran tokoh masyarakat Kandangserang, H M Rifa'i, pada acara gelar budaya ruwat bumi yang dipusatkan di terminal angkutan desa, Sabtu (24/11). Ribuan warga memadati area gelar budaya untuk menyaksikan ritual selamatan atas hasil panen di desa tersebut. Ritual dimulai dengan pawai hasil bumi yang dibawa oleh warga dari arah Selatan Desa Kandangserang. Ketika tiba di Kantor Kecamatan Kandangserang, dua peserta pawai mengalungkan bunga kepada Bupati Hj Siti Qomariyah beserta suaminya, H Rosikin. Bupati dan suami serta anggota Muspida dan unsur Muspika Kandangserang kemudian bergabung dengan peserta pawai. Iring-iringan menuju terminal Kandangserang untuk dilaksanakan seremoni ruwat bumi. Acara ruwat bumi tersusun cukup rapi. Dalam upacara tersebut, Ketua DPRD Asip Kholbihi dan Kapolres AKBP Aan Suhanan menyampaikan sejumlah pesan kepada masyarakat. Kapolres menyatakan setuju dengan pernyataan tokoh warga Kandangserang bahwa bumi masih bersahabat dengan masyarakat. Kondisi tersebut, menurut dia, karena masyarakat mempunyai konsekuensi menjaga alam. Dia berharap, hal itu bisa dilakukan masyarakat secara terus-menerus. Sesuatu yang Terbaik Sedangkan Bupati Hj Siti Qomariyah mengutarakan, ruwat bumi bisa disamakan dengan sedekah bumi. Ia berharap, masyarakat bisa bersedekah dari sesuatu yang terbaik yang dimiliki. "Menurut kami, kegiatan ini merupakan kegiatan yang baik, sehingga bisa ditradisikan,"ujar dia. Usai upacara ruwat bumi, kegiatan ditutup dengan doa. Warga kemudian berebut hasil bumi yang mereka bawa. Ritual pun kemudian diikuti dengan pemukulan lesung oleh sejumlah perempuan petani di desa itu, sebelum acara terakhir yakni penyembelihan seekor kerbau. Kepala Desa Kandangserang, Risnaini mengatakan, ruwat bumi dilaksanakan rutin setiap tahun. Dua tahun sekali, acara dimeriahkan dengan iring-iringan hasil bumi, dan setiap lima tahun sekali diselenggarakan pertunjukan wayang kulit. Seperti malam ruwat bumi tahun ini, wayang kulit digelar dengan Ki Dalang Ketut Sutikno yang mengusung lakon Wahyu Purbokayun. Dia mengatakan, dari jumlah penduduk 1.470 jiwa yang terbagi dalam 350 KK, sekitar 90 persennya bekerja sebagai petani dan peternak. Ritual ruwat bumi diharapkan bisa memberikan hasil pertanian dan peternakan yang baik pada warganya. Pada kegiatan itu, hasil bumi yang dibawa yakni buah-buahan, padi-padian, palawija, ikan, dan kerbau. Camat Kandangserang, Edi Sutanto menambahkan, dengan hasil pertanian yang baik, bisa meningkatkan kesejahteraan warga yang akhirnya bisa mendukung pengembangan wilayah. Salah seorang warga, Riyati, mengatakan, mata pencaharian dia dan sang suami yakni bertani. Dari hasil bertani padi maupun palawija, dia mengaku bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarga yang beranggotakan empat orang, dengan catatan hasil baik, cukup air dan tidak diserang hama.(S Kholidah-61) |